
Sesosok manusia yang dilihat Danny terlihat seperti hanya bayangannya saja, hitam menyatu dengan keadaan hutan itu.
Drap!
Drap!
Semakin Danny berlari ke arah hutan sambil melihat sesosok bayangan itu, semakin hilang juga wujudnya.
"..."
Danny sama sekali tidak begitu peduli akan adanya bayangan atau apapun yang menghalangi jalannya ia hanya berpikiran satu, yaitu ia harus pergi jauh-jauh agar ia bisa benar-benar keluar dari tempat itu.
Ia tidak mau pelariannya menjadi sia-sia dan ia harus tertangkap basah kembali, Danny tidak dapat langsung kembali ke kerajaan timur, resiko tersebut telah ia ketahui sejak sebelum ia melakukan misi penyelamatan dewan ini. Yaitu bahwa Tarnatos tidak bisa memanggil kembali mereka bertiga dari lembah tengkorak, mereka harus melakukan perjalanan jauh untuk pulang sendiri.
Terlihat kunang-kunang yang sedikit menyinari perjalanan Danny seiring ia masuk lebih dalam di hutan tersebut. Cahaya yang dipancarkan kunang-kunang itu membuat perasaan Danny lebih tenang.
Terdengar beberapa jangkrik yang bersuara serta kodok, Danny mengambil jalan yang hati-hati agar ia tidak menginjak binatang yang ada di dalam hutan tersebut.
Tanpa ia sadari kunang-kunang itu semakin banyak, seakan-akan ia akan memasuki daerah hutan yang penuh kunang-kunang. Sedikit demi sedikit hutan itu dipenuhi cahaya.
"Hmm~"
"!"
Sebuah suara wanita terdengar di depan kumpulan kunang-kunang yang berkumpul di depan Danny. Karena cahayanya begitu menyilaukan Danny menghalau cahaya itu menggunakan tangannya.
Setelah cahaya itu tidak lagi bersinar terang, Danny membuka matanya perlahan-lahan.
"Baumu unik~"
Nada bicara yang sedikit lambat namun ramah, itulah yang di dengar Danny, ia kira ada orang lain yang bersamanya di hutan ini.
"!"
Danny sungguh terkejut melihat apa yang ada di hadapannya itu, ia melihat seorang perempuan muda dengan penampilan yang sungguh berbeda dibanding apa yang pernah ia lihat selama ini.
Perempuan itu memiliki antena yang bercahaya pada kepalanya, matanya besar berwarna kuning dengan bulu mata yang lentik, juga memiliki bibir yang cukup tipis, rambutnya kuningnya sedikit terurai dengan poni yang menutupi dahinya, sepertinya ia lebih tua sedikit dari Danny, ia memakai gaun berwarna putih yang juga memancarkan sedikit cahaya. Selain hal yang tadi tidak Danny temukan perbedaan lain.
"?"
"Hmmm~"
Perempuan itu meletakkan jarinya dibawah dagunya seakan sedang menilai apa yang ada di hadapannya.
Melihat penampilan wanita itu, Danny merasa sedikit terkagum oleh kecantikannya, ia tidak melihat keanehan yang ada pada wanita itu.
"Hmm?"
"Apa yang kau lihat?" kata Perempuan itu sambil tersenyum, Danny malah dibuat salah tingkah olehnya
"Oh.."
"Emmm..."
"Tidak..."
"Mengapa wanita sepertimu tinggal di hutan ini?"
Perempuan itu sedikit terkejut mendengar pertanyaan Danny, ia kira Danny akan takut dan menganggapnya aneh karena penampilannya itu namun yang terjadi adalah Danny melayangkan pertanyaan seolah-olah berbicara layaknya pada orang biasa.
"Huff~" Wanita itu terlihat menahan tertawa, Danny dibuat kebingungan olehnya
"?"
"Apa ada yang lucu?" ucap Danny sambil menatap wanita itu
Setelah beberapa saat, wanita itu mulai berbicara pada Danny.
"Kukira kau akan menganggapku aneh, dan melayangkan berbagai pertanyaan aneh juga padaku.."
"Tapi kau berbicara layaknya aku ini orang biasa.."
__ADS_1
Danny menanggapi respon wanita yang menganggap dirinya 'aneh' itu.
"Hmmm..."
"Menurutku tidak ada yang salah denganmu.."
"Yah..kukira penampilanmu memang sedikit berbeda dari apa yang pernah kulihat sebelumnya"
"Tapi, kecantikanmu itu lebih bersinar lho.."
Perempuan itu terkejut karena mendengar pujian dari Danny, ia pikir Danny adalah seorang yang mampu dengan cepat mengutarakan pendapatnya sendiri.
"Hehe... baru kali ini ada yang memujiku kembali setelah 2000 tahun lalu~"
"?!"
