Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 179: Dibalik Kompetisi


__ADS_3

•Di malam yang sama, di ruangan wakil kota kota Boston•


Kini kita sedang melihat suatu ruangan yang agak lega, sebuah ruangan pribadi yang terletak di dalam bangunan yang agak besar juga, sebuah bangunan dimana seorang pemimpin di kota ini bertugas.


Seorang pria agak berbadan besar sedang duduk di kursi berwarna hitam yang terbuat dari kain yang empuk, ia terlihat begitu nyaman di kursi itu, di depannya ada sebuah meja kerja coklat yang rapi, semua dokumen tertata dengan baik, nampaknya pria berbadan gendut ini telah menyelesaikan tugasnya hingga kini akhirnya ia bisa bersantai.


Memainkan kumis tebalnya itu, ia sedang duduk rileks di kursi kerjanya itu, sebuah hal yang pantas dilakukan setelah pekerjaan yang telah ia lakukan itu.


Ia tengah menikmati secangkir teh hangat sambil melihat ke samping melalui jendela, suasana malam kota yang damai.


Tak berselang lama suara ketukan pintu membuat pria wakil kota kota Boston ini teralihkan perhatiannya dari kesantaian yang sedang ia lakukan itu.


Wakil kota boston itu mempersilahkan siapa dibalik yang mengetuk pintu itu untuk masuk ke dalam ruangannya itu.


Terlihat seorang pria pirang dengan mata biru menyala masuk ke dalam ruangannya, seketika itu juga wakil kota itu berdiri untuk menyambut orang tersebut.


"Arthur!"


"Mari, masuk, duduklah ...." pinta wakil kota itu pada pria pirang itu, yang tak lain dan tak bukan adalah seorang ksatria suci, Arthur.


Arthur tidak membuang waktu lama hanya untuk berdiri saja di sana, ia menuruti apa yang diminta oleh wakil kota itu padanya.


Arthur duduk di depan meja kerja wakil kota itu, mereka berdua nampaknya punya sesuatu untuk dibicarakan.


Sang wakil kota itu memulai pembicaraan di antara mereka. "Teh hangat di malam hari?"


"Aku sudah makan malam tadi, terima kasih atas tawarannya," tolak Arthur halus.


"Tidak adakah sesuatu yang bisa kulakukan agar kau nyaman di sini?" tanya wakil kota itu.


"Tidak perlu repot-repot, aku sama sekali tidak butuh hal-hal semacam itu."

__ADS_1


"Hoho begitukah? Aku tidak daapt memaksa." Nampaknya wakil kota ingin sekali melakukan sesuatu untuk sang ksatria suci yang ada dihadapannya itu.


"Aku kemari untuk mendiskusikan sesuatu," ujar Arthur mengungkapkan alasannya datang ke kantor wakil kota Kota Boston ini.


"Masalah itu? Apakah ada sesuatu yang salah? Bukankah kita sudah membahas tentang segala tentang kompetisi ini siang tadi?"


"Tidak ... aku hanya akan memperjelas tujuan kita dalam mengadakan kompetisi di kota ini ...."


Arthur memancing mendiskusikan mengenai hal sebenarnya dibalik adanya kompetisi yang diadakan di kota ini.


Wakil kota hanya diam saja tanpa berkata sepatah kata apapun, ia lebih menunggu Arthur untuk berbicara lebih lanjut mengenai kompetisi yang diadakan di kota ini.


Lalu Arthur pun memulai pembicaraannya mengenai kompetisi yang akan diadakan di kota ini.


"Kau tahu, tujuan sebenarnya diadakan kompetisi di kota ini adalah untuk mengumpulkan para petualang bukan? Dengan jumlah hadiah yang diberikan pastilah banyak petualang yang tertarik untuk mengikuti kompetisi ini."


"Dan dibalik itu semua, tujuan kita yang sebenarnya adalah untuk mencari setiap kelompok illegal yang ada diantara para petualang itu ... aku yakin pasti akan selalu ada ...."


Arthur sedikit tersenyum sambil memainkan rambut pirangnya itu. "Tidak ada cara yang lebih baik lagi dibanding dengan apa yang telah kulakukan saat ini."


