Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 368: Menyalahkan


__ADS_3

Danny merasa tidak bisa berpikir jernih lagi, selama ini ia menahan untuk tidak lagi ingat akan kejadian lama yang membuatnya frustasi itu, namun sekarang ia benar-benar teringat dan ingin melampiaskan semuanya yang ada dalam hatinya tidak peduli dengan apapun yang yang terjadi nantinya.


"Kau! Mengapa kau meninggalkanku dulu?!" Danny berteriak sambil memunjuk pada Patricia yang sedang cemas dan khawatir padanya itu.


Patricia yang tiba-tiba dibentak seperti itu malah semakin tidak paham dengan apa yang sebenarnya temannya ini pikirkan, mengapa ia tiba-tiba marah kepadanya sekarang?


"A- apa? Kapan aku meninggalkanmu Danny?" Patricia melihat begitu seriusnya raut wajah Danny yang kesal itu, bahkan ia baru pertama kali melihat Danny semarah ini dan lagi, marah kepadanya.


"Dulu! Dulu kau yang menyelamatkanku dan kau juga meninggalkanku tanpa alasan!" Mata Danny sedikit membesar tanda amarah dan pedih yang amat dalam, bisa dilihat ia tidak sepenuhnya marah, ada sedikiy raut kesedihan di balik wajahnya yang marah itu.


Danny tidak sengaja mengigit bibirnya sendiri, bahkan sampai sedikit berdarah saking kesalnya ia pada seornag yang sedang ia ajak bicara itu, ia mengatakan semua yang ada dalam hatinya, emosinya yang ia pendam selama ini tanpa peduli kenyataan yang sebenarnya.


Patricia benar-benar merasa bahwa amarah yang diucapkan dengan keras oleh temannya itu memang untuk dirinya, ia memang sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud olehnya, namun meskipun begitu ia tidak ingin dirinya lepas kontrol juga hanya karena membela diri dan mengakibatkan perdebatan yang berkepanjangan.


Daripada ikut membela diri karena perkataan amarah temannya yang tidak dimengertinya, Patricia berusaha untuk mengendalikan emosinya agar ia jangan sama dengan Danny dan semakin memperkeruh suasana.


Meskipun tidak tahu alasan yang sebenarnya temannya itu bersikap dan tiba-tiba marah padanya itu, namun Patricia tetap percaya bahwa semua ini pasti ada alasan yang tidak diungkapkan oleh temannya itu.


Patricia melihat begitu jelasnya raut wajah Danny yang masih marah dan frustasi masih menatapnya saat ini, meledakkan semua yang ia pendam sejak lama kepadanya saat ini.


Setelah beberapa saat yang singkat Patricia bisa meredam emosi dan pembelaan yang tadinya ingin ia ungkapkan itu, perlahan ia menyentuh pipi Danny.


"Ada apa Danny?" Suara lembut dari Patricia memecahkan suasana di sini, Danny yang melihat bagaimana seorang yang telah menerima amarahnya itu malahan tidak marah kembali padanya merasa heran, padahal amarahnya itu sangat pantas dibalas dengan hal yang sama.


Danny yang menganggap Patricia adalah alasan mengapa dia terus-terusan merasa dan melihat keberadaan Cecilia yang memang itu begitu menyakiti hatinya, terlebih lagi setelah Cecilia meninggalkannya tanpa sebab.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" Tatapan mata biru Patricia makin dalam melihat Danny yang tadinya ditelan amarah itu, malahan Danny yang masih merasa marah dan sedih yang bercampur itu menjadi ragu apakah dengan menyalahkan seorang yang terus-terusan mengingatkannya akan teman lamanya itu benar?


Terlebih lagi karena persamaan pada wajah mereka, hal itulah yang tidak bisa dihindari atau diubah bagaimanapun juga, karena memang Cecilia dan Patricia begitu mirip satu sama lain.


"A- aku ...." Danny bergetar melihat apakah seorang yang menerima kemarahannya itu adalah orang yang bersangkutan atau bukan, atau itu hanyalah sebagai pelampiasan saja karena kefrustasiannya itu?


Ketidakjelasan perasaan yang dirasakannya kini berpengaruh banyak pada Danny saat ini, ia ingin sekali banyak menyalahkan orang yang mirip dengan teman dulunya itu, sampai ia benar-benar merasa lega dan tidak ada lagi yang dipendam dalam hatinya.


Namun karena sikap dari orang yang telah dimarahinya berbeda dari apa yang seharusnya, ini membuat kepala Danny menjadi sedikit lebih dingin dari yang seharusnya, jadinya membuka celah kecil bagi pikirannya untuk memandang kembali apa yang sebenarnya sedang dilakukannya.


Rasa sesak dan sedihnya itu ia semburkan pada seorang yang menjadi pemicu mengapa ia bisa mengingat kejadian lama yang tidak mau diingatnya itu, kepergian teman penyelamatnya itu dan menganggapnya adalah seorang yang sama saat ini.


Karena ketidakstabilan emosi itulah yang menyebabkan Danny menjadi kalut sekarang, ia tidak bisa lagi membedakan siapa yang harus disalahkan sebenarnya yang sebenarnya bukan semestinya temannya yang bernama Patricia itu yang menerima semburan amarahnya itu.


