Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 357: Oke, Ini Benar-Benar Mirip


__ADS_3

Dan begitulah, sebuah permintaan sederhana dari Patricia pada Danny yang hanya memintanya untuk menemaninya di tengah kondisi yang tidak terlalu baik itu, di sisi gadis itu ia senang karena temannya itu mau untuk menemaninya di sini, sesederhana itu ia bisa gembira bersama dengan orang yang berharga baginya.


Tepat di samping tempat tidur Patricia Danny bisa melihat gelapnya malam yang pekat, semuanya gelap kecuali rumah ini, dan Danny tidak memiliki informasi apapun mengenai darimana sumber cahaya di rumah ini, apakah ada energi listrik tersembunyi yang bisa membuat semua lampu di sini menyala ataukah ada hal yang lain?


Namun mengingat hal ini hanyalah hal yang sepele jadinya Danny tidak begitu memedulikannya, coba sekarang ada satu rumah di pulau kosong ada aliran listrik yang menyala di sana tanpa tahu sumber listriknya di sana, bukanlah hal yang besar untuk dipertanyakan 'kan?


Dan dalam beberapa waktu yang singkat Danny bisa melihat dengan jelas ada semacam tiang tinggi yang di atasnya memancarkan cahaya, sepertinya ada suatu energi cahaya di atas benda tiang panjang itu hingga akhirnya bisa memancarkan cahaya seperti itu.


Danny melihat tidak hanya ada satu tiang di sana, karena dirinya ada di lantai dua, dia bisa melihat beberapa tiang tinggi yang memancarkan cahaya, hingga akhirnya itu membuat jalanan bisa terlihat dan juga semak dan pepohonan bisa terlihat juga di sana.


Dan Danny terpikir kembali di sini, dia sama sekali tidak penasaran mengapa ada banyak sumber cahaya di sini padahal hanya ada satu rumah dan darimana Tuan Housen mendapatkan aliran listrik? Sekali lagi Danny pikir ini bukanlah hal yang terlalu besar untuk dipikirkan.


Kembali lagi melihat keadaan temannya itu, Patricia sudah tertidur sekarang, dan itu bagus karena dengan begitu dia bisa beristirahat dengan tenang, dalam arti dia bisa pulih dengan cepat dengan banyak beristirahat di tempat ini.


"Danny?"


Terdengar suara Tuan Housen memanggil namanya, Danny pikir mungkin dia kebingungan karena tidak tahu di mana kamarnya berada, dan karena seorang tuan rumah berada di sini Danny hendak menjelaskan tentang keadaan temannya itu sekarang, ia pun beranjak bangun dan keluar ruangan kamar setelah memastikan Patricia sudah tidur nyenyak saat ini.


Danny menghampiri Tuan Housen yang berada di ujung ruangan kamar ini, sepertinya ada sesuatu yang hendak dia bicarakan dengannya.


"Ya Tuan?"


Tuan Housen nampak ramah, seperti biasanya, dan terkesan tenang saat ini, kharisma alaminya yang seperti ini rasanya adalah hal yang tidak bisa disembunyikan darinya bagaimanapun caranya.


"Apa ada sesuatu?" Seolah bisa membaca apa yang ada dipikirannya, atau jika terlalu berlebihan dia seolah bisa membaca raut wajah pemuda yang dilihatnya saat ini.

__ADS_1


Ya, Danny saat ini khawatir akan bagaimana kondisi temannya itu, dan menceritakan hal ini pada seorang yang akan membimbingnya adalah hal yang tepat untuk dilakukan.


"Patricia, sepertinya dia kelelahan Tuan."


"Kelelahan? Semua kita pasti merasa lelah, dan untuk itu kita akan segera makan malam." Tuan Housen tersenyum kecil, sepertinya apa yang dimaksud Danny dimengerti secara berbeda oleh pak tua itu.


"Maksudnya Patricia, dia kelelahan karena terlalu banyak menggunakan kemampuannya baru-baru ini Tuan." Danny menjelaskan keadaan temannya itu dengan jelas.


"Terlalu berlebihan menggunakan kemampuan?"


"Ya, saat ini dia kelelahan dan lemas, badannya hangat dan berkeringat, dia mengalami demam karena memaksakan dirinya."


Tuan Housen tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini, awalnya ia ingin agar memulai sesi latihannya dengan cepat karena prinsip lebih cepat lebih baik cocok dipakainya di situasi yang tidak menentu ini, namun karena kejadian ini sepertinya ia harus kembali mengubah rencananya.


