Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 213: Di Ambang Batas


__ADS_3

Para pria besar dengan jumlah tiga puluh orang yang telah lepas itu mendekati Tuan mereka, mereka khawatir dengan keadaannya.


"Apakah kau terlalu memaksakan diri Tuan?" tanya salah seorang pria bsar itu, namun pertanyaannya itu tidak digubris oleh tuannya itu.


Kesadaran Kibo hampir pada batasnya, harusnya ia sudah roboh saat ini, namun entah mengapa ia masih bisa berdiri meskipun nampak sedikit terhuyung-huyung seperti hendak jatuh.


***


•Alam Bawah Sadar Kibo


A ... aku sepertinya sudah dalam batasanku ....


Me ... mengapa pandangan sekelilingku menjadi kabur?


Ah ... padahal aku ... hampir berhasil untuk melakukannya ....


Apa yang harus kulakukan ... jika rencana ini gagal?


Apakah semua ini akan berakhir di sini?


Mengapa sekarang menjadi gelap? Apakah ada yang mematikan lampunya?


Oh ... benar juga ... mana ada lampu di ruangan ini ....

__ADS_1


Meskipun begitu aku tidak bisa melihat apa-apa lagi sekatang ... benar-benar gelap ....


Suasana yang gelap pun seiring dengan berjalannya waktu menjadi terang, Kibo saat ini menyadari bahwa dirinya sedang berada di alam bawah sadarnya sendiri saat ini.


Sebuah ruangan hampa berwarna putih sedang dilihatnya saat ini, untuk beberapa saat akhirnya ia sadar bahwa keadaan di sekitarnya sudah menjadi terang.


"Kibo ...."


Pria keriting itu mendengar sebuah suara yang ia kenal dulu sekali ... seorang sahabat yang menghilang tanpa jejak.


Kibo menoleh perlahan untuk melihat siapa yang sebenarnya menyapanya itu.


Seketika itu juga terbelalaklah ia melihat sahabatnya itu tengah tersenyum sambil berdiri di ujung sana.


"Bagaimana kabarmu sekarang Kibo?"


Kibo meraba wajahnya dan tubuhnya sendiri, ternyata ia tidak menemui luka ataupun kotor pada badannya itu, kondisinya itu benar-benar terlihat terbaik bila dilihat saat ini.


"A-aku ... penampilanku yang sebenarnya saat ini tidak jauh berbeda kok dari yang sebenarnya ... ahahaha."


Yizi hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya itu.


Kibo yang baru pertama kali melihat Yizi itu perlahan sadar bahwa memang dirinya itu hanya sedang berada di alam bawah sadar, bukan di dunia nyata yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Ini terasa agak aneh ... bertemu denganmu di tempat seperti ini," ujar Kibo dengan penuh arti pada sahabatnya itu.


"Aku tahu kondisi sebenarnya dirimu Kibo ... namun dengan kondisimu yang seperti ini, akhirnya kita bisa bertemu kembali ...."


Kibo kebingungan dengan situasi ini, apakah ini hanya mimpi? Atau sebuah ilusi yang dibuat otaknya? Atau mungkin saja ....


"Dengar Yizi, mungkin ini adalah kondisi terburuk yang kualami di dalam hidupku saat ini, namun jika saat ini aku bisa bertemu denganmu, itu saja sudah membuatmu cukup lega ...."


"Maafkan aku Kibo, di saat yang penting aku telah menghilang tanpa jejak ...."


"Namun kau tahu, aku sama sekali belum meninggalkan dunia ini ...."


Kibo tersenyum kecil. "Sudah kuduga, aku sendiri memercayai hal itu lho ...."


"Namun Yizi ... aku minta maaf ...sepertinya aku akan mendahuluimu untuk pergi dari dunia ini ...."


Kibo melihat Yizi hanya terdiam ketika mendengar hal itu, ini membuat situasi hening yang cukup dalam.


"Aku tahu Kibo ... mungkin penderitaanmu selama ini terasa berat untuk ditanggung ... namun kau harus sadar bahwa kamu ini tidak sendiri ...."


Kibo tersenyum mendengar balasan yang amat ingin di dengarnya itu. "Ahaha, aku tahu hanya saja ... aku sepertinya telah menjadi pemimpin yang buruk bagi kelompok kita ...."


Yizi meletakkan tangan kanannya di dagunya seperti terlihat sedang berpikir. "Hmmm, siapa yang mengatakan hal itu padamu? Kurasa ... ah! Mungkin ada beberapa orang yang berkata seperti itu?"

__ADS_1


"Kau tahu Kibo ... perkataan yang tidak membangun jangan terlalu dipikirkan ... kau sudah menjadi pemimpin yang hebat bagi Alliance Fight's ...."


__ADS_2