Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 422: Pulang, Kenangan Lama, Kesedihan


__ADS_3

-Malam hari di pusat kota kerajaan Timur-


Waktu terus berlalu, malam pun tiba, udara hangat menjadi dingin, perasaan pun tidak lagi sama seperti sebelumnya.


Danny telah kembali dari pertarungannya bersama dengan Forhan, masih menyisakan pertanyaan baginya akan kemana keberadaan Forhan.


Jika Danny bisa memilih untuk percaya pada satu hal, ia memilih untuk percaya bahwa Forhan hanya menghilang, namun jika yang terjadi sebaliknya ia sama sekali belum mempersiapkan dirinya mendengar kenyataan selain daripada yang ia harapkan.


Sesampainya kembali di kota pusat kerajaan timur, teman-teman Danny menyambutnya dekat gerbang masuk kota itu, dan juga ada wajah yang nampaknya tidak asing di sana.


"Danny!" Patricia berteriak melihat Danny yang berjalan dari kejauhan sembari melambaikan tangannya, ia merasa sangat senang melihatnya kembali dengan selamat.


Danny masih perlu waktu beberapa saat untuk sampai ke dekat gerbang kota itu, ia hanya bisa sambutan temannya itu dengan senyuman saja.


Apa yang sudah dialami sebelumnya, yaitu bertarung dengan temannya ini telah membuat fisik dan juga mental Danny terkuras, bahkan saat ini pikirannya masih juga dipenuhi oleh satu hal, temannya sendiri.


Ah, aku ada sekarang ini karena kekuatan batu ini yang melindungiku ....


Rasanya tidak adil aku bertarung tidak dengan kekuatanku sendiri ... tapi ... aku tidak memiliki pilihan lain ....


Tanggung jawab yang diembannya harus diutamakan bagaimana pun caranya, Danny sadar akan hal ini dan dengan melakukan itu keberadaan batu permata mulia bisa aman bersamanya namun ia tidak mengira tidak bisa lagi menemukan temannya.


Sekalipun risiko yang terburuk yang bisa terjadi adalah hal itu, rasa-rasanya Danny telah mengorbankan perasaannya sendiri demi melindungi apa yang harus dilindungi.


Danny memang tidak sepenuhnya percaya Forhan telah berubah, namun setelah mengetahui pesan yang diberikan temannya itu, Danny kini tergerak dan ingin untuk mengetahui kebenaran secepat mungkin.


Perjalanannya masih belum selesai, masih dua batu permata mulia yang harus diutamakan diperolehnya, demi kekuatan mutlak yang bisa dipakai untuk melawan kejahatan.


Pada akhirnya Danny harus mengutamakan apa yang penting, yaitu perjalanannya sendiri namun perasaannya berkata bahwa ia ingin sekali mengungkap kebenaran yang sesungguhnya dengan menemukan dalang di balik semua ini.

__ADS_1


"Forhan ...."


Danny merasa kekuatannya perlahan namun pasti terkuras dan terkuras lebih banyak lagi, ia telah menggunakan kekuatan kecepatan untuk kembali ke dekat area Kerajaan Timur, jika kekuatannya masih mumpuni maka ia tentunya bisa sampai di pusat kota ini sebelum matahari terbenam.


Teman-temannya yang berada di seberang sekaligus tiga orang tua yang bersama mereka juga menunggu kedatangan Danny, mereka menyadari ada yang aneh dengan cara berjalan Danny yang semakin lama terlihat lunglai


"A- apa yang terjadi?" Patricia menyadari cara berjalan Danny terlihat berat dan lemas, padahal tadi ia pikir Danny berada dalam kondisi yang baik.


"Danny tidak terlihat bersemangat hari ini ...." Vincent mengomentari Danny yang memang tidak biasanya terlihat seperti ini.


Dag!


"Ah! Brock apa kau bisa menyentuhku dengan lebih lembut? Sentuhanmu itu seperti baja yang sangat keras!" Vincent merasa sakit karena kepalanya di pukul oleh Brock tepat setelah ia selesai berkomentar.


"Hmph!" Brock hanya mendengus karena ia merasa komentar temannya ini tidak berguna dan sama sekali tidak masuk akal, Danny yang memang adalah manusia tentunya bisa merasa lelah apalagi setelah pertarungan berat yang dijalaninya, Brock tidak habis pikir mengapa Vincent tidak menyadari hal ini.


