
Danny akhirnya bisa kembali melanjutkan perjalanan setelah mengunjungi sang Raja, kini ia perlu untuk mencari kedua batu permata mulia yang tersisa untuk menuntaskan misinya itu.
Batu permata mulia sihir berwarna ungu dan batu permata mulia regenerasi berwarna hijau kini menjadi tujuan utama Danny, dengan mendapatkan kedua batu itu Danny akhirnya bisa menyelesaikan misi yang diberikan oleh Sophia, si penjaga hutan sihir.
Danny sedang melihat-lihat suasana pusat kota, suasana sudah tidak lagi tegang pasca penyerangan Forhan ke tempat ini, kini para warga sudah mulai kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing.
"Danny sekarang kita akan ke mana?" Patricia penasaran akan pergi ke daerah mana lagi.
Danny mencoba untuk berpikir, dan pada akhirnya ia belum juga mendapat ilham soal di mana lagi batu permata mulia yang lain bisa ditemukan.
Pasti ada suatu hal yang bisa menjadi petunjuk baginya dalam menemukan batu permata mulia yang tersisa, mengingat Danny sekarang sudah memiliki ke-tiganya, maka harusnya pencarian pemegang batu permata mulia jadi lebih mudah.
Melihat Danny yang terdiam membuat Vincent akhirnya angkat bicara. "Heh Danny tenang saja, tidak perlu terburu-buru bagaimana pun juga— eh tunggu sejak kapan ada lubang di bawah kaki kita?"
Vincent baru sadar akan di bawah kakinya itu ada lubang yang cukup besar, Brock, Patricia dan Danny pun termasuk ke dalam lubang itu.
"Apa yang kau mak—hryaaaahhh!!!" Brock belum juga menyelesaikan ucapannya namun tidak ada orang yang mampu melayang dan pada akhirnya pria besar itu dan ke-tiga temannya jatuh tepat ke lubang yang tiba-tiba muncul itu.
Tidak ada yang tahu kapan lubang yang misterius ada dan tiba-tiba membuat Danny dan teman-temannya terjatuh seketika itu juga.
Sementara Danny, Patricia, Brock dan Vincent terjatuh ke lubang misterius yang entah darimana datangnya di tengah kota, lubang berwarna hitam keunguan tiba-tiba hilang kembali seolah tidak ada yang aneh, orang-orang pun tidak sadar akan kemunculan lubang itu apalagi orang-orang yang terjatuh karenanya.
Danny dan teman-temannya melayang terjatuh di ruang hitam keunguan, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba ada lubang dan terlebih lagi mengapa setelah mereka jatuh, tanda-tanda dasar lubang ini belum juga terlihat.
"Astaga!" Tidak ada hal lain yang kini menyerang Vincent selain kepanikan, ia benar-benar tidak tahu menahu dan merasa mual dan takut saat terjatuh ke ruang lubang keunguan ini.
Patricia, seorang perempuan yang seharusnya takut dengan hal yang tidak terduga seperti ini malah terlihat santai dan menikmati dirinya yang sedang terjun bebas di ruang tanpa dasar.
Ia melebarkan tangannya menikmati setiap detik dari momen jatuhnya ini, melihat gadis itu Vincent dan Brock jadi keheranan dibuatnya.
Beberapa saat berlalu pun Danny dan yang lainnya masih terjun bebas di ruang beraura ungu ini, seakan-akan memang mereka sama sekali tidak akan mencapai dasar.
__ADS_1
"Tetap tenang semuanya!" Danny berteriak cukup keras dan mencoba untuk tetap berkumpul bersama dengan temannya, ia tidak mau ada yang terpisah karena kejatuhan ini.
"Huek!" Vincent sepertinya mulai tidak bisa kompromi lagi setelah hampir setengah jam terjatuh, atau lebih tepatnya melayang jatuh di tempat tak berdasar beraura ungu ini.
"VINCENT APAPUN YANG TERJADI, KUMOHON APAPUN BOLEH ASAL JANGAN ISI PERUTMU YANG KELUAR!" Brock memberi peringatan keras pada temannya itu, pasalnya ia sendiri sudah cukup mual dan melihat hal yang menjijikan seperti muntah maka itu cukup untuk membuatnya menguarkan hal yang sama.
Vincent mendengar perkataan temannya itu, ia menutup mulutnya dengan harapan rasa mualnya itu akan menghilang, ia menjadi penasaran mengapa situasi ini tetap saja seperti ini?
"VINCENT KAU INI PRIA JANGAN KALAH OLEH HAL SEPERTI INI!" Danny pun tidak ketinggalan menyemangati temannya itu, ia tidak mau teman-temannya itu menjadi lemah karena ada hal yang aneh seperti ini.
"AHAH- AKU PASTI BISA KAN— BRUHH!" Vincent tidak sempat menyelesaikan perkatannya, ia mendarat tepat dengan wajahnya di tanah, ruang hitam keunguan itu akhirnya ada dasarnya juga.
"Huf!"
Tap.
