Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 317: Terus Melangkah


__ADS_3

Danny berusaha beranjak dari pangkuan Patricia, butuh usaha karena badannya terasa lemas meskipun ia sudah kembali sadar, namun akhirnya ia berhasil juga.


"A-aku baik-baik saja." Danny meraba kepalanya sendiri, ia merasa lemas akibat terjadinya hal tidak menyenangkan tadi, namun itu semua sepandan dengan hasilnya; ia berhasil mengusir penjahat yang be-rulah dari dunia ini.


Danny dapat merasa bahwa kedua batu permata mulia sudah kembali di sakunya saat ini, ia melihat rumah yang tadi ia serang dengan energi panas, akhirnya rumah itu sudah tidak lebih dari material bangunan yang bercampur dengan abu.


Tidak lupa juga ia meraba lukanya sendiri, pada bagian sekitar dadanya ia melihat bagian depan dan belakang, sudah tidak terlihat adanya luka di sana, bahkan ia sulit untuk membedakan bagian badan yang tadi luka dengan yang biasa-biasa saja.


Ini artinya kemampuan Patricia tidak hanya menyembuhkan luka saja, melainkan menyamarkan bekas luka juga, ini terlihat kemampuan Patricia begitu hebat kalau dalam soal penyembuhan.


"Danny kamu memang sudah pulih, dan sebenarnya cukup cepat dari yang aku perkirakan sebelumnya, namun karena kehilangan cukup banyak darah maka kamu akan merasa lemas sekarang ini." Patricia memberi tahu alasan mengapa Danny merasa lemas saat ini, dan memang Danny sendiri tahu akan fakta itu, namun kenyataan bahwa dia tidak benar-benar dalam kondisi yang parah setelah menggunakan kekuatan kedua batu permata mulia sekaligus, yang terjadi saat ini tidak seburuk perkiraan awalnya tadi.


"Jadi kamu tidak bisa memaksakan dirimu Danny, atau mungkin tubuhmu akan roboh kembali dan kemungkinan jadi tidak sadarkan diri lagi."


Penjelasan Patricia menjadi semakin jelas saat ini, karena memang benar Danny merasa lemas yang begitu lemas, ia bisa menggerakkan badannya namun kekuatan yang diperlukan lebih dari apa yang seharusnya, membuatnya cepat lelah dari kondisi normalnya.


Memikirkan memang tadi ia cukup banyak kehilangan darah, maka sudah sangat mungkin Danny tidak bisa berjalan seperti pada awalnya, karena memang kakinya akan cepat lemas dan akan terus-terusan meminta istirahat.


"Kau sudah berjuang dengan hebat Danny." Vincent tersenyum, nampak dari raut wajahnya ia sudah tahu semuanya, Danny pula tidak heran akan hal itu, penglihatan Vincent memang benar akan semua kejadian yang ia alami tadi.


"Maafkan aku Vincent, Danny, Patricia karena salahku kalian berada dalam keadaan bahaya seperti ini, semua ini karena kesalahanku." Brock pada akhirnya mengakui kesalahan dari lubuk hatinya dan berharap dapat dimaafkan oleh teman-temannya yang memang kesalahan yang dibuatnya itu memang bisa membahayakan mereka.

__ADS_1


Vincent hanya tersenyum. "Itu bukan salahmu sepenuhnya Brock, aku pun tahu kau pasti akan bersikap seperti itu dan aku juga tidak tahu bagaimana meyakinkanmu dari penjelasan yang kurang serius itu. Jangan terlalu dipikirkan Brock."


"Yang dikatakan Vincent benar Brock, memang kita tidak pernah luput dari salah maka dari itu kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini, yang penting kita semua masih berada dalam kondisi baik-baik saja bukan?" Danny juga tidak menyalahkan Brock juga atas sikapnya tadi, malah ia menyemangati temannya itu bahwa melakukan salah adalah hal yang wajar dilakukan.


"Benar, Tuan Brock tidak perlu menyalahkan diri sendiri, situasi ini memang tidak terduga dan berlangsung cepat sekali, dan berkat Tuan Brock yang membawa air lah yang membuat aku bisa memulihkan Danny dari kondisinya tadi." Patricia mengatakan hal yang tidak jauh berbeda dengan apa yang Danny dan Tuan Vincent katakan, ia mendukung Tuan Brock agar tidak perlu berlarut dalam kesalahannya itu.


"Jadi tidak perlu cemas dan terus merasa bersalah, itu tidak cocok dengan tubuh besarmu itu Brock! Haha!" Vincent melingkarkan tangannya ke bahu pria besar itu, tindakannya terlihat memang bahwa dialah orang terdekat Brock.


