
"Vincent sebaiknya kau jangan melampiaskan nafsu burukmu pada pemuda ini, lihat dia masih muda."
"Aku tahu dia masih muda, dan kau tidak perlu memberitahuku, tapi Brock akhirnya setelah sekian lama kita berdua di sini akhirnya kita di anugerahi seorang pemuda!"
"Hei, memangnya kita orang tuanya?"
Vincent melayangkan tangannya pada mata kanannya yang biru membengkak, "Aku ... pasti akan mengajari pemuda ini esensi dari rasa sakit ... huehuehe."
"Haaah, terserah kau saja Vincent, memang selama ini yang kau lakukan memang seperti itu sih," ujar Brock sembari membuang nafas.
"Jadi sudah kesekian kali kau begini, apa kau tidak berpikir menyerah saja?"
Vincent menatap Brock penuh arti, "Kalau begitu, untuk apa semua luka yang kutanggung ini Brock? Kau pikir aku akan menyerah di sini? Haaah, mungkin saja sih suatu saat ...."
"Kukira kau akan bilang 'Jangan bercanda aku tidak mungkin menyerah!' begitu."
"Kau terlalu sering melihat film superhero kah? Memang kehidupan mereka sudah di atur script! Maka pastilah mereka mengatakan embel-embel 'Tidak menyerah!"
"Tapi gaya rambutmu itu, sepertinya aku pernah lihat di suatu film ...."
Muka Vincent sedikit berasap, tidak bukan terbakar namun sepertinya ia merasa tersipu, "Rambutku ini original hohoho!"
"Hei Brock, mungkinkah kita bisa keluar dari sini suatu saat?"
"Entahlah, kau sendiri yang sudah mencoba sebanyak itu, kalo aku sih sepertinya sudah cukup beradaptasi di sini."
__ADS_1
Melihat Brock yang sudah mulai nyaman dengan situasi ini mulai membuat Vincent sedikit khawatir, "Hei, temanku jangan menyerah, mungkin suatu saat kita pasti bisa keluar dari sini."
Vincent mencoba untuk membakar
semangat Brock, "Coba pikirkan sesuatu tentang keluargamu!"
"Aku sudah tidak punya keluarga ...."
"Hah?! Kalo begitu coba pikirkan tentang sanak saudaramu!"
"Begitupun, aku tidak punya ...."
"Apa?! Coba tentang pikirkan tentang sesuatu yang berharga bagimu!"
"Maaf Vincent, sepertinya semua itu sudah tidak berarti lagi bagiku ...."
"Eee.. Vincent mengapa kau mencekik leherku? Apa kau berusaha mengangkatku? Aku tidak pakai baju lho, lagipula tubuhku ini besar ...."
"Hah?!"
Vincent melepaskan cekikannya itu terhadap temannya, "Hoaaam ...."
Danny akhirnya bangun, ia seketika melihat dua orang pemuda menatapnya dengan tajam.
"Oh! Kau sudah bangun temanku!" Vincent dengan segera melingkarkan tangannya pada kepala Danny seolah-olah ia memang sudah akrab dari dulu.
__ADS_1
"Hei, kau baru bertemu dengannya ...."
"Diam Brock! Simpan semuanya itu, kali ini kita harus memperlakukan teman kita dengan baik!"
Brock tersenyum kecil, ia setuju sih dengan pernyataan Vincent.
"Kau siapa?"
Mendengar pertanyaan itu Vincent langsung menjawab dengan elegan, "Aku adalah pembimbingmu dalam menuju kehidupan barumu di sini temanku, namaku Vincent dan kau?"
"Oh, aku Danny, senang bertemu denganmu Vincent dan kenapa wajahmu babak belur begitu?"
Vincent meraba wajahnya sendiri, "Oh? Kau tidak perlu khawatir ini hanyalah sebagian kecil dari diriku yang sudah menjadi 'pria'"
Danny dan Brock dibuat bingung dengan perkataan Vincent, nampaknya hanya ia sendiri yang mengetahui istilah yang ia buat.
"Jadi, Danny apakah kau sudah siap untuk belajar dasar-dasar kehidupan di sini? MEMANG SEBAIKNYA KAU BERSIAP ANAK BARU! TUNJUKAN SEMANGAT '45 MU, TUNJUKKAN KAU ANAK BARU YANG HEBAT DI SINI!"
"Hei, Vincent apa yang kau maksud dengan semangat '45?"
"Huh? Sudahlah nanti kau akan menyadarinya juga Brock."
Danny melihat kedua pria ini sangat akrab sekali, melihat mereka berdua sama seperti melihat Brock dan Hendrik sewaktu dulu.
"Danny, sebaiknya kau berhati-hati dengan Vincent," ujar Brock sembari berbisik
__ADS_1
"Memangnya kenapa?"