
“Kau benar Danny, aku sudah mati.”
“!” Percaya atau tidak gadis Dark Shadow terkejut dengan apa yang didengarnya, namun tidak bisa diketahui siapapun mengingat dia hanya berwujud bayangan hitam saja. Siapa yang bisa memahami ekspresi dari bayangan hitam saja?
“Tapi bagaimana bisa?” Danny penasaran akan kejadian seperti ini.
Mengapa ia bisa melihat seorang yang sudah tiada dengan wujud seolah orang itu masih hidup? Karena sejujurnya tidak ada hal yang aneh dari Tuan Hill kecuali penampilan rambut dan janggut putih serta pakaian serba putih yang dikenakannya.
“Jangan remehkan pemegang batu permata mulia sepertiku.” Orang tua itu memasang raut wajah bangga.
“Lebih baik terlambat daripada tidak bertemu sama sekali,” tambah orang tua itu pelan sembari menatap penuh arti.
Danny terdiam, ia tidak menyangka malah bertemu dengan arwah seorang pemegang batu permata mulia, seketika itu banyak pertanyaan yang muncul dalam pikirannya.
Apakah ras demi human memiliki kekuatan seperti ini? Ataukah hanya orang-orang tertentu saja? Apa sebabnya beliau bisa kehilangan nyawanya?
Tidak lucu apabila Tuan Hill meninggal karena sudah terlalu lama hidup di dunia, Danny tahu ras demi human terutama para pemegang batu permata mulia punya umur panjang yang jauh dari standar manusia.
Kalau begitu hanya tinggal tersisa satu kemungkinan lagi....
Danny berharap ia mendapat penjelasan rinci dari orang tua ini, namun berkaca dari peembicaraan mereka sebelumnya, ia rasa harus menilai apa yang terjadi menurut pandangannya sendiri.
Grep.
SSHHHH....
Danny mengeratkan genggaman tangan kanannya dan muncullah seberkas cahaya kecil yang keluar dari sana. Kini keempat batu permata mulia sudah tidak ada lagi dalam genggamannya.
“Kami terlambat.” Danny tidak mengira akan terjadi hal seperti ini, sebelumnya ia memang sudah berusaha secepat mungkin menemukan seluruh batu permata mulia yang ada, namun pada akhirnya ia masih belum cukup cepat untuk mencegah hal ini terjadi.
“Ini bukan salahmu anak muda.” Tuan Hill tidak mengatakan ini adalah salah siapapun.
__ADS_1
“Aku masih punya kesempatan kedua yang diberikan kekuatan leluhurku untuk bicara denganmu.” Untuk pertama kalinya orang tua itu menjelaskan sesuatu pada Danny, yang akhirnya cukup mencerahkannya sekarang.
‘Jadi beliau bisa kembali dalam wujud semula meski hanya sebatas rohnya saja?’ batin Danny yang akhirnya tahu sedikit mengapa hal seperti ini bisa terjadi.
Ini bukan karena ia bisa melihatnya atau tidak, melainkan karena memang seperti itulah kekuatan yang dimiliki oleh beliau ini.
“Iblis sudah beraksi, seberapa banyak yang telah kau lakukan?” tanya Tuan Hill yang membuat Danny terdiam beberapa saat.
“Seperti yang Tuan tahu, saya hanyalah manusia biasa yang tidak bisa melakukan banyak hal.” Danny menjawab apa adanya, dan beberapa saat kemudian ia melanjutkan kembali perkataannya.
“Saya bahkan tidak becus dalam mengendalikan kekuatan yang telah dipercayakan ini.”
“Tapi saya masih punya harapan... umat manusia masih bisa diandalkan melawan iblis!” Tanpa Dany sadar, dari dadanya muncul seberkas cahaya yang berwarna-warni yang menunjukkan eksistensi dari batu permata mulia yang ada padanya saat ini.
Hill bisa melihat tekad kuat yang ada pada pemuda ini, yang pada awalnya tidak ia kira adalah pemegang batu permata mulia yang terpilih.
Karena ia sudah mendapatkan gambaran kasar mengenai apa yang telah dilalui pemuda ini, dari awal ia berusaha untuk mendapatkan batu permata mulia ini, dari para pemegang batu permata mulia yang lain.
