
Patricia kaget ketika mendengar ucapan seperti itu dari pria besar ini, ia tidak menyangka akan mendengar hal yang tidak ingin ia dengar.
"Ka-kau tidak berbohong bukan?" Raut keputusasaan mulai terlihat kembali ada wajah gadis itu, seakan tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar tadi.
Brock menggelengkan kepalanya, tanda bahwa ia mengatakan 'tidak, hal yang kukatakan ini benar adanya', Brock tidak bisa lagi menjelaskan tentang apapun soal kejadian ini selain dengan menggunakan bahasa tubuhnya itu; ia kehabisan kata-kata.
Patricia melihat kembali pada Danny yang seperti tertidur itu, kondisinya tenang dan rasanya jika ditunggu Danny mungkin saja akan bangun kembali.
Namun apakah semua itu berarti jika ia harus menunggu hal yang tidak mungkin terjadi itu?
"Ti-tidak mungkin ...."
Patricia menjatuhkan seruling yang tadi ia mainkan itu, dan seketika itu benda itu pecah ketika bertabrakan dengan tanah.
"Kyaaaa!"
Patricia tersungkur sembari memegang kepalanya sendiri; hal ini terlalu berlebihan baginya, ia tidak menyangka akan kehilangan seseorang yang sungguh ia percayai itu.
Tetesan-tetesan air hujan kembali menetes dari langit, tepat saat Patricia mulai mengeluarkan air mata tanda kesedihan yang bahkan lebih pedih dari awal tadi.
Vincent melihat ke arah langit kembali, ia merasa kejadian aneh ini terulang kembali dengan perubahan cuaca di luar nalar seperti yang telah terjadi sebelumnya.
Cuaca cerah tadi berangsur-angsur menjadi gelap kembali dan mulai meneteskan air hujan dari langit; sebuah perubahan cuaca yang amat cepat yang dilakukan oleh alam saat ini.
Patricia tersungkur duduk lemas, rintikan hujan mulai berjatuhan dengan deras; kondisinya saat ini lebih sedih dibanding perasaannya yang sebelumnya, karena kesedihannya itu ia tidak dapat lagi untuk memikirkan apa yang harus ia lakukan kembali.
Brock yang melihat gadis itu kembali bersedih, ia tidak dapat berbuat apapun untuk menghiburnya kembali kesedihannya itu adalah sebuah perasaan yang tidak terelakkan yang harus dirasakan olehnya karena mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Awan di atas langit mulai gelap dan tambah gelap, kini malah suasana saat ini terlihat seperti sore hari yang beranjak petang, padahal seharusnya saat ini masih siang hari.
Vincent yang melihat keanehan ini melihat gadis bernama Patricia ini, nampaknya ia bisa mengambil kesimpulan dari apa yang telah diperhatikannya saat ini; ia menduga Patricia ini memiliki hubungan dekat dengan alam hingga akhirnya alam pun tahu bagaimana kondisi dan perasaannya saat ini.
__ADS_1
"Bolehkah ... aku ... melihat Danny dari dekat?" pinta Patricia pada Brock yang sedari tadi berdiri itu.
"Tentu." Brock kemudian meletakkan tubuh Danny di dekat Patricia yang tengah terduduk itu, kepalanya ia sandarkan pada paha gadis itu.
Brock kembali berdiri, gadis itu tertunduk cukup dalam, ia tidak bisa tahu bagaimana perasaannya saat ini namun yang pasti perasaannya tidak bisa dirasakan orang lain kecuali dirinya sendiri saat ini.
"Brock! Aku merasa ada yang aneh di sini!" Vincent mulai waspada dengan suasana yang seperti ini; langit agak gelap dan dengan air hujan deras yang menetes ke bawah saat ini.
Brock hanya terfokus pada gadis itu sampai-sampai ia tidak memerhatikan keadaan di sekitarnya saat ini.
"Hei Brock! Situasi seperti ini kurasa akan makin memburuk!" Vincent terus berusaha untuk mengingatkan Brock akan situasi yang aneh ini.
