Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 203: Sebuah Keputusan


__ADS_3

Pagi hari yang berikutnya menyambut setiap orang di sel ini, hanya saja di sel yang ditempati oleh Kibo, nampaknya matahari tidak mampu untuk mengucapkan salam paginya.


Suasana suram tanpa cahaya yang berarti selalu ada di ruangan sel ini, apalagi saat malam hari bahkan ketika siang hari suasana tidak terlalu jauh berubah.


"Tu-tuan ...."


Suara yang ia kenal terdengar pada gendang telinganya yang membuat pria keriting itu bangun dari tidurnya.


Pandangannya masih kabur, entah sudah berapa banyak air yang ia keluarkan dari matanya itu, saat ini ia butuh waktu untuk melihat siapa yang sebenarnya memanggil dirinya itu.


Tak butuh berapa lama akhirnya pandangan Kibo berangsur-angsur normal kembali, seketika itu juga yang ia lihat adalah segerombol pria besar yang tidak asing bagi dirinya.


"Ka-kalian?"


Seluruh anggota Alliance Fight's sudah berada di sel ini saat ini, Kibo baru sadar satu hari setelah ia mendekam di sel ini.


Melihat semua anggotanya itu membuat Kibo merasa heran mengapa mereka tidak melarikan diri saja dari sini?

__ADS_1


"Kalian? Mengapa kalian tidak lari saja? Mengapa kalian berada di sini?"


Salah satu pria besar di sana menjawab, "Pada awalnya kami senang ketika Tuan Kibo berencana untuk mengambil uang hadiah kompetisi itu, hanya saja Tuan tidak kunjung kembali dan hal itu membuat kami semua khawatir. Tak berselang lama, sekitar tengah malam kami ditangkap dengan alasan kelompok kita tidak memiliki izin dan sekaligus menjelaskan bahwa mereka telah menangkap Tuan Kibo, maka dari itu untuk lebih memastikannya kami menyerahkan diri kepada para prajurit itu demi bertemu kembali dengan Tuan Kibo ...."


Penjelasan yang cukup panjang menjawab pertanyaan sang pria keriting, namun tidak semua pertanyaannya terjawab.


"Mengapa kalian tidak melarikan diri saja?" tanya pria keriting itu untuk kedua kalinya.


Matanya terlihat sayu, rambutnya keritingnya itu acak-acakan jika dilihat dengan seksama, penampilannya benar-benar memberikan kesan keputusaasaan bagi dirinya itu.


"Apa?! Apa Tuan bercanda? Kami tidak mungkin melakukan hal itu!" jelas salah satu pria besar yang pertama berbicara padanya itu.


"...."


Kibo menatap dengan jelas, memang benar semua anggotanya berada di sini, semua tatapannya sama ... tatapan sedih dan mengasihani dirinya.


Kibo berusaha berdiri meskipun terasa lemas, ia berusaha untuk melakukan hal itu, ikatan rantai besi yang mengikat kedua tangan dan kakinya itu membuat susah untuk berdiri, memberikan beban yang berlebih pada pria keriting itu.

__ADS_1


"Tu-tuan ...."


Salah satu pria besar itu hendak membantu Kibo, namun apa daya, keadaannya tidak berbeda dari tuannya itu, mereka semua dirantai dengan besi pada kedua tangan dan kaki mereka.


Setelah selesai berdiri, Kibo menghela nafasnya, ia hendak mengatakan sesuatu pada mereka semua.


"Apakah kalian tidak ingin selamat?! Untuk apa kalian pergi bersama denganku kalau tahu bahwa kita akan dihukum?!"


Nada emosi tinggi keluar dari mulut Kibo, ia benar-benar tidak habis pikir mengapa anggotanya itu melakukan hal yang gegabah seperti ini.


"Aku ... aku ingin keluar dari sini ... aku ingin agar kita bertemu diluar ... bukan di sini ...."


Para pria besar di sana terdiam melihat emosi yang begitu dalam dari pemimpinnya itu.


Kibo tersungkur jatuh ke bawah. "Jika memang kita tidak bisa bertemu kembali, harusnya kalian melarikan diri saja ... tidak perlu menyerahkan diri seperti ini ...."


"Apakah kalian tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita sudah dicap sebagai penjahat kelas atas ... kita bahkan tidak bisa menjamin hidup kita di sini ...."

__ADS_1


"Semua yang kita lakukan ini sia-sia! Semua perjuangan ... semua harapan ... semuanya sia-sia!"


__ADS_2