Danny terkejut karena Tuan Housen bisa cepat mengerti seperti itu, ia sendiri ragu-ragu untuk meminta permintaan seperti itu karena takut bagaimanapun juga latihan ini haruslah cepat untuk dilangsungkan.


"Be-benar Tuan." Namun Danny akan mengikuti apapun keputusan Tuan Housen karena memang dialah yang berkuasa di sini, yang berarti perintahnya adalah hal yang perlu untuk ditaati, semuanya demi kebaikannya juga.


Tuan Housen terdiam sejenak, dan karena ini perasaan Danny jadi tidak enak, mungkinkah permintaannya tadi terlalu berlebihan karena hanya karena satu orang yang sakit latihan yang penting harus ditunda?


"Hm, sepertinya memang benar kita harus merawat gadis itu lebih dulu," ujar Tuan Housen pelan, ia tahu keputusan ini baru saja dibuatnya, meskipun harus mengganti sedikit rencananya namun setidaknya ia masih bisa mengatur sesi latihan yang baru setelah gadis yang sakit itu pulih kembali.


"Be-benarkah Tuan? Apakah ini tidak akan mengganggu latihan kita nantinya?"


"Aku tidak mungkin mengizinkan ini jikalau kau tidak mau rekanmu untuk ikut berlatih bersamaku, karena aku sudah menyanggupinya kita tidak bisa mulai berlatih karena ada satu orang yang tiba-tiba tidak bisa mengikutinya."

__ADS_1


"Wah!" Danny tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu dari seorang hebat pemegang batu permata mulia ini, Tuan Housen bahkan mau untuk melakukan apapun juga bahkan menunda latihan penting ini demi menyanggupi permohonan yang telah dibuatnya itu, jadinya hal ini tentu saja membuat Danny senang.


"Terima kasih Tuan! Saya yakin Patricia pasti bisa segera pulih dengan cepat!"


Tuan Housen tersenyum kecil. "Kalau begitu ayo turun, kita makan malam bersama."


Danny mengikuti Tuan Housen dari belakang dan berjalan beberapa saat ke ruang makan, tidak butuh waktu lama akhirnya mereka berdua sampai.


Dan lagi-lagi Danny merasa tidak asing, sebuah meja panjang dengan deretan kursi, mirip dengan apa yang telah dilihat dan dirasakannya sebelumnya, pengalaman makan bersama Kakek Leith tentunya.


Di sana Danny bisa melihat ada Brock dan Vincent yang sedang duduk berdekatan di salah satu kursi, mereka tidak henti-hentinya menatap makanan yang sudah tersedia dan tentu saja makanan yang tersaji ini bukanlah makanan biasa, melainkan makanan mewah dengan daging bakar, roti, berbagai ikan yang harum dan menggoda selera, dan banyak lagi, semuanya tersaji di meja makan ini.


Tuan Housen duduk di paling ujung dari meja ini, Danny segera bergegas pula mendekati kursi kosong di dekat tempat Brock dan Vincent duduk.


Bruk.


"Hei Danny, lihat! Bukankah ini menakjubkan?! Semua makanan ini menggoda bahkan aku tidak bisa berhenti untuk melihatnya!" Vincent menyatakan betapa hebatnya hidangan yang tersaji ini, bagian melihat makanan seperti ini benar-benar baru setelah sekian lama makan sederhana dan terkesan monoton.


"Slurp!" Bahkan Brock sampai ngiler karena melihat berbagai jenis makanan yang terlihat mengkilau dan hebat ini, seperti temannya ia baru melihat sajian makan seperti ini dan tentu saja ini membuat dirinya semakin tidak tahan ingin mencicipinya.


"Ahaha." Danny juga tidak mengira akan melihat hidangan semewah ini, benar-benar seperti yang Kakek Leith sajikan dulu, namun dulu semua makanan mewah memang disajikan oleh para pelayannya yang banyak dan masuk akal juga karena itulah bisa ada hidangan banyak seperti itu, namun bagaimana dengan apa yang disajikan di sini, begitu banyak hidangan namun hanya Tuan Housen yang tinggal di sini, mungkinkah dia menyiapkan hidangan hebat ini sendirian saja?


"Tu-tuan, apakah Tuan yang menyiapkan semua ini?"


"Hm? Tentu saja Danny, sebagai Tuan rumah aku berusaha semampuku untuk menyiapkan berbagai makanan yang tersaji ini," jawabnya sambil menutup matanya sendiri, terlihat bangga mengenai hal ini.

__ADS_1


__ADS_2