Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 501: Kenyataan


__ADS_3

Arthur, dia sedang dalam mode aura biru dengan wajah yang


tidak terlalu baik kelihatannya.


Sebagian wajahnya dihiasi dengan tetesan air berwarna merah, yang bilamana anak kecil melihatnya pasti akan berteriak memanggil mamanya.


Kekuatan aura biru ini benar-benar membawa kekuatan sihirnya ke level yang berbeda. Kekuatan sihirnya benar-benar hebat.


Olivia menggunakan sebagian besar kekuatan aura gelapnya


untuk satu serangan ini, sedangkan Arthur menggumpulkan satu kekuatan besar untuk apa yang akan ia lakukan.


“Bukan aku yang membunuh Domer,” ujar Arthur dengan nada


pelan, namun masih terdengar jelas oleh sang iblis perempuan itu.


“!” Olivia terdiam, ekpresi diam dalam kagetnya itu terlihat jelas.


Arthur sadar ia harus mengungkapkan fakta ini.


“Danny-lah yang melakukannya,” lanjut Arthur.


“....” Ekspresi sang iblis perempuan itu makin muram dan


tidak percaya.


“TIDAK MUNGKIN!” Olivia lagi-lagi menolak apa yang ia dengar.


Olivia tidak mau termakan omongan manusia yang akan binasa ini. Ia tidak mau terperdaya oleh ekpresi serius pria pirang di depannya.


Namun Arthur sama sekali tidak terlihat bercanda, ia serius, bahkan sangat serius.


Hempasan angin kencang dan dingin terasa di padang gurun


ini, mengikis ketidakpercayaan Olivia pada perkataan Arthur.


Tidak ada lagi usaha tambahan yang dilakukan pria pirang itu.


Ia hanya menatapnya dengan tajam.


“Bocah sialan itu!?” Nada bicara Olivia meninggi, ia langsung percaya dengan apa yang dikatakan sang ksatria suci itu.


“Kau harus tahu ini.” Bibir Arthur sedikit naik ke atas, ia tidak mungkin menyangkal fakta bahwa yang mengalahkan Domer bukanlah dirinya, melainkan Danny.


Olivia terdiam, ia sedikit gemetar. Tidak terpikirkan olehnya pemuda yang kabur dari awal tadilah yang mengalahkan sang komandan besar iblis, sosok iblis yang sangat diidolakannya.


“ARGHHHH!” Olivia berteriak sembari memegang kedua


kepalanya, seraya berpikir ‘mengapa ia susah-susah mengeluarkan banyak energi

__ADS_1


gelap sedang orang yang membunuh Tuan Domer sudah tidak ada di sini?


Sorot mata Arthur bersinar sekeketika itu juga.


“KEMAMPUAN: BALIK!” Arthur menyerap dengans sempurna


kekuatan bola aura gelap itu, bersamaan dengan itu ia batuk darah hebat.


“ARGH!” Arthur maju ke depan, melesat dengan cepat. Dengan


kekuatan gelap yang sudah menyelimuti seluruh tubuhnya.


‘Aku hanya punya satu kesempatan!’


*


“Hei, Arthur! Sedang apa?” Terdengar suara seorang pria ketika Arthur sedang membaca buku di perpustakaan umum Kerajaan Barat.


Kala itu tersiar kabar, iblis akan datang dan menaklukkan daerah


padang gurun Kerajaan Barat.


Arthur masa lalu sedang duduk di meja sendirian, membaca buku dengan tenang, sementara tidak ada siapapun lagi di perpustakaan, ini sudah larut


malam, udara dingin terasa masuk ke dalam ruangan yang luas ini.


Arthur terlihat sedang berdiri di sisi lain, ia berada dalam ingatannya sendiri.


“Thor! Sst!” Arthur tidak terlalu senang ada seorang yang


tiba-tiba datang dan mengganggu ketenangannya seperti ini.


“Ahh itu!” Thor terlihat penasaran dengan buku yang dibaca Arthur.


“Kau tertarik dengan kemampuan pertahanan ya!?” Mata Thor terbuka lebar melihat rekannya membaca buku tentang ‘Hidup Atau Mati: Seri Bertahan Hidup’.


“Buku itu memang best-seller, tapi kau bisa mengandalkan


rekanmu ini!” Thor menunjuk dadanya dengan bangga. Ia butuh pengakuan orang, agar menyadari apa yang ia bisa.


Mata Arthur berhenti bergulir, ia menutup buku dan berbalik melihat rekannya.


“Thor, kau bisa menggunakan teknik dalam buku ini bukan?”


Arthur menanyakan ini dengan serius.


“Tentu saja! Jangan lupakan peranku di sini!” Thor terlihat


bersemangat ketika rekannya bertanya mengenai ini.

__ADS_1


“Hmmmmm....” Arthur memainkan dagunya perlahan, ia menunggu penjelasan lebih lanjut dari rekannya. Namun tidak kunjung ia dengar juga.


“Ah, sebenarnya tidak.” Ekpresi Thor yang begitu bersemangat


berubah seketika itu juga.


“Aku sudah belajar teknik kemampuan itu, tapi tidak ada


hasilnya.” Thor memandang buku tebal usang itu dengan penuh arti.


Tidak biasanya Thor terlihat serius.


“Tidak berhasil?” Arthur saat itu tidak tahu ada yang tidak bisa dilakukan oleh sang pertahanan dalam kelompoknya sendiri.


“Kekuatan sihirku tidak cukup kuat menahan risiko yang ada. Teknik itu memang pantas dimuat dengan dengan judul itu, haah....” Thor mengakhiri


ucapannya dengan hembusan nafas lelah.


“Kalau begitu kau sudah tahu isi buku ini?”


Thor menjawab dengan anggukan yang lemah juga.


Arthur kemudian menatap dengan seksama buku berdebu yang sudah ia baca itu. kebetulan sekali malam ini bertepatan dengan kedatangan rekannya,


ia sudah selesai membacanya.


Buku yang berdebu dan tidak menarik inilah yang dibaca Arthur, buku dengan warna biru tua dengan hanya sampul dengan judul saja.


Tidak ada gambar atau apapun yang bisa membuat orang tertarik melihat isinya. Di tambah lagi dengan judulnya yang terasa berat.


“Tapi kenapa kau baca ini Thur?” Thor terdengar penasaran, ia yang posisinya di-pertahanan pun tidak memusingkan akan buku itu.


“Thur?” Arthur tidak merasa itu nama panggilan yang enak di dengar.


Arthur terdiam sejenak. Ia bisa tahu Thor penasaran mengapa


ia membaca buku seperti ini, sedang ia sendiri bukanlah bagian dalam bidang pertahanan.


Akan lebih masuk akal apabila yang ia baca adalah buku


tentang teknik serangan ataupula teknik bertarung dasar lainnya, namun pada kenyataannya di depannya ini adalah buku yang berisi teknik terhebat dalam bidang pertahanan.


“Aku penasaran.” Jawaban yang singkat padat dan jelas terdengar


pada pria pirang ini.


“Hanya itu!?” Padahal sudah terdiam beberapa saat dan dengan wajah serius, eh alasannya malah sepele sekali!


“Ehm...” Thor berusaha memahami rekannya.

__ADS_1


Arthur sebenarnya punya alasan yang lebih rinci lagi, namun ia memilih tidak mengatakannya.


__ADS_2