
Tidak ada angin tidak ada hujan Danny tiba-tiba terjatuh di depan gurunya, ia terkelungkup tanpa sebab dan tentu saja ini bukanlah hal yang baik.
"Danny?!"
Tuan Housen segera mengangkat anak muridnya itu yang tiba-tiba terjatuh itu, ia juga tidak tahu apa yang terjadi pada anak muda ini padahal sebelumnya ia bersemangat dan baik-baik saja.
Tuan Housen melihat bagaimana wajah anak muda ini, ia terlihat tidak sadar, namun ada yang aneh, matanya sama sekali tidak tertutup dan malah warna bola matanya berubah sangat cepat, dari hitam ke kuning terus berulangkali seperti itu.
"I-ini?!" Tuan Housen tidak bisa menyembunyikan kekagetannya, bahkan ia sampai sedikit melebarkan bola matanya karena tidak percaya dengan apa yang terjadi pada anak muda ini.
"Reaksinya ini ...." Tuan Housen tahu anak muridnya itu kini tengah tidak sadar, namun dalam keadaan matanya terbuka dan berubahnya warna bola matanya dengan cepat.
Maka dari sini pak tua itu bisa menduga kekuatan pinjaman batu permata mulia kecepatan tahap kedua yang sedang diberikannya itu tidak begitu bereaksi dengan pada anak muda ini, buktinya adalah apa yang sedang terjadi padanya saat ini.
Ada pertanyaan yang muncul dalam benak pak tua itu saat ini, apakah memang terlalu awal baginya untuk menjalani tahap kedua ini karena memang dia hanyalah manusia biasa? Atau mungkin ini hanyalah reaksi biasa saja yang tidak perlu dikhawatirkan?
Tuan Housen memerhatikan dengan seksama bagaimana bola mata Danny berubah warna dengan cepat selama beberapa saat, namun seiring dengan berjalannya waktu pemuda itu menutup matanya perlahan dan kini pak tua itu tidak bisa melihat bagaimana keadaannya sekarang.
"Kekuatan penglihatan ini hanya aktif saat seseorang melihat pergerakan yang cepat saja, dan kekuatan ini tidak akan bekerja jika tidak ada sesuatu yang bergerak cepat, tahap kedua seharusnya lebih mudah dikuasai dibanding dengan tahap pertama." Tuan Housen berbicara pelan, ia kini melihat bagaimana anak didiknya itu sedang menutup matanya dan terlihat tidak sadarkan diri.
"Apa kubawa saja dia untuk beristirahat?" Tuan Housen berpikir latihannya yang masih awal ini ditundanya saja agar pemuda ini bisa beristirahat dan memulihkan kembali tenaganya itu.
Tap.
Begitu Tuan Housen hendak mengangkat Tubuh Danny, tangan Danny memengang lengannya dan ia terlihat sudah bisa membuka matanya perlahan.
"Danny? Kau baik-baik saja?" Tuan Housen segera membantu Danny untuk duduk di atas rumput itu, dia terlihat baru sadar dan juga terlihat seperti sedikit kelelahan.
Danny mengambil waktu, ia sendiri tidak tahu pasti mengapa ia bisa tidak sadarkan diri tiba-tiba setelah berusaha untuk melihat pergerakan cepat gurunya itu, namun setidaknya ia masih ingat gejala yang dialami sebelum tidak sadarkan diri itu.
"Jangan memaksakan dirimu Danny, jika sudah lelah kita bisa beristirahat dan melanjutkannya esok hari." Karena Tuan Housen tidak begitu tahu apa sebab Danny tidak sadarkan diri selain mungkin saja anak muda ini belum bisa beradaptasi setidaknya ia bisa mengajaknya istirahat dahulu.
Danny menggelengkan kepalanya. "Tidak Tuan, saya baik-baik saja, sebelumnya saya merasa sangat pusing seakan pandangan saya berputar-putar, namun saat ini saya sudah merasa lebih baik."
