
Selama mereka masih mengobrol dan masih terduduk di rumput, hari sudah mulai beranjak sore, hal tersebut lamban disadari oleh mereka, karena cuaca di sini selalu cerah dan terkesan nampak selalu siang.
Kibo akhirnya memutuskan untuk bergerak kembali, ia mengarahkan semua untuk kembali berdiri dan meneruskan perjalanan mereka.
"Baiklah kita akan bergerak kembali!" serunya untuk membakar semangat para anggotanya itu.
"YAAA!" Dijawab serempak pula oleh seluruh anggotanya.
Ketika mereka hendak beranjak dari tempat berumput hijau itu, tiba-tiba kakek tua mendatangi mereka.
Kibo kaget mengapa kakek tua ini seperti muncul tiba-tiba entah darimana, dia memakai tongkat yang berwarna coklat untuk membantunya berjalan.
Kakek itu memakai topi, tampilannya mirip seperti topi yang dipakai Kibo, ala koboi. Hanya saja ukurannya lebih kecil.
Ia memakai kaos putih dan celana panjang coklat yang sedikit robek sana sini.
Keriput sangat jelas terlihat dari sekujur tubuhnya, dari mulai wajahnya, tangannya, hingga kakinya yang terekspos karena memakai sendal yang juga terlihat sudah lama dipakainya.
Kakek tua itu melihat Kibo dan rombongannya yang ramai itu, nampak sepertinya kakek tersebut akan lewat melalui tempat itu namun langkahnya terhenti karena melihat segerombolan asing.
__ADS_1
"Ka-kalian?" Suara kakek itu nampak parau dan berat, sepertinya ia hendak menanyakan soal asal-usul kerumunan orang ini.
Kibo mendekati kakek tersebut, ia akan memberi penjelasan padanya. "Ya kek?"
"Da-darimana ... kalian ... datang?" Gaya bicara yang pelan dan serak itu keluar dari mulut kakek itu.
"Saya ini adalah petualang kek, dan ini adalah orang-orang yang bersama saya, ujar Kibo sembari menunjukkan pada kakek itu semua orang yang bersamanya itu.
Terlihat pandangan mata kakek asing itu melihat dengan tajam pada mereka semua.
Bola matanya terkesan putih, mungkin ini karena faktor usia, namun tatapannya itu layaknya setajam silet pada Kibo dan orang-orang besar yang bersamanya itu.
Kibo sendiri tidak habis pikir mengapa semua orang menatapnya begitu? Dirinya bahkan tidak melakukan apapun yang dapat menarik perhatian, lantas mengapa tatapan tajam nan pedas selalu tertuju pada kelompoknya itu?
Setelah memerhatikan mereka secara detail, akhirnya kakek tersebut mulai berbicara kembali.
"Ah ... sekumpulan petualang ya ...." Kakek tersebut menghentikan tatapan tajamnya dan raut mukanya berubah menjadi seperti biasa kembali.
"Ayah!"
__ADS_1
Terdengar suara dari arah hutan bambu yang mengarahkan ke dalam desa yang telah dilewati oleh Kibo dan kelompoknya itu.
Terlihat sekarang ada pemuda yang tengah berlari ke arah kakek tua itu, lalu ia segera mengajaknya berbicara.
"A-ayah! Mengapa pergi ke luar desa, aku khawatir padamu," ucap pemuda tersebut.
Penampilan pemuda itu cukup bagus, rambut pendek berwarna coklat kaos sederhana mirip petualang dan celana sederhana yang juga mirip celana petualang.
Dari raut mukanya terlihat pemuda itu sangat khawatir dengan kakek tersebut yang ia sebut ayahnya itu.
Kibo hanya bisa terdiam, kali ini ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Uwah!"
Pemuda itu kaget melihat pria kriting yang memakai topi layaknya ayahnya itu namun menggembung ke atas, dan juga para orang besar yang sedang menatapnya saat ini.
"U-ukh ...."
Pemuda itu terlihat ketakutan, respon yang lagi-lagi sama dengan yang lain.
__ADS_1