Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 169: Jalan Terakhir


__ADS_3

Para pria besar di sana bertatap-tatapan satu sama lain, mereka masih belum percaya dengan apa yang mereka dengar tadi.


"Maksud Tuan?"


Mereka memastikan perkataan tuannya itu dengan menanyakannya sekali lagi, namun jawaban Kibo masih tetap sama.


"Tidak ada cara lain lagi, kalian harus mengeluarkan kakiku dengan cara paksa, potonglah pergelangan kaki kananku ...."


"?!"


Sontak semua pria besar di sana terkaget karena mendengar apa yang dikatakan tuannya itu, mereka tidak mengira pemimpinnya akan berbuat sejauh itu hanya agar mereka tidak terlambat.


Para pria besar itu mulai mengeluarkan opini mereka dengan nada yang sedikit tinggi.


"Ti-tidak! Jangan begitu Tuan, pasti ada cara lain!"


"Y-ya! Pasti ... kita akan temukan cara lain, Tuan tidak perlu melakukan hal yang mengerikan seperti itu!"


"Kami benar-benar tidak setuju akan perintah itu!"


Kibo tidak terkejut mendengar mereka menolak permintaannya itu, memang ia sudah menduga ini dari awal, mereka pasti tidak menyutujuinya.


Namun dengan waktu yang makin menipis, apa yang hendak dilakukan di saat seperti ini? Dengan berbagai usaha yang telah dilakukan namun masih belum juga terlihat hasilnya.


Apakah sekarang saatnya untuk menyalahkan diri sendiri? Bagaimana dengan tindakan ceroboh Kibo hingga pada akhirnya membuat seluruh anggota jadi kerepotan? Dapatkah ia disalahkan karena kejadian ini?


Pikiran demi pikiran kini bercampur aduk di dalam benak Kibo, pada akhirnya karena tindakan cerobohnya itu semuanya menjadi tidak sesuai rencana atau dalam bahasa kasarnya—rencana mereka telah berantakan!


Ia merasa bersalah karena telah menghambat perjalanan yang memang mengharuskan mereka untuk bergerak cepat.


Kibo lebih menghargai akan tujuan awal mereka itu, sudah sejauh ini, dirinya tidak tega bila satu langkah terakhir untuk mencapai tujuan mereka harus terhenti karena dirinya.


Kibo masih terdiam, ia tengah berperang di dalam pemikirannya sendiri, perasaan dimana sudah tidak ada cara lain agar bisa mengikuti kompetisi selain melepaskannya dengan cara yang telah disebutkan tadi, namun jujur saja siapa yang tidak takut bila memutuskan hal yang buruk bagi diri sendiri?


Tidak ada yang ingin melakukan hal buruk pada dirinya sendiri, Kibo sendiri bukan tidak takut mengatakan hal tadi, ia hanya ingin bertanggung jawab menanggung konsekuensi bahwa inilah yang harus dilakukannya karena kesalahannya itu.


"Tuan! Kami tidak bisa menerima hal ini, pasti ada cara lain!"

__ADS_1


"...."


"Tidak ada cara lain," gumam Kibo.


"!"


"A-apa Tuan berpikir kompetisi itu lebih penting dibanding dengan diri Tuan sendiri?!"


Kibo menoleh pada salah satu pria besar yang berkata seperti itu padanya, raut wajah serius sangat terlihat dari pria besar itu.


" ... Kami lebih mementingkan Tuan dibanding dengan kompetisi itu!" seru pria besar itu, lalu disahut dengan para anggota yang ada di sana.


"Yaa!"


"Kami tidak akan meninggalkan Tuan!"


Kibo hanya bisa terdiam, di satu sisi dia merasa senang karena mereka begitu mempedulikan dirinya, di sisi lain ia juga tidak mau mengacaukan rencana yang dari awal telah mereka susun.


"Ini adalah perintah ...." Nada bicara Kibo menjadi dalam saat ini, membuat riuhan semangat yang diberikan padanya nampak sia-sia karena dia belum mengubah pemikirannya juga.


Para pria besar anggota Alliance Fight's hanya bisa terdiam mendengar begitu kuatnya tekad dari pemimpinnya itu, dan nampak mereka masih diam tanpa berani lagi untuk membantah perintah tuannya itu.


"Aku menghargai perhatian yang kalian berikan padaku, namun ini adalah kesalahanku sendiri. Kalian tidak perlu merasa bertanggung jawab seperti itu," ujar Kibo pelan.