Tekad kuat adalah modal utama untuk melakukan sesuatu, dan Hill bisa melihat dengan jelas pemuda bernama Danny ini punya sesuatu yang unik dalam dirinya.
Seperti yang diketahui ras demi human punya kemampuan untuk berkomunikasi dari jarak jauh, hal ini juga berlaku pada para pemegang batu permata sihir mulia.
“Iblis sudah menghancurkan pusat kota Kerajaan Timur, dan teman-temanku masih di sana.” Danny tertunduk, dadanya terasa berat memikirkan apa yang bisa terjadi pada teman-temannya yang jauh darinya.
Dengan musuh yang jauh lebih kuat dan bisa melakukan apapun, apalagi yang bisa ia pikirkan selain kemungkinan terburuk yang bisa terjadi di sana?
“Mengesankan ada yang mau mengikutimu, tapi mereka tidak berencana menyia-nyiakan nyawanya bukan?” Hill memandang Danny serius, sorot matanya terlihat tidak sabar mendengar respon apa yang akan diterimanya nanti.
Entah apa yang dimaksud oleh orang tua itu, perkataannya terdengar mirip dengan apa yang dikatakan Freiss. Tidak heran pemegang batu permata mulia mengatakan hal seperti ini, sebagai wujud kepeduliannya pada rekan-rekan pemuda ini.
Danny terdiam beberapa saat, entah mengapa ia tidak merasa perlu dinasihati sekarang. “Tuan, jika misi ini tidak bisa diselesaikan, aku harus kembali ke tempat teman-temanku.” Nada suaranya bergetar, menahan emosinya agar tidak mengeluarkan nada tinggi.
__ADS_1
Danny sudah cukup mendengar soal teman-temannya yang dinilai ‘bodoh’ oleh orang lain. Tidak perlu mengingatkannya berulangkali, Danny tahu Vincent, Brock dan Patricia adalah orang-orang yang hebat dengan cara tidak biasa.
Tidak banyak orang mau meresikokan hidupnya untuk sesuatu yang berbahaya, meninggalkan kehidupan biasanya dan berjalan untuk sesuatu yang tidak pasti.
Danny tidak tahu isi hati teman-temannya seperti apa, namun setiap kali Danny terpikirkan ini, ia teringat kembali bagaimana tekad mereka yang tulus yang mau mengikutinya sampai saat ini.
“Berada dalam bahaya bersama temanku lebih baik daripada harus mendengar mereka dihina.” Danny menunjukkan sorot mata tajam, sudah cukup ia merasa terbeban karena teman-temannya yang mengikutinya. Kini ia tahu yang perlu dilakukan adalah membela tekad rekan-rekannya.
Ekspresi orang tua itu berubah sedikit, ia tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini, ia pikir pemuda itu hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli pada orang yang mengikuti jejaknya.
Karena mau dipikir sebagaimanapun sulit menemukan orang-orang seperti rekan pemuda ini, namun juga tidak mustahil.
“Kau beruntung Danny, punya rekan seperti mereka.” Hill kini terdengar seperti menyatakan sesuatu yang baik.
“Kita harus segera menghentikan penyerangan itu.” Danny langsung pada intinya, ia tidak mau membuang waktu yang berharga.
“Demi mendapat senjata kuat untuk melawan para iblis, apa yang harus kulakukan?” tanya Danny dengan nada suara yang tinggi dan tidak sabar,
Apa dengan berlatih kembali bersama dengan Tuan Hill? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk itu?
“Tunggu dulu....” Danny berhenti di sini, kenyataan pemegang batu permata mulia yang pada hakikatnya sudah tiada ini membuatnya terpikir suatu hal.
“Kau benar Danny, aku sudah mati dan batu permata mulia regenrasi juga sudah tidak ada padaku.”
“....” Danny terdiam, apa yang dikatakan Tuan Hill sejalan dengan apa yang ada dalam pikirannya.
“Jadi misimu benar-benar berakhir.” Gadis Dark Shadow akhirnya mengangkat suaranya.
“.... Itu berarti Tuan....” Perkataan Danny terhenti di tengah jalan.
“Lawan yang terakhir kau hadapi, dialah yang mengambilnya,” jelas Hill.
__ADS_1
‘Tidak mungkin....’
‘Cecilia sudah mengambil batu permata mulia regenerasi?’ batin Danny perlu waktu untuk menerima informasi yang baru saja ia dengar ini.