"2000 tahun?!"
Danny terbelalak mendengar perkataan wanita cantik itu, tidak ia sangka usia wanita itu saat ini hampir menginjak 2000 tahun
"A..apa.aku tidak salah dengar?"
"Tidak..."
"Kau tidak salah~"
Perempuan itu mulai bertanya pada Danny
"Sebelum kuceritakan semuanya padamu, apakah kau mempercayaiku?" tanya wanita itu
"Percaya?"
"Oh, itu yang kau maksud" Danny bertindak seolah ia mengetahui maksud wanita itu
"Dari awal aku tidak merasakan aura jahat darimu."
"Kukira aku dapat mempercayaimu." ucap Danny
Perempuan itu mendengar pernyataan Danny, ia pun mulai menjelaskan siapa dirinya
"Pelindung hutan sihir?"
"Pelindung hutan sihir adalah seseorang yang bertanggung jawab akan keberadaan hutan yang mengandung energi sihir~"
"Energi sihir itu bisa berasal dari alam, ditransfer, atau pula berasal dari makhluk yang tinggal di dalamnya."
"Bukankah hutan di seluruh dataran Hello ini ada banyak?" tanya Danny
"Tentu, namun tidak semuanya bisa dalam kendaliku."
"A..apa kau mengetahui Hutan Dawn Forest?"
"Dawn Forest, hutan kematian begitulah julukan ku pada hutan itu."
"Kalau tidak salah kau pernah melaksanakan misi kesana kan?" tanya Wanita itu
"Ya.." jawab Danny
"Kau dan temanmu terdesak namun meskipun begitu kau bisa selamat.."
"Apa kau tidak bisa melakukan suatu hal untuk mengembalikan Dawn Forest menjadi hutan yang aman?"
Perempuan itu menggelengkan kepalanya dan berkata.
"Sayangnya tidak bisa, kekuatan aura gelap yang ada di sana terlalu besar untuk ditaklukkan."
"Meskipun kau adalah penjaga hutan sihir?"
"Ya.."
"Apakah kau berasal dari ras manusia?" tanya Danny
__ADS_1
Mungkin pertanyaan itu terlalu "dangkal' untuk dijawab mengingat keberadaan wanita itu benar-benar jauh dari apa yang bisa dikatakan 'manusia'.
"Tidak, aku bukan berasal dari ras manusia"
"Aku dari ras Demi Human.."
"Demi Human..."
"?"
Perempuan itu tidak melihat ekspresi terkejut dari Danny
"Kau tidak terkejut?"
"Hmm"
Danny sejak awal telah menaruh kecurigaan dan pertanyaan amat besar dari pengalamannya selama ini.
"Sudah kuduga kau sudah menyadarinya ya?" lanjut perempuan itu
"Kau bisa merasakan adanya aura dari sekeliingmu~"
"Yah, belakangan ini aku juga merasa ada yang janggal, kukira ini hanya pendapatku atau memang salah..."
"Desa yang kutinggalkan itu, desa para Demi Human kan?" tanya Danny
Perempuan itu mendengar nada serius yang terucap dari Danny.
"Ya, sebenarnya ras Demi Human belum sepenuhnya dimusnahkan dari Hello ini.."
"..."
"Sudah kuduga.."
"Apa yang menyebabkan mereka masih bisa selamat?"
Perempuan itu terdiam sejenak seakan berpikir apakah layak memberitahukan rahasia tentang rasnya itu pada Danny.
"Untuk mengetahuinya kau harus melakukan sesuatu untukku.."
"Melakukan.. sesuatu?"
"Apa yang kau inginkan?"
"Kau kehilangan senjatamu kan?"
Danny melihat selueuh tubuhnya dengan seksama, tidak ia dapati selain baju semi zirah dan celana petualang yang ia pakai. Senjatanya itu ia hilang ketika pertempuan di lembah tengkorak berlangsung.
"Kukira kau benar..."
"Lantas apa yang harus kulakukan?"
"Aku membutuhkan lima batu permata mulia untuk membuatkanmu sebuah senjata."
"?!"
Danny terkejut mendengar perkataan wanita itu, ia tidak mengira akan ada seseorang yang akan membuatkannya sebuah senjata.
"A..apa kau serius?"
"Ya.."
"Senjata yang akan kubuat itu bukanlah senjata biasa, kau bisa menggunakannya untuk melawan para iblis yang kuat."
"Namun untuk mengambil lima permata mulia itu bukanlah hal yang mudah."
"?"
"Mungkin kau harus kehilangan nyawa ketika berusaha mendapatkannya."
"?!"
__ADS_1
"Ke...kehilangan nyawa?"
Perasaan terkejut menyelimuti Danny, tidak ia sangka resiko yang akan diembannya terlalu melampaui batas kemanusiaan.