Brock tersentuh karena teman-temannya mau untuk memaafkannya atas kesalahannya itu, ia menjadi lebih percaya diri lagi saat ini dan ini merupakan pelajaran baginya agar bisa lebih memercayai temannya itu.


"Apa yang terjadi dengan rumah itu Danny, aku tahu pasti rumah yang telah hancur ini bukanlah rumah biasa." Vincent saat ini penasaran akan apa yang telah terjadi saat ini, ia masih bingung dan butuh penjelasan soal kejadian yang begitu cepat dilihat oleh matanya itu.


Danny yang masih lemas itu tidak mau membiarkan teman-temannya penasaran seperti itu, ia menyiapkan segenap tenaganya itu untuk menjelaskan semua yang ia alami tadi ketika berhadapan dengan penjahat tadi.


Brock, Vincent, dan Patricia mendengarkan dengan serius apa yang Danny ceritakan itu, butuh beberapa waktu sampai Danny selesai menyelesaikan cerita yang tadi ia alami itu.


"Ru-rumah ini hidup dan awalnya adalah seorang penjahat?!" Vincent terkaget mendengar kenyataan yang aneh ini, aura mistis yang ia rasakan ternyata adalah sesosok penunggu yang merupakan penjahat keji.


"Aku juga tidak menyangka." Brock sama kagetnya, namun tidak begitu terlihat jika dilihat dari luar.


"Ini membingungkan." Patricia tidak menyangka sekaligus tidak mengerti akan hal ini, memang ia butuh waktu juga untuk mengerti semua yang telah dijelaskan Danny itu.

__ADS_1


"Su-sudahlah, memang aku telah mengalahkan sosok penunggu rumah yang merupakan penjahat keji ini, dengan kemampuannya itu yang mengendalikan pikiran maka aku dan Patricia dikendalikan, namun di tengah kemampuan penjahat itu aku bisa melawannya dan mengalahkannya namun harus membiarkan luka yang diserangkannya ini sebelum akhirnya aku bisa mengalahkannya. Ini terdengar membingungkan? Aku juga pertama merasa begitu, namun lihat yang paling penting kita semua masih aman dan bersama-sama, itulah yang terpenting." Danny tersenyum, ia sadar akan ada banyak hal yang ia jumpai yang mungkin saja lebih mengejutkan dari ini, maka dari itu ia dan teman-temannya harus bisa membiasakan diri.


Akhirnya Brock, Vincent, dan Patricia mengerti akan apa yang dialami Danny itu, pantas mereka tidak sadar akan kejadian yang begitu cepat itu, ternyata itu adalah kemampuan yang dimiliki penjahat sosok penunggu rumah tidak terawat itu, dan mereka senang Danny bisa melewati semua.


"Dan ...." Danny bingung mau melakukan apa saat ini, memang karena saat ini tubuhnya lemas ia tidak bisa melakukan banyak hal termasuk berjalan dengan lama untuk melanjutkan perjalanannya, di samping itu ia juga tidak mau menghambat teman-temannya dalam perjalanannya sendiri itu.


Brock menawarkan punggungnya, ia sepertinya mau membantu Danny untuk bergerak dari area ini dengan cara menggendongnya.


"Naiklah Danny, kau bilang kita harus cepat singgah ke sebuah desa atau kota bukan? Sepertinya memang kita tidak boleh berhenti di sini."


Danny mengerti dengan apa yang dikatakan Brock, lebih cepat untuk singgah ke dalam keramaian maka itu lebih baik, karena jika tetap di tempat seperti ini maka akan ada kemungkinan munculnya bahaya juga bagi mereka berempat.


Danny merasa akan merepotkan temannya itu, semua ini berlawanan dengan apa yang ia tekadkan sebelumnya, padahal seharusnya ia yang diandalkan teman-temannya.


"Tidak usah merasa direpotkan Danny, toh kau yang mengalahkan musuh dengan semampumu bukan? Jika saat ini kau belum kuat untuk berjalan, maka aku akan menggendongmu." Brock tidak terlihat memaksa Danny, namun sorot matanya terlihat tegas dan mengharapkan Danny memenuhi permintaannya itu.


"Ah ... terima kasih Brock." Danny menyetujui usul Brock, lalu ia pun digendong oleh pria besar itu karena tubuhnya masih lemah.


"Sip! Kau melakukan banyak hal bagus Brock!" Vincent menilai temannya yang terlihat garang itu, namun sebenarnya ia memiliki hati yang lembut dan kepedulian yang tinggi.


Akhirnya mereka berempat meninggalkan tempat itu, dan kembali menyusuri pepohonan dan semak-semak sampai mereka menemukan sebuah tempat di mana ada orang-orang yang berkumpul.

__ADS_1


__ADS_2