"Jika kau ingin tahu Pak Wakil Kota ... untuk menangkap kelompok illegal tak berizin itu bukanlah hal mudah, kami sering menerima laporan dari para warga desa di wilayah barat ini yang resah karena keberadaan kelompok itu ...."


"Mereka berlaku jahat?" Wakil Kota itu berusaha mengikuti alur pembicaraan Arthur.


"Kelompok tak berizin yang berkelana adalah sebuah ancaman yang serius, kebanyakan laporan berasal dari sekelompok petualang beregu yang menyamar dan pada akhirnya melancarkan aksi tidak terpujinya itu," jawab Arthur.


Sang Wakil Kota mengangguk-angguk. "Namun bagaimana bila tidak kau temui kelompok illegal itu pada kompetisi kali ini?"


"Perkiraanku tidak mungkin salah, aku sudah memperhitungkan segala sesuatunya, kau bisa memegang perkataanku bahwa pasti ada kelompok illegal yang akan mengikuti kompetisi ini."


Arthur sangat yakin dengan perkiraannya itu, tidak ada keraguan sama sekali di wajahnya itu, sebuah ekspresi yang kuat yang mampu meyakinkan orang yang mendengar pernyataannya itu.

__ADS_1


"Hmph ... umurmu baru 22 tahun, namun kemampuanmu jauh sekali dibanding dengan orang-orang seusiamu, terlebih lagi pemikiranmu yang terkesan kompleks dan sekali lagi berbeda dari orang kebanyakan," puji Wakil kota itu pada Arthur.


"Aku hidup untuk menenggakkan keadilan, tidak peduli berapapun umurku, sampai kapanpun peraturan dan norma-norma akan selalu kutegakkan pada siapapun juga."


"Pasti akan kutemukan para sampah masyarakat yang senang bersembunyi itu, benar ... pasti akan kutemukan ...."


Tekad Arthur secara lisan membuat sang Wakil Kota itu merasa percaya akan sang ksatria suci itu.


"Haha, aku percaya padamu Arthur ... kau pasti bisa melakukannya ...."


"Namun apakah jumlah hadiah yang ditawarkan dalam kompetisi ini tidak berlebihan?"


"Pak Wakil, kau tidak perlu khawatir soal itu, uang tidak sebegitu berharganya dibanding dengan membiarkan orang-orang jahat berkeliaran di sekitar kita," jawab Arthur.


"Harga yang harus dibayarkah? Sepertinya ungkapan itu cocok masalah kali ini, hahaha ...."


Pak Wakil Kota itu tertawa karena guyonanannya sendiri, namun sayangnya Arthur tidak ikut tertawa bersamanya.


Arthur begitu berambisi untuk menjalankan misinya itu, ia ingin menjawab semua pertanyaan keadilan yang sering ia dengar dari laporan yang ada, kini ia hanya peduli satu hal ... keadilan adalah hal yang mutlak dijalankan pada kapanpun dan siapapun.


Ia tidak mau lagi mendengarkan apapun yang tidak berhubungan dengan tujuannya saat ini, ia lebih memprioritaskan norma dan peraturan di atas segalanya, apa yang ia pandang baik, maka pasti akan ia lakukan.


"Bagaimana dengan Thor?" tanya sang Wakil kota itu.


"Mungkin dia tengah berjalan-jalan di sekitaran kota ini, entahlah dia sepertinya tidak mau tahu banyak tentang kompetisi ini."


"Kupikir Thor memang sudah tahu, hanya saja ia belum tahu 'semua' dari kompetisi yang akan diadakan esok hari, tidakkah kita segera memberitahunya?"


"Lebih baik ia mengetahui secara langsung dibanding memberitahunya sekarang," jawab Arthur.


"Begitu ya, kau yang memutuskan Arthur, lagipula dia itu adalah sahabatmu, tolong bersikap dengan agak lebih dekat dengannya."

__ADS_1


"Aku tahu, aku tahu ... namun saat ini aku tidak mau diganggu oleh hal lain selain tujuan yang telah ditetapkan dalan kompetisi ini esok hari, dan aku tidak sabar untuk segera menemui orang-orang jahat yang mengincar uang hadiah kompetisi ini."


__ADS_2