Patricia menyadari akan hal ini dan mendarat dengan sempurna. "Aaah~ sudah selesai? Padahal tadi seru sekali." Hatinya senang dan berbunga-bunga mendapatkan pengalaman terjun bebas selama setengah jam yang bagi teman-temannya yang lain merupakan tantangan yang berat.
Brugh!
"Ugh ...." Danny kemudian mengangkat badannya dan melihat sekitarnya, dan ia sama sekali baru melihat pemandangan seperti ini.
"W-O-W." Vincent juga terpana dengan apa yang ia lihat, sungguhlah ia baru pertama kali melihat hal yang aneh seperti ini.
"Kau tidak perlu mengejanya Vincent, W ...o ...w ...." Ekspresi Brock tidak jauh berbeda dibandingkan yang lainnya, pria besar ini terkesan dengan apa yang dilihatnya.
"Danny di mana ini?" Patricia tidak mengenal tempat yang sedang ia lihat, ia penasaran sekaligus bertanya-tanya mengenai pemandangan ini.
"Entahlah." Hanya satu kata singkat yang sama sekali tidak mampu menjawab rasa penasaran teman-temannya yang diutarakan Danny.
Danny dan yang lainnya kini sedang berdiri di sebuah tempat, dengan tanah luas lebih mirip seperti bukit, dan banyak tanah yang dihubungkan dengan jembatan kayu kecil, di bawahnya ada semacam air berwarna biru, atau mungkin bukan air melainkan api yang terlalu panas sehingga berwatna biru seperti itu.
__ADS_1
Di atas di tempat mereka terjatuh sudah tidak ada lagi lubang, sudah menghilang entah ke mana, kini yang mereka lihat di atas hanyalah langit-langit tanah yang luas yang terkadang bebatuan kecil hingga besar pun jatuh ke bawah ke sekumpulan besar api berwarna biru di bawah.
"Bukankah ini sedikit ... mengerikan?" Vincent menjaga agar dirinya tidak terlalu melihat ke bawah, pasalnya jika ia melihat ke bawah maka imajinasinya yang luas akan membawanya membayangkan akan apa jadinya jika ia jatuh ke bawah tercebur di atas api yang begitu panas.
Tempat yang begitu aneh dan misterius kini ada bagi sekelompok petualang itu, sebuah tempat antah berantah dan sama sekali tidak terlihat tempat yang biasa yang bisa dilihat di Hello.
"Mungkinkah aku masih merasa pusing dan akhirnya membayangkan tempat aneh seperti ini?" Vincent tidak percaya apa yang pertama kali dilihatnya itu, apakah ada kemungkinan imajinasinya yang liar itu membentuk tempat aneh seperti ini?
"Jika kau sebegitu tidak yakinnya akan apa yang kau lihat, mengapa tidak seperti orang lain menampar dirimu sendiri atau mencubit dengan keras?" Brock memberikan solusi yang umum yang memang bisa dilakukan oleh pria berambut sebahu itu.
"Apakah aku akan tertipu dengan itu Brock? Hah! Aku tidak mau menyakiti wajah tampan atau kulit yang mulus ini! Nantinya para gadis jauh dariku!" Vincent menolak pinggangnya sambil sedikit tertawa, ia tidak mau lagi menuruti solusi menjebak dari temannya itu.
Danny melihat sekitaran area yang baru saja dilihatnya itu, sungguh ia merasa tempat ini misterus dan membawa rasa penasaran tersendiri, namun sejauh mata memandang tidak ada hal lain yang ada selain apa yang pertama kali mereka lihat di awal.
"Mungkinkah ini jebakan musuh?!" Vincent terpikir hal lain yang memang bisa jadi adalah yang sebenarnya terjadi.
"Benarkah?!" Patricia ikut kaget dan akhirnya menjadi waspada.
Danny tidak bisa menyangkal kemungkinan itu. "Sekarang ini kita tidak tahu apa-apa tentang mengapa kita bisa sampai ke tempat ini, atau pun mengenai tempat apa ini sebenarnya."
Danny belum bisa mengambil kesimpulan yang terlalu awal, ia sendiri memang penuh pertanyaan dari awal yang ia yakin teman-temannya pun pastinya memikirkan hal ini.
"Sementara ini kita tidak tahu jalan keluar dari tempat ini, tetaplah bersama jangan terpisah!" Danny tidak tahu kemungkinan apa lagi yang bisa terjadi di tempat yang aneh seperti ini, tetap bersama adalah pilihan yang mutlak yang harus dilakukan.
"Ay! ay! Danny!" Vincent setuju dengan pemimpinnya itu.
"Danny, lihat apakah kau melihat sesuatu di sana?" Brock menunjuk ke arah langit-langit, yang di sana tiba-tiba muncul gelombang hitam keunguan, mirip seperti ruang tempat di mana mereka terjatuh selama setengah jam tanpa henti.
"Oh kau benar Brock, mengapa ada sesuatu di sana?"
Gelombang keunguan itu kemudian membesar membuat cahaya yang menyilaukan seluruh area ini.
__ADS_1
"Ugh." Danny menutupi matanya karena silau cahaya itu benar-benar menganggu penglihatan.
Sssriiiinggg!!!