__ADS_1
Danny ingat sesaat setelah ia melihat pergerakan gurunya itu sesudah efek gelombang berwarna kuning kembali muncul dan keadaan penglihatannya kembali normal tiba-tiba ia merasa kepalanya berat dan pandangannya berputar-putar dengan cepat, dan setelah itu ia sadar ketika akan diangkat oleh gurunya itu.
"Pusing?" Pak tua kira gejala yang dialami anak muda ini berat, namun setelah mendengar semuanya dari anak muda ini dan ia tidak mau juga untuk beristirahat, ia memutuskan untuk melanjutkan latihan tahap duanya itu.
Setelah berdiam beberapa saat, Danny bisa merasa kekuatannya terkumpul kembali, kepalanya yang tadi terasa berat dan juga rasa pusingnya telah berkurang bahkan tidak lagi mengganggunya, ia meminta untuk gurunya itu tetap mengajarinya karena memang ia pikir lebih cepat akan lebih baik untuk menguasai kekuatan batu permata mulia kecepatan.
Tuan Housen memberikannya sebotol air minum yang dibawanya dari rumah, dan pemuda itu menghabiskannya begitu cepat bahkan dalam satu teguk saja.
"Ah!" Danny beranjak kembali dari duduknya itu dan mengucapkan terima kasih pada gurunya yang begitu peduli padanya dan bahkan mau untuk mengurus dan memerhatikan keadaannya.
"Bersiaplah Danny."
Zlit!
Zuuunggg!!!
Seperti biasa Danny melihat kembali gelombang berwarna kuning dan bisa melihat pergerakan gurunya itu, ia terlihat berlari ke arah ujung hutan dan setelah itu hanya berdiri saja di sana, dan tidak berhenti di sana Danny melihat ada sesuatu yang ganjil di antara semak-semak dan pepohonan yang berdekatan itu.
A- apa itu?
Zuuung!
Danny kembali ke kondisi awalnya, bayangan hitam yang seperti ada warna merah di antaranya,tidak begitu lagi dipikirkannya, ia saat ini menunggu apakah tubuhnya akan kembali merasakan keanehan atau tidak?
Setelah beberapa saat Danny memang merasa pusing, ia merasa sekelilingnya kembali berputar dengan cepat, tentu saja dalam keadaan seperti itu ia tidak bisa lagi berdiri seperti biasa.
Bruk.
Danny bertumpu pada kaki kanannya, sembari memegangi kepalanya sendiri ia masih merasakan kepusingan yang cukup membuatnya tidak bisa melihat dengan baik, yang ada semuanya terlihat berputar dengan cepat dan itulah yang menyusahkannya saat ini.
Tuan Housen memerhatikan dari jarak yang telah ia buat sebelumnya, ia berada di ujung area tempat rumput luas itu, yang berarti memang ada perbedaan jarak yang tidak terlalu dekat di antara mereka namun meskipun begitu ia dari sini masih bisa memerhatikan bagaimana kondisi anak muridnya saat ini.
Beberapa saat kemudian akhirnya rasa pusing yang dialami oleh pemuda itu mulai mereda dan tidak separah beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Danny yang tadinya menutup mata untuk menahan rasa pusingnya itu kini mulai membuka matanya, dan ia melihat Tuan Housen masih berada di tempat yang sama dan tengah memperhatikannya, Danny melihat bagian belakang gurunya itu dan tidak lagi melihat bayangan hitam dan dua titik merah di di sana.
Danny tidak yakin apa yang dilihatnya sebelumnya, yaitu bayangan hitam dengan dua titik berwarna merah benar-benar dilihatnya, karena bisa jadi itu hanyalah halusinasi yang berasal dari pikirannya sendiri.
Danny kemudian memutuskan untuk melupakan saja hal kecil yang dilihatnya sebelumnya, kini ia lebih baik fokus pada kondisi tubuhnya selama latihan tahap dua 'melihat' ini berlangsung.
