Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 360: Mulai


__ADS_3

"Uh." Patricia terlihat membuka matanya setelah jam menunjukkan pukul delapan pagi, ia masih lelah namun kondisinya jauh membaik dibanding kemarin.


Gadis itu kemudian membuka jendela kamarnya untuk melihat bagaimana pemandangan hijau alami itu dapat menyegarkan penglihatannya dengan cepat.


Mata berwarna birunya terlihat indah ketika menatap pemandangan dari lantai dua, sebuah tempat di mana tidak ada keramaian sedikitpun, benar-benar suasana alam yang menenangkan dan tidak terkontaminasi oleh berbagai macam hal yang biasa ada di kota.


Ia masih ingat akan betapa lelah rasa yang dialaminya sejak beberapa saat setelah ia menaiki kereta dagang itu, bahkan di saat itu memikirkan hal yang sederhana pun tidak bisa dilakukannya.


Tok tok tok!


Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya, dan kemudian ia pun mempersilahkan siapapun yang berniat untuk masuk ke kamarnya itu.


"Danny?" Ia melihat Danny memegang sebuah nampan dan ada mangkuk kecil di atasnya, tercium juga bau harum yang khas dan uap yang keluar dari makanan di dalam mangkuk itu.


Danny tersenyum lembut seraya berkata, "Kau sudah bangun Patricia?"


"A-ah, ya ...." Patricia melihat bagaimana kondisinya setelah bangun tidur itu, dan jika dirasakan sendiri olehnya rasanya penampilannya itu tidak begitu rapi.


Rambut panjangnya sedikit acak-acakan dan bahkan terkesan sedikit menutupi wajahnya, namun setelah melihat adanya seorang yang melihat keadaannya sekarang ia berusaha untuk membenarkan rambut dan membersihkan dengan cepat bilamana ada yang menghalangi pada matanya.


"Boleh aku duduk di sini?" Danny menaruh nampan itu pada meja kecil di dekat tempat tidur kamar, sedang ia tidak bisa menemukan kursi di sini jadinya ia menanyakan hal ini padanya.


"Bo-boleh ...." Patricia sedikit menggeser badannya dekat mendekati jendela agar temannya bisa duduk di sisi tempat tidur.


Danny memegang mangkuk yang memang adalah makanan, Patricia yang tidak makan apa-apa semalam merasa lapar dan di saat yang tepat ada temannya yang membawakan makanan padanya.


"Kau lapar bukan?" tanya Danny sembari mengaduk makanan yang ternyata adalah bubur hangat.


Patricia bersemangat ketika ada seorang yang memberinya makan, dan lagi orang itu adalah seorang yang berharga baginya, dan ia mengangguk pelan tanda bahwa memang ia sendiri merasa lapar saat ini.


"Baiklah sudah lapar ya? buka mulutmu~" Danny menyodorkan satu sendok bubur hangat itu, yang pasti ia hendak menyuapinya karena barangkali Patricia masih lemas maka ia sekalian membantunya.


"Ha? Aaaa ...." Patricia membuka mulutnya tepat saat Danny menyodorkan satu sendok bubur hangat itu, rasanya enak, meskipun tahu makanan seperti ini tidak akan mengenyangkannya namun tetap saja di kondisinya seperti ini makanan seperti ini lebih sesuai untuk dimakan.


"Bagaimana?"


"Rasanya enak." Patricia mengomentari sesuai dengan apa yang dirasakannya.


"Biasanya kau makan banyak, apakah ini cukup?" Bahkan Danny pun tahu Patricia bukanlah orang yang makannya sedikit melainkan banyak, sama seperti yang lainnya.


"Tidak apa, lagipula aku sedang tidak ingin makan banyak sekarang." Patricia kembali menerima suapan bubur itu, perkataannya berlawanan dengan kenyataan yang sebenarnya yang merasa bahwa nafsu makannya sudah kembali normal sekarang, namun karena ia tidak mau merepotkan temannya ini ia rasa makanan ini sudah cukup.


Beberapa saat berlalu akhirnya Patricia sudah selesai makan, ia meneguk segelas air putih yang ada di atas nampan, dan itu membuat perutnya terisi dan meminimalisir rasa lapar yang dirasakannya tadi.


