
Patricia akhirnya mulai dapat merasakan di dalam dirinya muncul sebuah 'nada' atau kesamaan yang juga terdapat pada elemen sihir angin miliknya itu, ia merasa seakan ia mulai bisa merasakan hilir angin merasuk kedalam dirinya sendiri.
Kakek Leith hanya duduk dipinggiran dudukan kecil depan rumahnya sambil minum teh sembari memperhatikan Patricia yang masih melatih kefokusannya itu, ia sangat mengapresiasi semangat anak didiknya itu, terlihat sekali memang dia tidak main-main dalam latihannya itu.
Sudah empat jam berlalu, kini hanya tersisa satu jam terakhir, kemajuan yang diperlihatkan Patricia memang bagus, namun bagaimana dengan Danny?
Kakek Leith sebenarnya telah merasakan hal yang tidak enak, bahwa Danny ternyata kewalahan dalam latihannya itu, tidak heran bahwa Danny sangat ingin keluar dari sana. Namun Kakek Leith tidak dapat berbuat apa-apa selain menunggu satu jam lagi.
Suhu panas yang bisa dihasilkan ruangan itu adalah sampai seratus derajat celcius, dan itu bukanlah merupakan suhu maksimalnya namun dari awal tidak langsung sampai angka tadi, melainkan beranjak naik dari suhu normal tiga puluh derajat celcius.
Kakek Leith bisa menilai suhu yang harus ditahan Danny mencapai delapan puluh derajat Celcius yang akan terus-terusan menerpa tubuhnya itu.
Tidakkah ini terlalu berlebihan? namun ternyata hal ini diperlukan untuk menguji daya tahan tubuh Danny terutama pada Fisiknya itu.
Akhirnya tengah haripun tiba, Patricia telah berhasil menyelesaikan latihan pertamanya, dan ia kemudian beristirahat bersama dengan Kakek Leith, namun Danny tak kunjung keluar juga setelah lima belas menit berlalu.
"Kek, Danny kemana? kok dia tidak istirahat bersama kita?" tanya Patricia, Kakek Leith mulai mencurigai apa yang terjadi diruangan bawah tanahnya itu, mungkinkah?
Akhirnya dengan bergegas, Kakek Leith segera berlari menuju ke belakang halamannya, Patricia yang heran mengapa tiba-tiba Kakek Leith berlari lalu ia memutuskan untuk mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai dia merasakan aura panas disekitaran ruangan itu, Kakek Leith membuka ruangan itu, seketika itu juga asap muncul dari sana.
"Danny! Danny!" Kakek Leith berteriak untuk memanggil Danny, namun yang ia temukan ialah Danny yang tengah tergeletak tak berdaya disana dengan sekujur tubuh berwarna merah, nampaknya itu sebagian dari darahnya sendiri akibat panas berlebih dari ruangan itu.
Terpaksa Kakek Leith harus menyeret Danny keluar dari sana, karena memang Danny tidak sadarkan diri.
Setelah sampai diatas, Kakek Leith kembali menutup ruangan bawah tanah itu. Ia meletakkan Danny di rerumputan hijau, bahkan rumputnya itu pun ikut hangus terbakar karena tubuh Danny yang masih memancarkan panas.
Patricia tidak menyangka kondisi Danny akan seperti itu, ia nampak seperti pria yang telah terpanggang masak, ini terlihat mengerikan baginya, tubuh merah itu, darah itu, wajah tak sadarkan dirinya itu...
"Kek... mengapa Danny begini?" Patricia gemetar, ia ikut berjongkok melihat lebih dekat kondisi temannya itu, Kakek Leith hanya bisa terdiam.
"Kek? apa tidak salah latihannya seperti ini?" Patricia nampaknya sangat mengkhawatirkan Danny, sampai-sampai air matanya terjatuh.
__ADS_1
"Danny...." gumam Kakek Leith, ternyata memang terlalu awal baginya untuk latihan seperti ini.
"Kek! kita harus segera rawat Danny!" Kakek Leith masih terdiam membisu melihat penampakan Danny yang terlihat mengenaskan.
"U...Uhuk!"
Tiba-tiba pria yang tengah berbaring itu batuk, dan ia mulai membuka matanya perlahan, pakaiannya sendiripun memang sudah rusak berlubang karena panas yang hebat itu.