"Aku tidak percaya Danny ... kita bisa melihatnya kembali ...." Rhart mengingat wajah pemuda itu dengan jelas, tidak nampak banyak perubahan dari yang dahulu, namun memang ia sekarang lebih terlihat dewasa dan besar dibanding dahulu.


"Apa yang kubilang? Kau ini bisa percaya pada kami Rhart." Ther sudah menceritakan tentang hal ini tadi, namun Thart sama sekali tidak memercayainya kalau bukan mata kepalanya sendiri yang melihatnya.


"Hmmm, Danny ...." Cleus berkata pelan sambil mengelus janggut panjangnya, pandangan matanya melihat pada Danny yang sekarang sedang berdiri saja di seberang sana tanpa melakukan apapun.


Blugh.


Tubuh Danny roboh seketika sebelum ia mencapai gerbang Kota Kerajaan Timur, sontak itu membuat orang-orang yang menyambutnya segera menghampirinya untuk memberi pertolongan dan segera membawanya ke penginapan yang ada di kota itu.


***


"Uuuh ...." Danny perlahan membuka matanya, ia merasa nyaman sekali pada bagian belakangnya, ia langsung sadar bahwa ia sedang berada di kasur yang cukup besar, empuk dan nyaman, pas sekali ditempati olehnya.

__ADS_1


"Di mana ini?" Danny beranjak membuka jendela yang tidak jauh dari kamarnya berada, dan silau matahari terang langsung merangsek ke ruangan kamarnya.


"Sudah pagi? Ini di penginapan?" Danny tidak asing dengan tempat dengan tempat tidur yang mewah, ini pastinya penginapan terkemuka yang ada di kota.


Danny ingat ia sebenarnya belum sepenuhnya sampai ke dalam kota, namun bisa melihat Patricia dan yang lain menunggunya di di depan gerbang namun karena ia sudah terlalu lemas akhirnya ambruk juga.


Danny juga menyadari pakaiannya masih sama, pakaian petualang dengan celana panjang, hanya sedikit robek dan tidak terlalu ada yang mencolok, semuanya nampak baik-baik saja.


Kekuatan batu permata mulia ternyata kini melindungi tubuhnya dari luar, yang sebelumnya sebaliknya karena Danny masih belum kuat menampung kekuatan yang berlimpah, namun kini dia merasa lebih berkembang dibandingkan dahulu.


Efek yang dirasakan ketika menggunakan kekuatan batu permata mulia masih terasa yang hanya membuatnya lemas saja, dan tidak separah sebelumnya.


"Hari yang indah ...." Danny tidak bisa memalingkan pandangannya dari balik jendela, ia berada di lantai atas penginapan dan itu membuat pemandangan kota ini menjadi terlihat lebih jelas.


"Rasanya aku rindu dengan tempat ini ...." Senyum kecil tergurat di wajah Danny, ia kini merasa seperti kembali ke masa lalu yang indah.


Ia melihat bangunan petualang tepat di saat ia memulai perjalanan bersama Cecilia dan Forhan, membuat awal yang indah sebagai petualang pemula.


Danny bisa melihat ia sedang bercanda tawa dengan Cecilia daan Forhan, hari yang indah yang tidak akan pernah bisa dilupakan dalam hidupnya.


Seiring melihat kilas balik kejadian dahulu, hati Danny seperti teriris karena begitu rindunya ia masa-masa itu, di mana ia masih bersama dengan teman-temannya.


Jadinya Danny merasa bersyukur sekaligus bersedih karena ia tidak bisa lagi bersama dengan teman-tema yang dulu beraamanya itu, bahkan kini ia mulai merasa pantas disalahkan karena telah berbuat terlalu keras pada temannya.


"Forhan ... andai saja aku tidak pernah bertemu dengannya, pastilah dia masih akan berada di kota ini sebagai petualang yang ramah dan hebat ...." Danny menggertakkan giginya, entah mengapa jawaban yang muncul dari pertanyaannya atas kehilangan Forhan adalah jawaban yang paling tidak ingin ia percaya, berusaha untuk tidak berpikir tentang itu namun bukannya menghilang malah menjadi-jadi.


"Forhan ...." Danny mengusap matanya, ia merasa ada yang sedikit keluar dari pelupuk matanya, seiring dengan ia menikmati kilas baliknya itu, pada akhirnya ia juga jadi bersedih karenanya.


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


__ADS_2