Ataukah ia lebih memilih untuk menyalahkan dirinya? Ya, bahkan terkadang ada dalam pikirannya mengapa bisa-bisanya ia kehilangan kedua teman lamanya dalam waktu singkat dengan perpisahan yang tidak begitu baik? Siapa yang harusnya disalahkan di sana? Apakah dia kurang kuat, ataukah kurang usaha atau mungkin ada faktor lain yang tidak diketahuinya?


Patricia yang melihat raut wajah Danny yang tadinya begitu marah dan bahkan alisnya secara tajam menurun ke bawah, perlahan raut wajahnya itu menjadi tenang, sedikit demi sedikit ketika ia melakukan hal yang tidak semestinya dilakukan itu.


Perbuatan tenangnya itu membuat Danny tertular ikut juga tenang, ini terlihat Patricia membuang air di atas api yang tengah menyala dengan besar itu, hingga akhirnya Danny bisa lebih tenang dan lebih bisa lagi mengontrol pikirannya agar kembali menjadi seperti biasanya.


Patricia masih memegang pipi Danny dengan tangan kanannya, tanpa ia duga ada air yang menetes pada matanya, yang pasti bukan hujn karena memang cuaca sedang cerah saat ini.


Melainkan air mata dari pemuda yang sekarang terlihat sedih itu, kemarahannya sudah padam dan kini berlanjut dengan kesedihan, mirip sekali dengan rasa putus asa dan menahan beban yang juga ada dalam hatinya itu.


Memang Danny merasa kepedihan yang dituangkan dalam amarahnya itu sudah berakhir dengan cepat karena ia sudah mulai bisa mengontrol perasannya agar kembali bisa berpikir secara benar dan terarah.

__ADS_1


Sekarang yang ada ia terlihat meneteskan air mata tanda kepedihan sambil melihat seseorang yang ada di dekatnya itu yang ternyata ia sudah sadari bukan yang seharusnya disalahkan atas hal ini.


Danny yang tadinya berusaha untuk memahami Cecilia dan Patricia adalah dua orang yang berbeda, sempat ia bisa berpikir dan berpendapat seperti itu namun ternyata ia bisa lepas kendali dan pada akhirnya memilih untuk mengikuti perasaannya sendiri dibandingkan dengan kenyataan yang ada.


Patricia yang melihat bagaimana perubahan ekspresi secara cepat yang terjadi pada temannya itu, pada akhirnya ia tahu bahwa ada yang sedang tidak baik-baik saja darinya dan semuanya benar-benar perlu penanganan lebih lanjut.


Patricia kemudian menghapus air mata yang keluar dari pelupuk mata temannya itu, sekaligus jika ia bisa, ia ingin mendengarkan apa yang sebenarnya dialami oleh temannya itu hingga akhirnya ia bisa lepas kendali seperti ini.


Danny akhirnya bisa mengakhiri perasaannya yang kacau itu, ia berusaha untuk berpikir jernih dan tidak lagi mempedulikan emosinya yang bahkan hingga saat ini terus menyuruhnya untuk menyalahkan diri sendiri, keadaan dan juga temannya yang sedang bersama dengannya ini.


Setelah menghapus air matanya, akhirnya Patricia mulai berbicara pada Danny untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padanya sekarang ini.


"Semuanya baik-baik saja Danny." Patricia berusaha untuk menyalurkan ketenangan yang dipunyainya itu pada temannya yang kini sangat membutuhkan hal tersebut.


Danny kini melihat kembali pada Patricia, ia melihat mata birunya terlihat indah, bahkan berwarna sama indahnya dengan langit cerah saat ini, yang juga tatapan dalam yang sedang dilihatnya ini adalah bukti bahwa memang temannya ini benar-benar peduli pada keadaannya sekarang ini.


"Ah ... Maafkan aku Patricia." Danny tidak punya kata-kata lain lagi selain memang meminta maaf atas perkataannya yang keras pada temannya yang tidak seharusnya ia perlakukan seperti itu.


Patricia tersenyum. "Tidak apa, kini kau sudah mulai tenang ... itu hal yang bagus."


Danny kira Patricia akan marah karena sikapnya yang terlihat menyebalkan itu, namun sebaliknya ia begitu peduli dan tidak memedulikan apa yang barusan terjadi.


Danny melihat Patricia begitu peduli padanya dan masih melihatnya dengan penuh arti, seakan berarti ia akan siap kapan saja untuk mendengarkan ceritanya yang memang adalah alasannya juga mengapa ia kehilangan kendalinya saat ini.


Danny ternyata tidak bisa lagi untuk menyimpan semuanya sendiri, ia pada akhirnya memutuskan untuk membagikannya dengan seorang yang ia percaya, Patricia.

__ADS_1


"Setiap kali melihatmu, aku teringat akan seseorang yang bersamaku dulu, teman lamaku." Danny mulai menceritakan apa yang memang menjadi beban bagi hatinya itu.


Patricia yang pertama kali mendengar hal ini merasa penasaran, akan siapa sebenarnya teman lama temannya itu?


__ADS_2