"Te-terima kasih Danny atas makanannya Danny," ucap Patricia sambil tersenyum.


"Sama-sama, Tuan Housen membolehkanku untuk memakai beberapa bahan makanan, karena kau sedang tidak enak badan kupikir membuat bubur lebih cocok dimakan olehmu."

__ADS_1


Patricia sendiri tidak keberatan Danny membawa berbagai makanan berat sekalipun karena memang ia bisa makan seperti biasa di tengah kondisinya seperti ini.


"Iya, sekali lagi terima kasih atas makanannya."


Danny sekarang ingin mengobrol dengan temannya itu, tentang apa yang ia cemaskan dan dugakan padanya sebelumnya.


"Kau kelelahan karena menggunakan kemampuanmu bukan?"


Patricia mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan Danny, karena memang alasan itulah yang menyebabkan dirinya kelelahan seperti ini.


"Benar Danny, aku baru-baru ini menggunakan kemampuan penyembuh ini lagi setelah sekian lama tidak menggunakannya, rasanya aku perlu beradaptasi kembali."


"Begitu ya, tidak usah terlalu memaksakan dirimu Patricia."


Patricia tersenyum, ia tahu temannya ini mengkhawatirkannya, namun sebenarnya ia sendiri tahu apa yang dilakukannya memang penting dan tidak bisa lagi dilakukan orang lain, mau bagaimanapun juga kekuatan kemampuannya ini dibutuhkan di tim ini.


"Terima kasih atas perhatianmu Danny, tapi setelah istirahat kondisiku sudah membaik bahkan aku merasa sangat sehat sekarang!" Patricia tersenyum semangat dengan nada yang juga ceria, begitulah sikap Patricia yang Danny kenal dan ketika tidak melihatnya rasanya ada yang kurang.


"Be-begitu ya?" Danny senang Patricia bisa menerima sarannya, dan tidak ia sangka pula temannya ini bisa pulih begitu cepat dari yang ia kira sebelumnya.


"Apakah aku telah membuat yang lain khawatir juga?" Patricia menduga semuanya menjadi tahu akan kondisinya ini, padahal ia ingin agar orang yang mengetahui kondisinya itu tidak perlu khawatir tentangnya saat ini.


"Ah? Tentu saja, namun karena kondisimu sudah membaik mereka pasti ikut senang juga." Ketidakberadaan Patricia tentu saja membuat siapapun yang bersamanya menjadi bertanya-tanya tentangnya ketika dia tidak hadir makan malam kemarin.


"Benar kondisimu sudah membaik Patricia?" Danny memang melihat Patricia sepertinya sehat dan kembali ceria seperti biasanya, dan berharap memang begitulah keadaannya dan tidak menyembunyikan hal-hal yang lain


"Hah? Kau tidak percaya padaku Danny?!" Patricia memakai nada tinggi, bahkan suaranya yang keras itu bisa terdengar sampai ruangan lantai satu, begitu enerjiknya Patricia sampai tidak ragu mengeluarkan suara keras seperti itu.


"Ah!" Patricia terpikirkan sesuatu yang tadinya ia sempat lupa, padahal keberadannya dan teman-temannya di sini tidak lain tidak bukan adalah karena satu hal ini.


"Ba-bagaimana latihanmu Danny!? Dan teman-teman yang lain?! Mengapa kamu tidak berlatih bersama Tuan Housen?!" Patricia tiba-tiba panik setelah mengingat kembali tujuan tim mereka itu.


Danny yang merupakan kunci utama yang harusnya berlatih dengan Tuan Housen untuk mendapatkan batu permata ajaib malah sekarang tengah berbicara dengannya di sini, bukankah itu tidak sesuai dengan apa yang harus dilakukan? Begitulah pikir gadis itu sekarang.


"Tidak usah khawatir soal itu, Tuan Housen memberi kita keringanan, kini tidak hanya aku yang akan berlatih bersamanya, kau, Brock dan Vincent juga mengikutinya, karena kondisimu tidak baik, beliau memberi waktu sampai kau pulih kembali, Patricia."