Dari langit timbul kilatan-kilatan kecil pada awan yang berkumpul di sana; cahaya-cahaya yang bersinar yang terhalangi awan terjadi saat ini.
Vincent yang melihat hal ini makin yakin akan dugaannya tadi, dengan berbagai petunjuk yang telah ia lihat sebelumnya.
"Brock! Gadis itu bisa mengendalikan cuaca! Kita harus berlindung sekarang!"
"Brock! Kita harus menjauh darinya atau kita akan terkena efeknya!" Vincent mulai serius ketika melihat cuaca mulai tidak bersahabat ini.
Brock yang masih diam itu mengacuhkan apa yang dikatakan oleh Vincent sedari tadi; ia ingin menghibur gadis ini namun tidak tahu bagaimana cara untuk melakukannya.
"Sial Brock!" Vincent segera maju ke depan dan memegang tangan besar temannya, ia membawa temannya itu menjauh dari gadis bernama Patricia dan Danny itu.
"He-hei apa yang kau lakukan Vincent!?"
"Diam! Aku tidak mau gosong terkena sambaran petir ini! Atau bahkan harus mati di sini! Gadis itu bisa mengendaikan cuaca!"
"A-apa?" Akhirnya Brock sadar dan menangkap dengan jelas apa yang berusaha Vincent katakan padanya dari tadi itu.
Brock akhirnya memilih lari dengan Vincent. "Lepaskan tanganmu ini! Kau kira orang-orang senang jika melihat kau memegang tanganku seperti ini!?"
__ADS_1
"Hah!? Tentu saja! Aku memegang tanganmu juga terpaksa karena kau tidak merespon perkataanku tadi!" Vincent melepas tangannya dari tangan Brock, keduanya lari menuju pepohonan yang di mana di sana agak jauh dari letak Patricia dan Danny.
Mereka berdua bersembunyi di balik pohon dan memerhatikan mereka berdua saat ini.
"Dari mana kau tahu gadis itu mengendalikan cuaca Vincent?"
"Aku memerhatikannya dari tadi, semenjak cuaca mulai berubah-ubah dengan cepat; tentu saja aku melihat hal ini sebagai keanehan yang pernah kulihat seumur hidupku."
"Maksudmu?" Brock masih membutuhkan penjelasan lebih mengenai apa yang dikatakan oleh temannya itu.
"Kurasa perasaannya itu berkaitan erat dengan cuaca yang saat ini berlangsung ...."
"Apa? Perasaannya?"
"Ya ... Brock apa aku menyadari ketika gadis itu berhenti menangis lalu cuaca menjadi teduh sekali, hujan yang tadinya cukup deras dengan cepat berganti menjadi cerah kembali ...."
Brock agak sedikit memerhatikan cuaca ketika berbicara dengan Patricia tadi, memang benar apa yang dikatakan Vincent; perubahan cuaca yang tidak wajar ini membuat siapapun merasa aneh ketika melihatnya.
"Meskipun begitu, apakah kau benar-benar yakin Patricia adalah seorang pengendali cuaca Vincent?"
"Entahlah Brock, aku mendasarkan ini menurut pengamatanku sendiri, tepat ketika dia mengetahui Danny sudah meninggal perasaannya yang bahagia itu kembali sedih dan cuaca kembali berubah menjadi hujan deras seperti ini, bahkan sampai langit gelap dan guntur terdengar di mana-mana, jangan lupakan petir yang sekarang bertebaran di langit saat ini."
Brock melihat cuaca saat ini, guntur begitu keras terdengar di selingi dengan kilatan cahaya-cahaya petir yang membuat seseorang ketakutan bilamana tersambar olehnya.
Pria besar itu tidak melihat ada kejanggalan dari perkataan temannya itu, malahan ia melihat semua hal yang telah dikatakan temannya itu.
"Aku tidak percaya aku mempercayaimu Vincent, dalam hal ini ...."
"Brock, meskipun aku terlihat begini jangan remehkan kemampuanku menganalisa sekitar; kau tahu kadang penampilan luar bisa menipu."
"Terserah kau Vincent, lalu apa yang akan kita lakukan saat ini?"
__ADS_1