Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 442: Prediksi


__ADS_3

"BAHASA APA ITU?!" Brock cukup terkejut dengan apa yang terjadi pada Vincent, karena baru pertama kali ia melihat penampilan Vincent seperti ini.


Aura biru terlihat dari sekitaran tubuh rekannya itu, namun anehnya Brock tidak merasakan hawa kekuatannya menguat.


Hal ini cukup aneh, mengingat memang biasanya juga jika penampilan seorang berubah, maka pasti ada hubungannya dengan hawa kekuatan yang berubah juga.


Namun mengapa Brock tidak melihat hal itu pada rekannya ini?


Brock menunjukkan raut wajah yang lega sekaligus heran, ia akan lebih percaya pada rekannya bilamana perubahan auranya ini disertai dengan perubahan kekuatan juga.


'SIAPA PEDULI JUGA JIKA VINCENT HANYA BERGANTI GAYA SAJA?!'


Brock protes dalam hatinya sendiri. Namun pada akhirnya ia juga sudah percaya pada rekannya itu, jadi mau bagaimana lagi?


*


[Prediction Master]


[Ada apa?]


'Jangan tanya ada apa! Lihat saja sendiri kau itu diriku bukan?!'


Batin Vincent langsung protes saat itu juga. Ia pikir ia akan langsung dapat bantuan saat itu juga, namun malah ia ditanyakan oleh kekuatannya sendiri.


[....]


[Ah aku mengerti... kau memanggilku di situasi ini, merepotkan juga....]


‘Maaf jika begitu, tapi sekarang memang gawat.’ Vincent tetap tenang, di saat ini bukan saatnya untuk emosi.


[Sudah berapa lama kau tidak mengajakku ngobrol? Aku kesepian~]


‘Sialan diriku, sejak kapan aku punya sisi feminim seperti itu?!’


Vincent heran akan hal ini, namun faktanya ia memang mendengar dirinya sendiri berkata seperti itu.


‘Bukan saatnya bercanda diriku! Kita bisa mati di sini!’


Vincent berusaha meyakinkan kekuatan dalam dirinya sendiri.


Dan jika ada yang belum sadar, sekarang situasi sekitar seolah terhenti oleh aura biru yang dipancarkan oleh Vincent.


Begitupula dengan serangan bola hitam besar yang mengarah pada mereka sekarang.


Vincent sadar ia masih belum bisa menggunakan kekuatannya dengan penuh, bahkan sikap sok keren tadi hanyalah kedoknya agar ia tetap tenang dan tidak takut dengan apa yang terjadi.


Vincent tidak mau kehilangan tekadnya secara instan, padahal ia sudah bersikap keren pada Danny dan Patricia dan juga Brock. Masakan ia kembali pada sifat aslinya sekarang?


Vincent sangat percaya ia bisa kembali menggunakan kemampuannya lagi setelah sekian lama, tepatnya ketika ia mengalahkan iblis perempuan Tifee.


Padahal ia sendiri tidak merencanakan ini, Vincent begitu yakin dengan kekuatan sihirnya sekarang dan tidak terpikir akan hal lain.


Namun apa daya, serangan sihir api yang sudah lama ia tempa dan latih malah hanya sedikit menggores zirah dari musuh yang sekarang dilawannya.


Jadi cukup jadi kejutan juga ia bisa terpikir menggunakan kekuatan kemampuannya di saat seperti ini dan ternyata berhasil.


‘Kita tidak punya banyak waktu! Kau ingin kita mati? Aku sih nggak mau!’


Vincent jadi terdengar memohon dengan sangat pada batinnya.


[Siapa bilang?]


‘Aku! Terima kasih padamu waktu memang sekarang terhenti, tapi siapa yang tahu apa yang akan terjadi?!’


‘....’

__ADS_1


‘Ah....’


Vincent sadar akan sesuatu, entah mengapa kini ia tidak mengatakan apapun lagi dalam batinnya.


[Aku menunggumu....]


‘....’


‘Sial... kau yang tahu Prediction Master!’


[AHA!]


[Akhirnya kau sadar juga ....]


Vincent melihat ke sekitarnya, sudah beberapa saat ia mengobrol dengan dirinya dalam hatinya, namun situasi sekitar masih terlihat belum berubah juga.


Aura kekuatan birunya masih menyelimuti area sekitarnya. Bahkan di posisinya sekarang Vincent seharusnya bisa sadar apabila ada sesuatu yang berubah di sini.


[Masih mau khawatir?]


Entah mengapa Vincent seperti disadarkan seolah dipojokkam olah dirinya sendiri. Apa yang ia khawatirkan tidak terjadi, atau setidaknya masih belum terjadi.


Vincent sadar juga kemampuannya sendiri adalah melihat masa depan, lantas mengapa ia masih khawatir soal masa depan yang belum dilaluinya?


‘Kau itu bisa saja malfungsi, atau kekuatanmu tiba-tiba menghilang, jangan sombong.’ Vincent mengingatkan dirinya sendiri, lawan yang mereka hadapi itu bukanlah makhluk biasa.


Vincent ingat pertarungannya terdahulu dengan salah satu ras iblis itu, dan memang ia tidak bisa bertahan lama dalam situasi ‘menghentikan’ waktu ini.