"Apa?" Patricia tidak menyangka latihan sepenting ini ditunda sementara hanya karena dia tumbang sedikit karena kelelahan? Malahan ia jadi merasa tidak enak karena jadi penghambat latihan Tuan Housen.


Melihat perubahan ekspresi yang cepat dan menjadi dominan khawatir tentu saja Danny bisa langsung mengetahui apa yang dipikirkan temannya itu.


"Jangan khawatir, Tuan Housen yang memberikan kita waktu, dia menepati permintaanku dan menunda latihan sampai semuanya bisa ikut, fokus saja memulihkan kondisimu Patricia." Danny menyemangati dengan menggunakan kata tidak indah pada temannya, toh itu yang bisa dikatakannya dan setidaknya perkataannya itu bisa membuat temannya itu tidak lagi memikirkan tentang latihan sampai benar-benar kembali pulih seperti sedia kala.


Setelah berbincang-bincang sebentar Danny meninggalkan Patricia agar dia bisa beristirahat dan memulihkan diri dengan lebih cepat.


Tidak disangka malam pun tiba dan Patricia bisa ikut makan malam dan berkata pada yang lain bahwa kondisinya sudah pulih.


Tentu saja semuanya merasa senang karena mendengar begitu cepatnya Patricia pulih kembali, dan diluar dugaan semua orang sedang makan itu.

__ADS_1


Dengan begitu ini berarti dalam hari esok Tuan Housen bisa melatih Danny dan juga teman-temannya dengan lengkap yang itu berarti tidak banyak waktu dihabiskan karena memang masalah waktu tidak bisa dikompromi dengan apapun juga, dia tidak bisa kembali lagi ke belakang dan akan terus maju ke depan.


Apalagi dengan keberadaan iblis yang mulai banyak mengincar anak-anak muda ini, Tuan Housen sudah menyiapkan rangkaian rencana latihan yang tepat untuk setiap masing-masing dari mereka, dan yang akan menentukan hasil dari latihan yang dirancangkannya adalah mereka sendiri.


***


Hari esok datang lebih cepat daripada yang bisa diperkirakan Danny, akhirnya tiba hari di mana ia melaksanakan apa yang menjadi tujuannya selama ini, yaitu latihan agar dirinya menjadi pemegang batu permata mulia kecepatan yang layak.


Dalam latihan Danny tidak bersama-sama dengan Patricia, Brock maupun Vincent, hanya Danny yang satu-satunya berlatih secara sendirian sedangkan teman yang lainnya itu berlatih secara bersama-sama.


Latihan dilaksanakan pagi hari yang cerah, Danny sampai di sebuah hamparan hijau yang dikelilingi pohon yang beragam pula jenisnya yang bahkan menurutnya baru pertama melihat tumbuhan yang dimaksud.


Meskipun Danny banyak melihat area hijau dengan berbagai pepohonan yang ada namun ketika berada di tengah pulau dengan pemandangan seperti ini perasaannya tidak sama seperti sebelum-sebelumnya, pemandangan yang harusnya dilihatnya sebagai suasana yang sama saja tidak benar-benar dirasakannya, ia merasa tempat ini mempunyai daya tarik tersendiri yang membuatnya menjadi berbeda dari tempat lain yang seperti ini.


"Tuan Housen, mengapa kita hanya berlatih berdua sedangkan yang lain bersama-sama?" Danny penasaran mengenai hal ini, yang juga ia tidak tahu alasan mengapa Tuan Housen memutuskan demikian.


"Jenis latihan yang akan kau terima berbeda Danny, latihanmu akan lebih berat dibanding dengan teman-temanmu." Suara Tuan Housen terdengar serius, tidak ada nada yang main-main di sana, yang membuat Danny merasa sedikit gugup akan seperti apa latihan yang akan dijalaninya itu.


Meskipun latihannya berbeda dengan teman-temannya itu sama sekali tidak masalah, yang penting Patricia, Brock dan Vincent bisa berkembang dengan berlatih seperti ini, karena memang mereka selalu bersamanya yang berarti bahaya kapanpun bisa mengintai juga, maka dengan berlatih mereka bisa mempertahankan diri dengan baik.


