Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 180: Sadar


__ADS_3

"Terima kasih atas pesanannya!"


Seseorang nampak telah membeli beberapa daging bakar siap saji, ia telah melakukan pembayaran pada penjual daging itu.


Sang penjual daging bakar itu menyadari pria yang berpakaian tidak biasa itu, pada akhirnya ia bertanya padanya.


"Tunggu sebentar, Anda ini?"


Pria berpakaian rapi dan mewah itu seketika itu juga kaget akan ada yang sadar dengan penampilannya itu seketika itu juga mencari-cari alasan agar jati dirinya tidak terungkap.


"Ahaha, saya hanya pengunjung kota ini, baiklah sampai jumpa pak pedagang ...."


Pria berpakaian bagus itu pergi berlalu, sedangkan sang penjual masih keheranan dan penasaran akan siapa yang sebenarnya telah makan di tempatnya itu.


"Hampir saja ... kupikir tadi akan aman-aman saja jika hanya menyembunyikan auraku saja, jika para warga tahu akan adanya salah satu ksatria suci, maka pastilah akan ada keramaian di sini, hmmm ... tunggu sebentar apa karena penampilanku begitu mencolok ya?"


"Tapi untunglah tidak semua orang menyadarinya, aku tidak mau membuat repot Arthur dan yang lainnya ...."


Pria itu mengelap bekas bumbu daging yang belepotan di sekitaran mulutnya itu. "Ngomong-ngomong makanan tadi benar-benar enak!"


"Tidak sia-sia aku berjalan-jalan di kota ini saat malam hari, nyatanya ini tidak seburuk yang kupikirkan saat pertama kali ...."


"Andai saja Arthur mau berjalan-jalan bersamaku ... haaah ... memangnya dia sibuk apa sih?"


"Mungkin akan lebih menyenangkan bila kita bisa bersama-sama berkeliling kota ini, tapi ya apa boleh buat ...."


"Aku ingin berkeliling sebentar lagi, besok mungkin memang akan ada kompetisi besar, tapi itukan acaranya besok! Bukan sekarang ... mwehehehe aku akan bersantai menikmati suasana kota ini untuk sedikit lebih lama."

__ADS_1


Ternyata tak lain tak bukan pria berpakaian mewah ini adalah Thor, ia belum cukup puas menjelajahi kota ini di siang hari, malam hari tetap ia gas selama dirinya itu masih tertarik.


Suasana malam hari Kota Boston tidak ingin ia lewatkan, setidaknya ia ingin menikmati suasana sebelum akhirnya ia harus fokus untuk kompetisi yang akan diadakan esok hari.


Aku sudah menemui Arthur siang tadi, namun entah mengapa dirinya itu seperti tengah serius dan fokus akan sesuatu.


Memang tidak aneh dia bertingkah seperti itu, namun tetap saja aku kurang suka dengan sikap dinginnya itu.


Thor menghela nafasnya, terlihat sedikit uap keluar dari sekitaran mulutnya yang menandakan memang suhu di luar sini cukup dingin.


Malam tidak berhenti di waktu yang sama, dia tetap berjalan, semakin larut dan larut.


Namun berkat baju mantel mewah berbulunya itu ia tidak begitu terganggu dengan suhu yang mulai dingin ini, ia masih bisa berjalan-jalan disekitaran kota ini dengan leluasa.


Aku sama sekali tidak dapat percaya mengapa dia begitu populer di atara para gadis, hmmm mungkin saja mereka tidak pernah melihat sisi Arthur yang dingin itu.


Setidaknya Hellen masih bersikap baik padaku, haaah ... mengapa aku malah terpikir dengannya ya saat ini?


Seringkali aku iri pada Arthur, namun setiap kali aku mengutarakan perkataanku yang agak pedas, ia hanya menganggap semuanya hanya bercanda saja ... hal itu cukup baik sih, lagipula aku tidak mau menyinggung sahabatku sendiri.


Lagipula sifat dinginnya itu tidak selamanya ada di dalam dirinya itu, hanya muncul di kondisi tertentu saja, setidaknya itulah yang bisa kuketahui sampai saat ini.