Ia harus berdiskusi cepat dengan dirinya sendiri di waktu bersamaan saat menghadapi musuhnya. Itu terasa aneh, namun bukan berarti mudah.


Apalagi Vincent tahu iblis besar ini punya kekuatan sihir yang hebat, mirip dengan Tifee, hanya saja sedikit lebih besar.


‘Kita beruntung bisa selamat dari iblis perempuan itu.’


[Jangan hilangkan harapanmu sendiri]


[Atau kau akan kalah sebelum mencoba]


‘....’


Sekarang Vincent malah mendengar suara motivasi yang hebat, dan ketika mendengarnya, rasa keberanian yang mulai tenggelam itu perlahan naik kembali ke atas.


Vincent sdar apa yang ia dan rekannya hadapi memang bukanlah hal yang biasa dan bahkan terkesan mustahil.


Ia dan Brock hanyalah manusia biasa namun kini berhadapan dengan ras kuat yang sudah jauh di atas mereka.


Namun bukan berarti tidak ada harapan bukan?


‘Brock sudah kehabisan tenaganya demi melindungiku dari sekarangan raksasa zirah hitam itu....’


‘Dia bertahan dan mementingkan temannya sendiri, ajaib juga ia masih bisa bertahan dengan kekuatannya sendiri.’


‘... Karena itulah aku memanggilmu... aku tidak punya apapun lagi....’


‘Seranganku tidak mempan dan kini serangannya bisa kau rasakan kekuatannya bukan?’


‘....’


Vincent tidak lagi didorong oleh rasa buru-buru dan tegang dalam hatinya, ia mengatakan hal sebelumnya dengan tenang, sangat tenang.


[Balas budi dengan menolong kembali Brock?]


‘Aku tidak menyangkalnya.’ Vincent tahu sejauh ini ia memang tidak membuat situasi jadi lebih baik meski memang ia sudah berusaha dengan apa yang dibisanya.


‘Apa artinya latihanku selama ini sia-sia?’

__ADS_1


[Jangan ragukan dirimu. Menggores zirah musuhmu adalah pencapaian besar]


Suara lain dalam dirinya itu seolah ingin menghiburnya.


‘BENARKAH?’ Vincent tidak menyangka akan hal ini, entah ia harus senang atau tidak ketika mendengar perkataan dirinya yang lain ini.


[Tentu saja, jika kau tidak berlatih maka sihirmu akan hilang karena kekuatan besar iblis raksasa yang sedang kau hadapi ini]


[Sudah bagus kau mengenainya dan bahkan bisa menggoresnya]


[Itu bukti latihanmu tidak sia-sia]


Vincent terdiam, ia baru sadar akan hal ini, karena definisi berhasil menurutnya berbeda dengan ‘dirinya’ yang lain.


Jika dilihat dengan mata telanjang maka sudah pasti terlihat kekuatan Vincent tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya, namun pad akhirnya itu bergantung dari pada siapa kekuatannya digunakan.


[Kau sudah jauh lebih kuat]


‘ITU SAJA BELUM CUKUP! TERKADANG ORANG BERBAKAT YANG MELIBAS HABIS ORANG YANG TAK PUNYA APA-APA!’


[Apa yang kau bicarakan?]


Sepertinya ‘dirinya’ yang lain tidak mengerti apa yang dipikirkan Vincent, padahal ia bisa saja menggunakan kata yang lebih sederhana seperti -Orang kuat mengalahkan orang lemah-


Dan memang logika seperti itulah yang berlaku di dunia ini.


[Jadi dengan menyalahkan apa yang ada di hadapanmu akan membuat semuanya jadi baik?]


‘Tidak juga, aku hanya mengatakan mengatakan isi hatiku, lupakan saja.’ Vincent pada akhirnya memang mencoba jujur pada dirinya sendiri.


[Aku sudah mengatakannya bukan?]


‘....’


[Selama tekadmu masih ada, kau bisa melakukan apapun]


‘....’


[Apa aku harus terus mengulangnya?]


‘Tidak... aku paham sekarang.’


‘Aku tidak boleh berhenti keren di sini, aku harus mengakhiri ini dengan gaya.’


[... Baiklah tapi kau tak perlu melakukannya kali ini]


‘HAH?!’


‘KENAPA?! INI ADALAH KESEMPATAN KITA BERSINAR!’


[Kau sudah cukup bersinar dengan mengalahkan Tifee, itu sudah cukup bukan?]


‘TAPI WAKTU ITU....'


[Pahlawan tidak perlu pengakuan bukan? Asalkan dia bertindak benar maka itu sudah cukup]


Vincent terdiam, pada kenyataannya ia memang ingin menunjukkan ke-kerenannya pada yang lain, namun ‘dirinya’ yang lain malah mengatakan hal yang berbeda.


‘... Kalau begitu apa kita akan membiarkan serangan musuh dengan santai?’


[Ini adalah akhirnya, kau tidak perlu melakukan apapun, percayalah pada kekuatanmu dan pada rekanmu]


SYUT!


‘Tunggu dulu!’

__ADS_1


__ADS_2