
Kini mereka kembali maju bersamaan dan terus menerus kembali beradu pukul di arena itu, entah berapa lama lagi arena itu dapat bertahan karena ulah mereka.
Dari sini terlihat bahwa Danny sudah mulai kewalahan dalam menghadapi Brock, begitupula sebaliknya. Keduanya seakan tidak mempedulikan kondisi mereka yang lambat laun mulai terbebani.
"Kuat sekali!"
Setiap pukulan membawa beban berat, batin Danny mulai berteriak. Kekuatannya benar-benar tidak terduga
Brock yang entah kenapa malah semakin menikmati pertarungan ini, meskipun tubuhnya ikut babak belur sedikit demi sedikit.
Terlihat memang yang dalam pikiran Brock hanyalah pertarungan, itu benar-benar membuat Danny kesal.
Dah akhirnya Danny mendapat celah untuk memukul mundur Brock.
"Ini untuk Hendrik!" teriak Danny serta merta memukulkan kepalanya sendiri kepada Brock.
Pertahanan Brock runtuh, ia tidak bisa lagi untuk menahan tubuhnya yang besar itu.
Akhirnya pria besar itu tumbang, Danny tidak melewatkan kesempatan sedikitpun untuk membuatnya tetap berada di tanah.
Ia langsung mengunci Brock sembari memukul wajahnya dengan keras, mulanya memang Brock dapat menahannya, namun pukulan yang diarahkan padanya semakin lama semakin keras, dan membuat pertahan Brock benar-benar longgar dan akhirnya ia hanya dapat menahannya dengan wajahnya sendiri.
"Kau tahu Brock, kau mungkin yang terkuat.."
"Tapi kau lupa akan satu hal..."
"Kekuatan tidak akan pernah bisa memuaskanmu.."
Danny memukul Wajah Brock terus-terusan, ia seakan tidak peduli pada wajahnya yang semakin lama semakin parah.
BUK!
BUK!
BUK!
__ADS_1
BUK!
"Danny...?"
"!"
Danny mendengar suara kecil yang memanggilnya.
"Hen...drik?"
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Danny kemudian tersadar, ia segera menghentikan rentetan pukulan yang ia lakukan itu, melihat tangannya yang sudah biru bercampur percikan darah.
"Apa....yang.. kau...lakukan...disini?"
"..."
Danny melihat Brock, ia sudah babak belur, tidak mampu lagi untuk bertarung, sepertinya dia pingsan.
Danny kemudian menghampiri Hendrik yang berada disisi tembok arena itu, meninggalkan Brock yang terkapar di tengah arena..
".....Uukh..." Hendrik berusaha untuk menahan rasa sakitnya itu.
"Uhuk...!" Hendrik mengeluarkan batuk darah
"Ya ampun... Kau harus segera ke pusat kesehatan!"
"Tu..tunggu..."
"Kau.. masih belum menjawab pertanyaanku..."
"..."
Danny menjelaskan alasan dirinya datang kemari.
__ADS_1
"Kau...seharusnya...tidak...usah datang..."
"..."
"Aku.. tahu ini bukanlah urusanku.. tapi.. aku ingin membantumu..."
"Tujuanku kesini adalah untuk memastikan keselamatanmu..."
"Tapi kau tahu sendiri Brock tidak akan membiarkan itu.."
"Maka dari ini... Aku bersyukur bisa menghentikannya.."
Hendrik melihat kondisi Danny yang tidak juga dalam keadaan baik.
"Kau sampai... begitu pedulinya...terhadapku..."
"Padahal.. kita baru saja bertemu..."
Danny tersenyum.
"Aku lebih kagum pada kebaikanmu Hendrik.."
"..."
"Mari kita pergi ke pusat kesehatan.."
"Bagaimana dengan Brock?"
"Nanti jika kita bertemu penjaga kota, kita minta tolong buat membawa Brock ke pusat kesehatan.."
"Bagaimana jika mereka tidak mau?" tanya Hendrik
"Brock sekarang sudah tidak berdaya, meskipun tubuhnya sekuat apapun, ia tetap membutuhkan perawatan..."
"Baiklah..." ucap Hendrik setuju
__ADS_1
Akhirnya dengan berjalan tertatih-tatih mereka membantu satu sama lain, serata melaporkan kejadian pada penjaga, awalnya penjaga tersebut enggan namun setelah diberi penjelasan akhirnya penjaga tersebut mau untuk membantu Brock untuk menjalani perawatan di pusat kesehatan.
Akhirnya mereka bertiga yaitu, Danny, Hendrik, serta Brock berada di kamar perawatan yang sama, mereka harus menjalani perawatan selama berhari-hari guna memulihkan kondisi mereka.