Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 138: Berita Buruk


__ADS_3

Suasana semakin malam diikuti dengan semakin cerahnya bulan menyinari mereka saat ini.


Bulan bulat sempurna dan nampak besar serta dekat dengan mereka saat ini.


Saat inilah pula para tawanan itu melihat bulan yang bersinar terang setelah tidak melihatnya dalam jangka waktu yang cukup lama.


"Eh lihat bulannya begitu terang dan indah," kata salah satu satu dari tawanan itu, diikuti pula dengan seluruh orang yang ada di sana melihat ke langit yang memang terlihat indah saat ini.


"Wah, kau benar, sudah lama kita tidak memperhatikan alam sekitar, rasanya pemandangan ini membawaku pergi dari kejenuhanku ketika berada di sel."


Mereka nampak mengobrol satu sama lain tentang apa yang mereka lihat saat ini. Pemandangan yang sederhana namun sangat berarti bagi mereka yang sudah lama tidak melihatnya.


Selama ini semua orang yang hidup di sini sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk menikmati dan merasakan bagaimana nikmatnya kebebasan alam ini.


Bahkan mereka sampai lupa akan perasaan bebas itu sebagai akibat karena di rampasnya hak tersebut dari mereka semua.


Kehidupan di dalam bangunan sudah menjadi makanan sehari-hari mereka, sekalinya mereka menghirup udara bebas, saat itulah mereka mulai bisa menikmati hal-hal yang sederhana ini.


Danny, Brock, Vincent dan Arthur terbawa obrolan tentang suasana ini bersama dengan kerumunan orang banyak itu.


Vincent begitu senang dan sangat heboh ketika mengetahui hidup yang bebas menantinya saat ini.


Perjuangannya selama hampir lima tahun itu terbayarkan dengan perasaan yang benar-benar baru, melebihi ekspektasi dirinya, ia sangat puas dengan hal yang terjadi saat ini.


Begitupula dengan Brock, dengan tenang akhirnya ia bisa menghirup udara bebas yang memang hampir tidak ia percayai, semuanya telah terbayar, ia benar-benar bersyukur kejadian hari ini benar-benar nyata adanya.


"Brock, kebebasan ini, akhirnya datang pada kita semua ...."


"Kau benar Vincent, ini seperti mimpi bagiku," ucap Brock cepat, raut matanya menandakan harapannya telah kembali, masih ada masa depan yang menunggunya saat ini.


"Kalau kau berpikir ini mimpi, bolehkah aku memastikannya?" tawar Vincent.


"Bagaimana caranya?" Brock penasaran apakah memang ada cara memastikan bahwa ini mimpi atau buka.


"Tamparan yang keras pada kedua pipimu."

__ADS_1


"Tidak terima kasih." jawab Brock cepat, seharusnya ia bisa lebih menebak bahwa yang yang dilontarkan oleh Vincent adalah tawarannya menjebak.


Vincent malah terkekeh puas karena telah berhasil menjebak Vincent dengan trik kecilnya itu.


Arthur sendiri tengah memperhatikan keadaan sekitar, ia melihat banyak orang yang menjadi tawanan di sini, belum lagi dengan para perempuan dan orang tua yang berada dalam bangunan.


Ia saat ini tengah memikirkan bagaimana cara agar mereka semua bisa keluar dengan aman dari tempat ini, memberikan kebebasan hidup lagi pada mereka semua.


Sedangkan yang lainnya masih belum sadar akan hal tentang kebebasan mereka ini, namun cepat atau lambat pastilah mereka akan segera tahu.


Di sisi lain, Yizi masih menunggu jawaban dari teman-teman seperjuangannya itu, tentang sahabatnya yang selama ini ia tidak bertemu dengannya.


"He-hei, mengapa kalian semua diam?" Yizi mulai merasakan ada yang aneh di sini, tampak di wajah para anggota Alliance Fight's, ekspresi sedih dan ketidakmauan mereka menjawab apa yang di tanyakan Yizi pada mereka.


"Dia baik-baik saja kan? Dia mungkin sedang mengumpat dan akan segera mengagetkanku kan?"


