Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 476: Lihatlah, Urusan Baru


__ADS_3

'Dia ini mau jadi buronan dunia ya?!' batin Raven, protes soal apa yang dilihatnya.


'Astaga.' Raven menggunakan kemampuannya untuk melihat detik-detik yang sedang terjadi sekarang, dari pengamatannya, ia tidak merasa pemuda itu akan berhenti.


'Dia bisa memojokkan Arthur.' Tidak dapat dipungkiri kekuatan Arthur sangat besar. Bahkan salah satu pedang cahaya kuningnya menembus pertahanan gelap miliknya, membuat energinya jadi tidak stabil.


Dan ia melihat sekilas pula, aura pertahanan transparan pria besar pemegang kapak juga tidak sepenuhnya sempurna, bisa dibilang serangan pedang Arthur cukup membuat


Kenyataan bahwa dirinya dikalahkan dengan mudah oleh Arthur di masa lalu adalah hal yang tidak mungkin dilupakannya, bahkan organisasinya bubar karena sang ksatria suci itu.


Tidak ada yang bisa menghentikannya, dan seingatnya Danny juga tidak bisa.


Namun sekarang berbeda, entah mengapa kekuatan pemuda itu benar-benar tidak sama seperti dulu.


Raven memfokuskan kekuatannya, tidak mungkin ia membiarkan rencananya gagal semudah ini.


Harus diakui mengajak Arthur bekerja sama tidak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi setelah masalah masa lalu yang tidak bisa dilupakan begitu saja.


Namun butuh lebih dari sekedar kekuatan besar saja untuk melawan iblis, maka mau tidak mau dan bagaimanapun caranya ia harus membuat Arthur berpihak padanya.


Raven mengerti mengapa Danny sampai berbuat sejauh ini, itu usahanya untuk membuat sang ksatria suci itu paham dan mau untuk kerja sama, yang pada akhirnya tidak seperti yang diharapkan.


Rasa mengertinya ini langsung terhenti ketika melihat Danny yang di detik terakhir pun tidak memberikan kesempatan pada sang ksatria suci itu.


Apa yang sebenarnya terjadi di sana? Bukankah Arthur hanya tinggal menguatkan aura pertahanannya demi menghentikan serangan Danny?


Raven tidak akan memfokuskan kekuatannya jika hal itu terjadi, ia tahu sebagian besar kekuatan sang ksatria suci itu dikerahkan pada serangannya yang sekarang.


Akan sulit membagi kekuatan yang sudah difokuskan seperti itu, bahkan untuk orang sekuatnya, tetap saja akan membuka celah bagi lawannya.


Dengan level kekuatan Danny yang tidak masuk akal dan Arthur yang bahkan tidak mempersiapkan dirinya sama sekali, maka apa yang terjadi selanjutnya sudah jelas sekali.


"Kekuatan Gelap: Waktu Gelap." Sorot mata merah Raven menyala terang saat itu juga, begitu cepat sampai-sampai orang biasa tidak akan sadar.


*


'Hentikan!'


SYUT!

__ADS_1


BUAGH!


JLEB!


Serangan tinjuan Danny berhasil mengenai wajah Arthur, sedang tanpa disangka serangan pedang Arthur menusuk perutnya.


"Ugh!" Mulut Danny mengeluarkan darah seketika itu juga, ia bisa melihat pedang Arthur memang benar-benar mengenai tubuhnya, namun tidak bercahaya sebagaimana yang ia lihat tadi.


'Tuan Arthur... serangannya....' Danny tahu jika serangan pedang Arthur memanglah berbahaya, dan serangan pedang ini seharusnya bercahaya seperti yang lain.


BUM!


Arthur terhempas ke belakang dengan cepat membuat debu pasir membumbung ke atas dengan besar.


Blugh....


Danny terjatuh dengan pedang yang tertancap di tubuhnya, entah mengapa ia bisa merasakan sakit yang berarti di tubuhnya, yang seharusnya tidak dirasakannya ketika menggunakan kekuatan batu permata mulia.


"?!" Danny melihat ke arah tubuhnya sendiri, tidak ada lagi aura kekuatan yang melingkupi tubuhnya.


'Masih sempat?' Danny bertanya dalam batinnya sendiri, ia tidak sadar kekuatan batu permata mulia menghilang tiba-tiba.


Danny bisa melihat kepulan debu yang membumbung tinggi, meski tidak bisa melihat sepenuhnya, namu ia masih bisa merasakan hawa kehadiran Arthur dari sana.