Dan pula Danny ingin lebih bisa diandalkan bagi teman-temannya, ia tahu ia harus lebih kuat dibanding dengan musuh-musuhnya, mulai dari mental, daya tahan, dan kekuatan yang bisa digunakannya untuk melawan musuh kuat sekalipun.


Aku harus bisa lebih kuat, mau bagaimanapun yang terjadi aku akan melindungi mereka bertiga, aku akan mengerahkan apa yang kubisa untuk mewujudkan apa yang kuinginkan itu.


Begitulah tekad Danny sekarang ini, ia tidak mau lagi kejadian masa lalu menimpanya lagi dan menghambat proses yang sedang dialaminya saat ini, dengan berpikir positif dan berharap hal yang baik Danny optimis ia bisa melihat masa depan yang cerah bersama dengan teman-temannya itu.


"Kalau kita sekarang di tengah pulau ini, lalu mereka bertiga ada di mana Tuan?" Danny penasaran akan lokasi mana tepatnya teman-temannya berlatih.


"Mereka sedang berlatih di tepi pantai," jawab Tuan Housen pendek sambil menyilangkan tangan di antara dadanya, sepertinya ia telah mengarahkan Patricia, Brock dan Vincent untuk berlatih di sana dan Danny sama sekali tidak tahu jenis latihan seperti apa yang sedang dilakukan oleh mereka sekarang ini.


"A-apakah Vincent baik-baik saja?" Danny masih khawatir akan keadaan temannya itu, barangkali ia teringat kembali kejadian yang tiba-tiba mengganggu itu maka sudah pasti ia tidak bisa berlatih maksimal di sana.


"Aku yakin dia baik-baik saja, lagipula tidak ada pilihan lain selain berusaha baik-baik saja, karena mulai dari sekarang makhluk jahat itu bisa kapan saja menyerang satu di antara kalian berempat." Perkataan Tuan Housen sedikit mengerikan, namun begitulah kenyataannya sebuah kenyataan yang sulit dipahami dan dirasakan karena begitu menakutkan sampai-sampai bisa membekas di pikiran.


Danny mengerti apa yang dikatakan Tuan Housen padanya, lagipula iblis adalah musuh utama mereka, menginginkan agar melupakan apa yang telah terjadi dengan iblis tentu saja tidak akan membantu apapun agar bisa mencapai kemenangan, sebaliknya ingatan yang buruk itu harus diubah menjadi informasi yang sekiranya menguntungkan dan bisa membantu untuk melawan berbagai makhluk jahat seperti ini di masa depan.


"Begitu ya." Danny sendiri percaya teman-temannya itu akan kuat seiring dengan berjalannya waktu, dan juga di saat yang bersamaan ia bisa diandalkan agar teman-temannya bisa terus dilindunginya dalam keadaan bahaya sekalipun.


Tuan Housen terlihat serius, matanya tertutup sembari menyilangkan kedua lengan yang cukup berbulu itu di dadanya ia memakai pakaian yang terbuka, dalam arti memakai kaus ketat yang menampilkan bagaimana besar dan proporsionalnya tubuhnya dan sebuah celana pendek yang berwarna hitam, dan bisa ditebak bagaimana kondisi kakinya yang bisa terlihat jelas oleh Danny saat ini.


Pak tua itu membuka matanya perlahan, bola mata kuningnya menatap Danny dengan tajam seolah tidak ada lagi hal yang dipikirkannya selain menatap pemuda yang akan dilatihnya itu, melihat gurunya saat ini bertingkah seperti itu membuat kegugupan Danny tidak menghilang juga pada akhirnya.


"Apakah kau sudah siap Danny?"


Danny mengangguk pelan, entah apa yang akan dialaminya namun ia berharap bisa bertahan akan apapun yang akan terjadi dan berharap bisa melakukannya sebaik mungkin.


Tuan Housen mendekati Danny, melihat itu detak jantung pemuda itu berdebar-debar tidak karuan karena tidak mendengar soal jenis latihan apa yang akan dijalankannya itu, apakah ini akan menjadi surprise yang baik untuknya?

__ADS_1


Tangan kanan pak tua itu memegang bahu Danny dengan erat namun tidak sampai membuat pemuda itu sakit seraya berkata, "Kontrol Pengendalian Kecepatan!"


Zuuuuuunggg!!!


__ADS_2