
‘ADA JUGA YANG TIDAK PEDULI!’ Olivia menyesal kenapa ia tidak meminta izin saja dari pemilik rumah ini, sudah pasti semuanya sudah jelas dan tidak perlu terjadi hal seperti ini.
Hanya mengandalkan prediksi saja belumlah cukup, Olivia kecil akhirnya tidak bisa meyakinkan sang pemilik rumah ini dengan mudah.
Sret... sret....
Olivia kecil menelan ludahnya sendiri, di depannya adalah Tuan rumah sedang menatapnya tajam memintanya menyerahkan diri, dan bilamana ia menurutinya sudah pasti ia akan kena hukuman.
Kesaksian iblis yang punya uang akan lebih didengarkan ketimbang pembelaan yang biasa saja. Olivia kecil sering mendengar cerita ini dari orang-orang di kota.
Tentu bukanlah hal yang sulit bagi tuan rumah yang terpandang itu untuk menuduhnya hanya dengan alasan sekarang ia melihat bocah kecil ada di atap rumahnya.
‘Aku bisa dipenjara dan orang tuaku akan diperas!’ Pikiran seperti ini malah kembali muncul di benak kecilnya. Yang di mana iblis kecil sepertinya seharusnya memikirkan tentang permainan dan kesenangan masa kanak-kanak, eh malah terjadi peristiwa berat seperti ini.
“Serahkan dirimu bocil!” Sekali lagi Tuan rumah itu memperingatkan Olivia, yang membuat Olivia berkeringat dingin dan juga makin gemetaran.
Kebetulan di sisi atap datar rumah seorang kaya ini, tidak ada pengaman tambahan lain selain hanya batas dinding yang rendah, bahkan Olivia kecil bisa melihat dengan jelas dibalik tembok putih dengan ukuran pendek ini.
Olivia tidak sepenuhnya berdiri di dekat tembok putih pendek itu, karena takut ada sesuatu yang bisa membuatnya jatuh ke bawah, lagipula ia tidak perlu berdiri terlalu pinggir juga, ia sudah bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di bawah dengan jarak aman.
Olivia kecil menatap tuan rumah itu dengan tatapan cemas, khawatir dan dengan seabreg perasaan lainnya, ia tidak sadar kakinya makin lama malah mundur ke belakang semakin mendekati tembok putih yang tadi dihindarinya.
“Bocah, kalau aku jadi kau, aku akan diam di situ.” Tuan rumah itu tidak memberikan solusi apapun, melainkan tetap menatap tajam, mengintimidasi Olivia agar takut dan tidak bergerak lebih banyak lagi.
‘Seram....’ Olivia sama sekali tidak menggubris perkataan dari tuan rumah itu. Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah menjauh dari pemilik rumah yang menyeramkan itu.
Syut.
“Ah.” Olivia kecil terjatuh ke bawah.
HUSH!
‘ADUDUH!’
Siapa sangka tembok putih yang ada ia hindari sebelumnya malah tak menahannya sama sekali, yang pada akhirnya menyebabkan Olivia kecil terjatuh bebas.
“WUAH!” Olivia kecil tidak bisa menahan kepanikannya, ia tidak tahu ternyata tembok putih yang ada di atap rumah tadi sama sekali tidak padat seperti yang seharusnya!
‘Mati aku!’ Olivia menutup matanya, tidak kuasa melihat apa yang akan terjadi setelah ini. Setidaknya jika ia mati ia tidak perlu melihat tanah yang akan dihantamnya.
__ADS_1
‘Kenapa aku tidak lari saja dengan teman-teman!?’ Malahan ada rasa penyesalan dalam hati Olivia kecil. Kalau saja ia tidak penasaran melihat sang iblis hebat, tentunya ia tidak perlu jatuh bebas dari bangunan tinggi itu.
Mungkin dengan begitu ia masih bisa melihat hari depan yang cerah....
....
Grep.
Setelah beberapa saat terjatuh dan disertai pikiran-pikiran yang berkecamuk, entah mengapa Olivia malah merasa seperti sedang digendong oleh seseorang, dan terlebih lagi terasa tangannya begitu besar.