"He-hei, Kibo keluarlah! Aku tahu mungkin saja kau bersembunyi di balik pepohonan itu!" seru Yizi dengan keras ke arah pepohonan banyak yang gelap.


Ia berpikir mungkin saja Kibo berada di sana, kemungkinan besar sahabatnya itu bersembunyi sementara darinya, Yizi mulai tidak sabar karena penasaran akan keberadaan kibo saat ini.


"Hei! Kibo! Apa kau bersembunyi di sana? Keluarlah, aku ingin bertemu denganmu!" Yizi mulai menyusuri ke arah pepohonan yang tidak tersentuh cahaya rembulan, begitu gelap, ia tidak bisa melihat apapun selain kegelapan di sana.


Mereka semua terdiam membisu, di tengah pertanyaan tuannya itu, seakan memang tidak ada jawaban yang benar-benar dapat menyenangkan hati tuannya itu.


Yizi kembali pada sahabat-sahabatnya itu setelah beruasaha mencari Kibo di semak-semak dan di pepohonan itu. "Ah, aku tidak menemukannya sama sekali, apakah ia memakai sihir untuk bersembunyi? Apakah kalian tahu sesuatu? Ayolah jangan bermain-main lagi."


Yizi mulai menagih dan mempertanyakan keberadaan Kibo yang tiada saat ini, ia gusar dan tidak bisa menemukan jawaban akan hal yang ia tanyakan itu.


Namun mereka tertunduk lesu, entah mengapa mereka menunjukkan sikap dimana orang berbadan besar kurang cocok bila bersikap seperti itu.


Ekspresi mereka berbanding terbalik ketika mereka pertama kali bertemu dengan Yizi untuk pertama kalinya, sebuah semangat yang mereka pancarkan tiba-tiba berubah haluan menjadi kesuraman.


Seluruh anggota organisasi Alliance Fight's nampak sekali terlihat menyembunyikan suatu hal dari tuannya itu, hal yang tidak ingin mereka beritahukan padanya.


Nampak sekali mereka tahu hal yang benar-benar tidak bisa diungkapkan pada tuannya itu, sebuah kenyataan yang sulit di terima.

__ADS_1


"Mengapa kalian diam saja?"


"Kalian punya mulut kan? Lantas mengapa kalian tidak menjawab pertanyaanku?"


Yizi mulai geram dengan semua ini, ia benar-benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Ia menginginkan kejujuran!


"Aku tahu dari raut muka kalian semua, ketika aku tanyakan tentang Kibo tiba-tiba ekpresi kalian berubah, mengapa? Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"


Para anggota kelompoknya sekaligus sahabatnya itu masih saja terdiam dengan raut muka yang lesu.


"Berhenti dengan semua ekspresi kalian yang seperti itu ...."


"HEI! KATAKAN YANG SEBENARNYA PADAKU!"


Teriakan keras Yizi memecah suasana yang berada di sini, kini semua orang yang tengah memperhatikan keindahan alam itu (dalam hal ini bulan yang indah) mulai memperhatikan Yizi yang berada di depan mereka.


Kini perhatian orang banyak tertuju pada Yizi yang telah berteriak dengan cukup keras.


"Hei, itu kan Yizi? Mengapa ia bersama para pria botak?"


"Ia akhirnya bertemu kembali dengan organisasi yang membawa besar namanya itu ... Alliance Fight's."


"Wah, akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan mereka, syukurlah."


Kini mereka semua mulai membicarakan tentang Yizi sekaligus dengan


organisasi Alliance Fight's nya itu. Mereka tengah memperhatikan Yizi saat ini.


Yizi mulai berpikir yang aneh saat ini, tiba-tiba saja ia seakan mendapatkan jawabannya dari ekspresi dan sikap dari para sahabatnya dari Alliance Fight's itu.


Pikirannya mulai bermain dengan bebasnya, namun entah mengapa hal yang ia pikirkan adalah suatu hal yang paling ditakutkannya.


Ketidakberadaan Kibo di sini hanya berarti satu hal. "Maafkan kami Tuan Yizi, tuan Kibo telah tiada ...."


"...."

__ADS_1


.....


"A-apa?"


__ADS_2