
"Tu-tuan Kibo, telah tiada ... hal ini benar-benar terjadi Tuan Yizi ...." Salah satu pria besar mengatakan hal itu pada Yizi.
Para anggota Alliance Fight tertunduk ketika mendengar kabar menyedihkan ini, sekilas pantulan cahaya bulan terlihat di kepalanya yant botak itu.
"...."
Malam yang dingin dan kelam menjadi saksi bisu bagi Yizi ketika mendengar hal itu.
Alis, kumis dan janggutnya bergetar pelan setelah ia mendengar kabar ini.
Yizi benar-benar tidak percaya akan hal yang telah didengarnya itu, ia tidak menyangka hal yang paling ia takutkan itu terjadi.
Yizi tertunduk, saat ini emosinya bergejolak di dalam dirinya. "Kalian belum menceritakan siapa yang telah membuat Kibo menghilang dari dunia ini ...."
Tatapan Yizi begitu tajam pada seluruh anggotanya itu, seakan ia menuntut jawaban sesungguhnya dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
"Katakan padaku, siapa yang membunuh Kibo?!"
Danny terus berupaya untuk menerobos kerumuman orang-orang tahanan sel ini untuk mengetahui keberadaan Yizi saat ini, begitupula dengan Brock, Vincent dan tidak lupa sang ksatria suci, Arthur juga mengikutinya saat ini.
Setelah beberapa saat Danny akhirnya menemukan Yizi yang nampak tengah berbicara dengan sekumpulan pria besar yang tidak ada rambutnya.
__ADS_1
Danny bergegas untuk mendekati Yizi, ia terlihat termenung seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Yizi?" Danny semakin dekat dengan Yizi, namun dia sama sekali tidak membalas panggilan Danny.
Perlahan namun pasti Yizi menoleh, ekspresinya menahan marah ia terlihat sangat jengkel saat ini, entah seberapa besar kemarahannya itu, rasanya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Danny merasa aneh dengan sikap Yizi itu, selama ia melihatnya tidak pernah Yizi menampakkan raut muka apapun, bahkan ekspresi apapun, namun sekarang tak ada hujan, angin, petir, guntur, bahkan badai ,saat ini Yizi menunjukkan ekspresi untuk pertama kalinya, ekspresi marah.
Yizi segera beranjak dari tempatnya itu, ia berbalik dan mengacuhkan Danny yang sedari tadi mencoba menyapanya.
Para tahanan lain yang melihat ekspresi Yizi yang kesal membuat mereka ketakutan, akhirnya mereka memilih lari menyingkir menjauhinya.
"Sepertinya mereka telah melihat sesuatu yang mengerikan," jawab Brock seadanya, karena memang dia pun belum mengetahui mengapa orang banyak itu lari seakan menjauhi sesuatu.
Arthur sendiri tidak berkomentar apapun, ia tetap berjalan bersama dengan Brock dan juga Vincent.
Tak lama seluruh orang telah lari, kini Brock, Vincent, dan Arthur melihat Yizi sedang berdiri saja di seberang sana.
"Tunggu, Brock ... bukankah itu Yizi? Mengapa dia seperti terlihat sedang marah?" Vincent penasaran mengapa Yizi terlihat marah kali ini.
"Benarkah?! Kukira Yizi itu sama sekali tidak mengeluarkan ekspresi lagi ... sudah lama ia tidak menunjukkan eskpresi yang menunjukkan emosinya itu."
__ADS_1
Arthur mendengar pembicaraan mereka berdua. "Tidak menunjukkan eskpresi?"
"Be-benar Tuan Arthur, rumornya Yizi memang tidak pernah menunjukkan ekspresi selama ia di tahan di sini tidak diketahui dengan pasti mengapa dia bersikap seperti itu."
Setelah mendengar penjelasan Brock, Arthur masih sedikit heran mengapa ada seseorang yang menghilangkan ekspresinya seperti itu, mungkinkah ada alasan tertentu?
Langkah Yizi mulai cepat dan terus makin cepat.
"Brock? Apa yang akan terjadi pada kita?" Vincent menjadi tidak yakin ketika melihat Yizi yang sedang marah itu berjalan mengarah kepadanya.
Brock menelan ludahnya sendiri. "Entahlah Vincent, pikirkan saja dahulu keselamatanmu, lalu aku akan pikirkan keselamatanku sendiri, di saat seperti ini lebih baik kita pikirkan keselamatan kita masing-masing saja." Brock berupaya untuk tetap tenang ketika mengatakan hal itu, namun tetap saja nada ketakutan tidak bisa disembunyikannya.
"Brock?!"
Brock dan Vincent sedikit bergemetar ketika Yizi tengah berjalan cepat mengarah pada mereka itu.
"Arthur!"
Arthur yang menyadari bahwa namanya yang disebut itu merasa heran mengapa sang pria mirip bapak-bapak, berkumis dan berpenampilan dewasa itu berteriak padanya.
"Beraninya kau!"
__ADS_1