"Danny!" Patricia terkaget melihat Danny sadar.
"Kau tak apa?"
Danny hanya bisa melihat sekelebat Patricia dan kemudian berkata pelan. "Mungkin... aku butuh istirahat panjang.. agar bisa berlatih kembali... haha..."
Meskipun dalam kondisinya begitu, Danny masih bisa tertawa, kakek Leith masih terdiam sampai sekarang, "Kek... maafkan aku... aku telah gagal...."
Kakek Leith kemudian berkata pelan, "Danny, sekarang kau harus istirahat dulu ya, nanti kalau kondisimu sudah membaik kita bisa lanjut latihan kembali."
Danny tersenyum kecil, wajah merah bercampur hitam karena tercampur asap itu tidak menghalanginya untuk tersenyum, meskipun ia tahu, bergerak sedikit saja menimbulkan sakit yang teramat sangat.
Akhirnya Kakek Leith menyuruh para pelayan prianya menggotong Danny masuk ke ruangan kamarnya, untuk sementara Danny tidak bisa melanjutkan latihannya.
Para pelayan pria itu dipercaya untuk mengurus Danny yang tengah sakit itu, Danny tidak bisa berbuat apa-apa selain rasa terima kasih karena kakek Leith begitu berbaik hati padanya.
Perlahan namun pasti, hari demi hari Danny habiskan di kamar tidurnya, bagian wajah serta seluruh tubuhnya harus diperban seluruhnya agar lukanya cepat kering dan sembuh.
Danny tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain beristirahat, para pelayan pria kakek Leith pun berbaik hati dan dengan benar-benar membantu pemulihan Danny.
Hari demi hari kemudian ia lewati, akhirnya setelah satu minggu lamanya kondisinya mulai membaik meskipun seluruh perban belum boleh dilepasnya, namun rasa nyerinya sudah mulai berkurang.
Tok!
Tok!
__ADS_1
"Hei, Danny..." ternyata Patricia datang menjenguknya, memang selama ini yang ia lihat hanyalah pelayan pria namun sekarang ternyata adapula teman berpetualang menjenguknya kali ini.
Patricia membawakan segelas air putih segar, "Ini minum untukmu," ujarnya sambil meletakkan minum itu di atas meja kecil.
"Terima kasih...." Patricia mengambil kursi dan kemudian duduk di dekat tempat Danny berbaring.
"Bagimana keadaanmu sekarang?"
"Sudah lebih baik, kini nyeri yang kurasakan sudah cukup berkurang," ucap Danny sembari tersenyum.
Patricia hanya terdiam, terlihat ia merasa iba dengan temannya itu.
"Hei jangan pasang wajah sedih dong," ucap Danny, ya Danny merasa bahwa memang boleh seseorang bersedih karena dirinya namun untuk sekarang tetap bersedih rasanya bukan pilihan yang terbaik.
Namun lagi-lagi Patricia masih terdiam. "Sesudah kau berikan perban bagi kepalaku eh sekarang malah seluruh tubuhku diperban ahaha...." canda Danny, Patricia sedikit dibuat tersenyum olehnya.
"Bagaimana soal latihanmu?" tanya Danny, ia penasaran soal seminggu ini tentang latihan bagaimana kemajuan Patricia.
"Kalau itu..." Patricia menunduk, "ada sedikit masalah...." memang terlihat dari raut wajahnya itu, ia seperti tengah bersedih.
Danny kemudian melanjutkan perkataannya. "Kau boleh cerita kok...."
Patricia mulai menceritakan tentang latihan sihirnya itu, ia berkata bahwa latihannya terlalu mudah baginya.
Mendengar alasan yang tidak masuk akal itu membuat Danny merasa jengkel. "Kau...." Patricia malah mengubah ekspresinya dari terpuruk menjadi seperti orang menahan tertawa.
"Hahaha.. kau juga Danny ayo cepat sembuh! agar kita bisa berlatih bersama hehe...." mendengar perkataan Patricia meskipun Danny merasa jengkel namun ia cukup terhibur juga dengan tingkahnya itu.
Memang Patricia adalah orang periang, Danny benar-benar lupa akan itu sehingga terbawa suasana.
"Kau berlatih sihir apa?" ia penasaran dengan sihir yang tengah dipelajari Patricia.
"Sihir angin...."
__ADS_1
"!"