'Hah, syukurlah masih sempat.'


"Ukh." Danny meraih pedang yang menancap padanya itu dengan tangan kanannya, bergetar kecil berusaha mencabut benda itu dari tubuhnya.


'Sakit sekali.' Pada akhirnya karena tubuhnya sendiri yang menerima serangan itu, Danny bisa merasakan rasa sakit yang ia espektasikan sebelumnya.


Dan sejujurnya ini lebih baik daripada serangan pedang cahaya Arthur, karena jika skenario itu yang terjadi. Keberadaannya saat ini sudah pasti terhapuskan.


'Tunggu dulu....' Danny menyadari sesuatu. Ia melihat pedang biasa yang muncul dari serangan Arthur ini.


'Jika serangannya berubah... bukankah Tuan Arthur juga....?'


Jika Danny bisa menghentikan kekuatan batu permata mulia, bukankah seharusnya tidak berlaku bagi serangan lawannya?


Lawannya tidak perlu melakukan hal yang sama bukan? Danny sendiri tahu betul akan tekad Tuan Arthur yang begitu membara dan tidak akan berhenti sebelum tujuannya tercapai.

__ADS_1


Jika pada akhirnya ia berhasil menghentikan kekuatan batu permata mulia, seharusnya pedang cahaya kuninglah yang mengenai tubuhnya sekarang.


Yang malah tidak terjadi hal seperti itu. Tentu saja hal ini mengundang pertanyaan.


'Apa ini bukan kebetulan?' Kekuatan yang ada padanya ini memang tidak terprediksi sama sekali. Danny pikir suatu keajaiban ia berhasil menghentikannya.


Jika lawannya juga menghentikan kekuatannya, bukankah itu bukan kebetulan lagi?


Slash.


Pada akhirnya setelah usahanya beberapa saat, Danny bisa mengambil pedang yang menancap itu, dan luka berwarna merah itu tidak terbendung mengucur ke bawah.


Tidak masalah dengan cairan merah yang keluar dari tubuhnya, Danny sudah terbiasa dan pula dengan rasa sakitnya.


Srug.


Danny berusaha mengangkat badannya, terasa berat dan tentu saja menyakitkan, namun rasa penasarannya mengalahkan perasaan yang lain.


Ia berusaha mengumpulkan energi sihir dalam tubuhnya sendiri untuk meminimalisir luka luar dan dalam. Memang tidak se-efektif menggunakan kekuatan pemulihan, namun lebih baik dibanding tidak sama sekali.


'Apa yang sebenarnya terjadi?' Danny melihat telapak tangan kirinya yang berdarah, sedang tangan kanannya memegang pedang yang sudah berhasil dicabutnya.


Danny melayangkan pandangannya ke arah debu yang kini mulai menghilang, ia bisa melihat Arthur, yang juga tidak terselimuti aura apapun. Seolah ia menghentikan kekuatannya begitu saja.


Danny tidak mengerti atas dasar apa Arthur melakukan hal yang sama dengannya, padahal jelas-jelas sorot mata sang ksatria suci sebelumnya benar-benar penuh dengan tekad.


Arthur terlihat menopang tubuhnya dan berusaha untuk tetap berdiri, sedang ia terlihat cukup kelelahan. Meski jaraknya cukup jauh, namun Danny bisa melihat sorot mata penuh tekad yang tak berubah darinya.


Dari bukti yang ia lihat sekarang ini, tidak mungkin Arthur tiba-tiba menghentikan kekuatannya. Lantas mengapa terjadi hal seperti ini?


'Kekuatanku dan Tuan Arthur tiba-tiba menghilang begitu saja.' Danny memikirkan ini dalam batinnya, jika ada seorang yang ingin menghentikan pertarungan ini, dan yang punya kemampuan menghilangkan kekuatan adalah ...


"Kalian sudah selesai?"


Danny bisa mendengar suara yang tak asing, yang tentu saja dalah suara Raven dalam wujud makhluk hitamnya.


Entah mengapa suaranya itu begitu keras kali ini, seperti seorang yang memberi pengumuman pada orang-orang.


"Jika sudah, lihatlah, musuh kita jauh lebih menarik sekarang." Raven menunjuk ke arah lain, yang membuat perhatian Danny kini tertuju pada makhluk merah besar itu kini malah berubah jadi seukuran manusia, dengan zirah merah membara dan ekspresi wajah yang tenang.

__ADS_1


__ADS_2