"Sepertinya ketika satu kali menggunakan kekuatan 'melihat' Danny butuh waktu sesaat untuk bisa melihat kembali sesuatu yang bergerak dengan cepat yang tidak bisa dilihat mata biasa ini, namun ketika percobaan kedua ini nampaknya ia mulai bisa beradaptasi dengan baik karena tidak sampai kehilangan kesadaran seperti sebelumnya.
Tuan Housen menilai untuk percobaan kedua dari peminjaman kekuatan 'melihat' hal yang bergerak cepat tidaklah terlalu buruk, malah sebaliknya kemajuan yang ditunjukkan anak didiknya ini patut untuk diapresiasi.
Ia pun berjalan dengan cepat untuk melihat bagaimana keadaan anak muridnya itu, beberapa saat akhirnya ia sampai kembali ke tengah area rerumputan ini, bersamaan dengan sampainya ia di sini, Danny mulai untuk mengangkat tubuhnya sendiri.
"Bagaimana kondisimu Danny?"
"Saya masih merasakan efek yang cukup berat ketika menggunakan kekuatan 'melihat' ini, kepala saya seperti berputar-putar dan tidak bisa lagi melihat keadaan sekitar dengan jelas." Danny menjabarkan apa yang ia rasakan ketika melihat pergerakan cepat yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa itu.
Tuan Housen mengerti memang tidak bisa beradaptasi secara langsung, namun setidaknya Danny sudah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat dengan tetap mempertahankan kesadarannya untuk 'melihat' hal yang cepat yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang itu.
"Danny, keuntungan yang kau gunakan di tahap pertama, itu akan lebih memudahkanmu." Tuan Housen memberikan nasihat yang baik pada anak muridnya itu.
Danny yang tadinya belum mengetahui adanya beberapa tahap dalam latihannya ini, hingga ia memutuskan untuk tidak menggunakan kekuatan batu permata mulia fisik dan daya tahan yang dipunyainya, karena memang tidak mengira akan bisa digunakan dalam tahap selanjutnya juga.
"Gunakanlah kedua kekuatan batu permata mulia di tahap ini, aku yakin kau pasti akan bisa menguasainya dengan lebih mudah."
"Baiklah Tuan!" Danny mengangguk bersemangat akan kesempatan ini, seperti biasanya ia memfokuskan diri agar bisa menggunakan kekuatan batu permata mulia.
Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar tubuhnya bisa menahan efek dari latihan tahap dua 'melihat' ini, karena efek yang ia rasakan ini dari luar yaitu ketika melihat hal yang begitu cepat muncul, maka dari itu Danny bisa menemukan kekuatan yang cocok digunakannya di saat yang seperti ini.
"Kekuatan batu permata daya tahan!" Danny akhirnya selesai memfokuskan diri ya dan ada sedikit perubahan dalam dirinya, kini terlihat urat-urat pada bagian tubuhnya sedikit menonjol dan terlihat jelas.
Ini tidak terlalu terlihat indah, namun yang pasti dan yang paling penting adalah kekuatannya, bukan bagaimana kekuatan itu terlihat dari penampilannya.
Danny dulu pernah menggunakan batu permata mulia daya tahan untuk menahan panas dan dingin, dan sebagai hasilnya baik, kini ia akan menggunakan kekuatan batu permata mulia untuk menahan rasa sakit yang diakibatkan 'melihat' hal cepat yang seharusnya tidak bisa terlihat itu.
__ADS_1
Kekuatan fisik dan daya tahan hampir mirip, keduanya memiliki fungsi yang sama namun hanya sedikit perbedaan di antara mereka, jika kekuatan batu permata mulia fisik adalah kekuatan yang bisa memperkuat fisik seorang penggunanya hingga pada batas tertentu yang bisa dicapai oleh penggunanya itu.
Sedikit sama, kekuatan batu permata mulia daya tahan juga sama menguatkan kekuatan fisik dari tubuh penggunanya, namun tidak sampai di situ kekuatan batu permata mulia ini dapat meminimalisir kekuatan lain yang berasal dari luar, misalnya karena kekuatan sihir atau bisa juga gangguan lain dari luar yang mengancam tubuh penggunanya.