Aku tidak berani menanyakan hal tentang sifatnya itu, entah mengapa raut muka seriusnya memberi sinyal bagiku agar aku tidak bicara banyak dengannya.


Sebenarnya aku lebih suka Arthur yang baik hati dan tidak sombong, yah setidaknya mengingat sisi baik Arthur akan sedikit melupakanku terhadap sisi dinginnya kali ini.


Aku hanya bisa berharap agar sikap dinginnya itu tidak menguasai dirinya sepenuhnya ... aku sama sekali tidak bisa membayangkan apa jadinya Arthur yang dingin itu di mata masyarakat luas, aku sendiri yakin Arthur tidak mau sikapnya yang satu itu tersebar kemana-mana.

__ADS_1


Arthur yang baik hati dan tidak sombong, sang ksatria suci dari barat, mungkin saja julukan itu bisa luntur hanya karena sikap tersembunyinya itu.


Jika lebih kupikirkan saat ini, sikap dingin Arthur bukanlah sikap dingin biasa, entah mengapa aura intimidasi dan penaklukan sangat terasa jelas padanya, aku sendiri pun tidak nyaman bila terus-terusan menatap mimik mukanya yang penuh dengan ambisi itu.


Seakan aku sedang melihat Arthur yang 'lain' bila sikap dinginnya itu muncul dari dalam dirinya itu.


Apa yang seharusnya kulakukan sebagai sahabatnya itu ya? Kurasa yang terbaik sekarang adalah untuk tetap mengawasinya ... tunggu, aku sama sekali tidak curiga padanya ... hanya saja aku harus memberi perhatian lebih saat ia bersikap seperti itu.


Maksudnya adalah, jika Arthur tetap dalam sikap dinginnya itu aku tidak bisa membayangkan bila dia bertindak apa yang dirinya mau, kalau sudah begitu siapa yang dapat menghentikannya?


Tunggu ... mungkin saja ... sikap Arthur ini ada hubungannya dengan kompetisi kali ini? Apa yang sebenarnya ia rencanakan kali ini?


Ya ... dugaanku tiba-tiba mengarah ke sana, alasannya sederhana, kami berdua datang kemari untuk mengadakan suatu kompetisi, hanya saja sikap Arthur berubah seiring dengan akan diadakannya kompetisi ini.


Meskipun ini hanya dugaanku aja, setidaknya jika memang benar, maka aku harus bisa mengetahui apa yang sebenarnya ia rencanakan di balik acara ini.


Arthur adalah seorang ksatria yang pintar sekaligus kuat, aku tidak meragukan apapun dari padanya, namun aku percaya tidak ada yang sempurna di dunia ini, begitupula dengan Arthur, aku harus lebih mengawasinya!


Aku tahu betul sikap Arthur bagaimana, karena memang dari dulu kita sudah bersama-sama, setidaknya dengan berbagai hal yang kualami dengannya itu aku bisa lebih mengerti dengan sikapnya yang sebenarnya.


Meskipin begitu aku tidak boleh memposisikan diriku sebagai orang yang tahu segalanya tentang dirinya ... malahan dengan melihat sifatnya saat ini, hanya membuat seolah-olah aku hanyalah orang asing baginya.


Benar sekali, aku harus mengawasinya, menemukan tujuan sebenarnya dibalik kompetisi yang diadakan ini, aku tidak mau hal-hal lain yang tidak berhubungan dengan kompetisi ini terjadi.


Setidaknya aku tahu perasaan orang-orang yang telah susah payah datang kemari hanya untuk mengikuti kompetisi itu.


Bahkan saat aku bertemu dengan pria keriting itu mendengar ceritanya sekaligus banyaknya orang bersamanya itu, mungkin ada banyak juga petualang lain yang seperti mereka. Kalau begitu ... ya benar ... aku harus mengawasi dengan baik jalannya kompetisi yang akan berjalan esok hari dan yang terpenting juga aku akan mengawasi Arthur!

__ADS_1


Arthur apa yang sebenarnya kau rencanakan?


__ADS_2