"Karena kesalahanku inilah yang membuat perjalanan kita terhambat, dan kalian telah berusaha semampu kalian untuk mengeluarkan kakiku ini ...."


"Namun pada akhirnya tidak ada cara yang mampu mengeluarkanku selain cara terakhir yang telah kupikirkan tadi ...."


"Apapun yang terjadi kita harus mengemban tujuan awal kita yaitu untuk memgikuti kompetisi di dekat kerajaan barat, dan aku mau mengingatkan kalian bahwa perjalanan kita belum selesai di sini."


Para anggota Alliance Fight's sedang berusaha untuk menerima apa yang diungkapkan oleh pemimpinnya itu meskipun terasa berat.


Namun penjelasan pemimpinnya itu masih belum berakhir.


"Tak apa— tidak perlu khawatir, rasa sakit yang akan kuderita nanti akan segera hilang, jika kita tidak segera melakukannya maka yang ada kita tidak bisa mengikuti kompetisi dan ditambah dengan aku dan kalian akan terjebak di sini tanpa ada kepastian kapan bisa keluar ...."


Kibo hanya bisa membuat pilihan terakhir yang terlihat amat buruk baginya, namun selagi itu bisa menjadi pilihan, dia tidak keberatan akan hal itu.

__ADS_1


Para anggota yang lain masih terdiam, mereka nampak tidak bisa mengatakan apapun untuk membalas perkataan dari pemimpinnya itu.


Kibo segera merogoh saku bagian bawah celana kanannya, ia rasa menyimpan sebuah pisau kecil di sana.


Namun setelah beberapa saat, ia tidak pula menemukan pisau kecil itu.


Ti-tidak ada ....


Mungkinkah terjatuh?


Kibo akhirnya berbicara pada salah seorang pria besar itu.


"Hei, tolong lakukan apa yang tadi aku perintahkan itu sekarang, aku tidak dapat melakukan itu sendiri, pisauku hilang," pinta Kibo pada pria besar yang ia ajak bicara itu.


Pria besar anggota Alliance Fight's itu pun sedikit terkaget, ia kemudian mendekati tuannya, sembari merogoh saku celana petualang bagian kanannya itu, kemudian pisau kecil itu pun sudah berada di genggamannya sekarang.


Kibo kemudian berjongkok, diikuti dengan pria besar itu.


"Kau tau kan apa yang harus kau lakukan?" tanya Kibo padanya.


Mata pria besar itu masih terlihat ragu-ragu, meskipun ia tahu bahwa tindakan ini adalah sesuatu yang akan membuat pemimpinnya itu akan tersakit-sakit, namun pada akhirnya perintah seorang atasannya tidak bisa ia tolak.


Sang Pria besar mengangguk pelan, perlahan ia memotong dahulu celana panjang coklat tuannya itu sampai kira-kira selutut, dan bisa ia lihat kaki kanan Tuannya itu mulai ada bercak biru sampai ke atas, sepertinya karena tertekan karena celah batu sempit itu, sedangkan dibagian bawah dekat pergelangan kaki kanannya itu ada darah yang keluar, dapat dipastikan itu karena berbagai cara yang telah dicoba tadi belum mebuahkan hasil namun yang terjadi malah makin buruk.


Kini para anggota yang lainnya memerhatikan dengan seksama Tuannya itu meskipun mereka tahu bahwa Tuannya itu akan segera kehilangan pergelangan kaki kanannya itu.


Pria besar itu memegang kaki kanan Kibo dengan pisau kecil yang berada di tangan kanannya itu, membuat Kibo sedikit meringis kesakitan.


Pria besar itu menatap Kibo masih dengan perasaan khawatir dan tidak tega, namun Kibo menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia boleh segera melakukannya.


Pisau kecil itu perlahan mendekati pergelangan kaki kanan Kibo yang sedikit berdarah itu.


Dan pisau itu semakin dekat, dan semakin dekat hampir menyentuh kulit dari kaki Kibo, ia mempersiapkan mental untuk menghadapi apa yamg terjadi selanjutnya.


Bahkan beberapa diantara pria besar itu ada yang memalingkan pandangannya dari proses pelepasan kaki pemimpinnya itu, mereka tidak tega melihat hal seperti ini.


Kibo melihat pisau kecil itu benar-benar bening, ia bahkan dapat merasakan begitu tajamnya pisau itu sebelum pisaunya benar-benar menyentuh dagingnya itu.

__ADS_1


"Uukh ...."


__ADS_2