Apakah mungkin menghantam tanah terasa seperti ini? Ataukah hanya halusinasinya saja? Atau mungkin ia sudah berada di alam lain sekarang?
“Kau tak apa nak?” Terdengarlah suara pria yang gagah, membuat Olivia kecil perlahan membuka matanya.
“!”
“TUAN DOMER!?” Olivia kecil tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagaimana tidak? Ia saat ini sedang digendong oleh sang komandan besar iblis sendiri.
“Ah kau mengenalku.” Domer terlihat ramah dan dengan penuh kehati-hatian ia menurunkan bocah iblis perempuan ini.
“Kau tidak perlu naik ke atas untuk melihatku.” Domer mengusap-usap kepala Olivia kecil, dan di saat bersamaan iblis kecil itu menutup matanya sembari tersenyum.
“Tidak, biarkan saja,’ jawab Domer pendek.
“Hei anak siapa itu jatuh dari langit?” Sementara kemunculan Olivia kecil secara tiba-tiba membuat situasi jadi gaduh.
“Dia pasti bocah tengil yang cari perhatian.” Beragam komentar terdengar dari para iblis yang tengah berkerumun ini, namun Domer sama sekali tidak terganggu sedikitpun.
“Maaf tuan, dan terima kasih atas pertolonganmu.” Olivia kecil tertunduk, ia begitu terpengaruh dengan beragam komentar yang dilontarkan oleh para iblis ini.
Kenyamanan yang ia dapatkan dari iblis hebat ini memang memuaskan, namun mendengar beragam komentar tidak enak didengar membuat semuanya malah jadi menyedihkan.
“Tidak apa, tadi tidak ada siapapun yang mau menggendongmu untuk melihatku ya?” Domer menanyakan hal ini karena jika saja ada yang memberi bantuan seperti itu tentu iblis kecil ini tidak akan naik ke atas bangunan yang tinggi.
Olivia menggelengkan kepalanya.
Sret.
“Eh?” Seketika itu juga Domer kembali menggendong Olivia, namun karena tubuhnya yang besar, ia akhirnya menempatkan Olivia di bahu kirinya.
__ADS_1
“Bagaimana?” Domer melihat iblis kecil itu dengan penuh arti.
“Nyaman.” Olivia mengatakan apa yang dirasakannya langsung. Instingnya mengatakan tidak ada gunanya untuk tidak enakkan di saat seperti ini.
“Siapa namamu?”
“Olivia.” Olivia tidak mengira sang komandan besar iblis mau menanyakan namanya.
“Nama yang bagus.” Domer melihat ke sekitaran kerumunan ini, ia bisa merasakan adanya aura yang berbeda dari banyak iblis ini, seolah merasa terganggu dengan apa yang mereka lihat.
“Kalian dengar! Aku sudah disambut iblis kecil ini! Bersorak untuk Olivia!”
“Wah!”
“Dia diakui Tuan Domer!”
“Hebat sekali!”
“Olivia! Olivia!”
Seketika itu juga kerumunan iblis itu jadi kembali meriah dan bersorak untuk Olivia.
Tidak pernah terpikirkan olehnya bisa berada sedekat ini dengan sosok iblis hebat ini.
Padahal ia pikir ini adalah hari buruk di mana ia akan kehilangan semuanya.
Namun ternyata takdir berkata lain, sang komandan besar iblis mau untuk menyelamatkannya dan bahkan memberinya penghormat yang tak pantas diterimanya.
Jikalau ia tidak memilih untuk melihat sang komandan besar iblis ini, tentu ia tidak akan mendapat kesempatan spesial ini, yang di mana tidak banyak iblis lain bisa dapatkan.
Kapan lagi bisa digendong oleh komandan besar iblis? Ini melebihi ekspektasinya, yang tadinya hanya berharap melihat saja, namun mendapat lebih dari itu.
Siapa sangka sang komandan besar iblis yang besar, dan gagah ini ternyata punya hati yang baik?
Tanpa iblis kecil itu sadari, ia menutup matanya sembari menebarkan senyum pada kerumunan yang hangat ini.
‘Aku juga ingin jadi seperti Tuan Domer.’
*
__ADS_1