
"Sebenarnya ketika aku menyadari kau sedang terjebak, aku terkaget dan langsung memikirkan bagaimana cara agar keadaan bisa berubah dengan cepat, saat-saat itu aku tidak punya cara lain selain merisikokan diriku, kau tahu? Dengan memakai kekuatan batu permata mulia aku bisa melawan kekuatan si sosok jahat itu."
"Bukankah kekuatan itu yang membuatmu berada di kondisi terburuk Danny? Maksudku, ini terdengar aneh ... bukankah kau tidak kuat menahan kekuatan besar itu?" Patricia baru mengetahui hal ini, dan mendengar keputusan temannya itu ia pikir berisiko karena memang dia sendiri pernah terkena risiko terburuk, yaitu kematian.
"Aku tahu Patricia, namun saat ini aku belum benar-benar kuat, maka dari itu aku butuh pinjaman kekuatan batu permata mulia ini untuk keluar dari situasi sulit malam tadi; awalnya aku berpikir efek yang akan terjadi padaku lebih parah dari apa yang kualami saat ini, namun syukurlah yang aku pikirkan itu tidak terjadi."
Danny bersyukur karena memang ia tidak benar-benar kehilangan nyawanya lagi akibat penggunaan kedua batu permata mulia itu, dan pada akhirnya ia bisa melindungi semua teman-temannya itu.
Patricia mengerti Danny ternyata terpaksa menggunakan satu-satunya pulihan yang dipunyainya itu karena memang sudah tidak ada lagi yang bisa membuat keadaan berbalik selain daripada meminjam kekuatan batu permata mulia untuk membalikkan keadaan itu sendiri.
"Aku sadar aku tidak punya pilihan lain, demi melindungi teman-temanku, maka aku harus bisa menjadi lebih kuat, dan yang memberiku keberanian untuk kembali menggunakan kekuatan batu permata mulia itu adalah karena dirimu Patricia."
"A-aku? Mengapa?" Patricia tidak tahu apa maksud Danny, ia menyebutkan tentang keberanian? Maksudnya apa?
"Sebelum kau berpikir untuk mendekatiku, aku pikir semua sudah berakhir karena aku tidak punya cara yang benar-benar aman untuk menghadapi sosok misterius jahat rumah usang tidak terawat itu."
"Namun setelah aku tahu keberadaanmu terjebak bersamaku, aku langsung sadar bahwa memang aku harus melindungi teman-temanku dengan cara apapun juga, dan cara yang masih kutakuti itu kupakai dan akhirnya bisa mengeluarkan kita dari situasi berbahaya itu." Danny mengakui keberadaan Patricia yang tiba-tiba itu yang memberinya kekuatan untuk terus bertekad melakukan apapun untuk melindungi teman-temannya dengan cara apapun juga.
"Jadi kau tidak usah minta maaf Patricia, malahan aku yang harus berterima kasih padamu, berkatmu aku mempunyai keberanian bertindak dan lebih lagi memiliki tekad untuk bisa keluar dari situasi sulit itu." Danny menjelaskan semuanya, ia harap Patricia tidak perlu lagi memikirkan hal dengan cara pandang yang seperti itu.
"Dan aku disembuhkan oleh kemampuanmu Patricia, karena pada awalnya memang luka inilah yang kuterima dari awal si sosok misterius itu menyerangku, dan berkatmu pula aku bisa pulih dan masih ada bersama dengan kami. Jadi keberadaanmu sungguh membantuku dan teman-teman yang lain Patricia." Danny mengakui Patricia yang benar-benar membantunya di keadaan yang sulit itu, ia harap dengan ucapan ini Patricia bisa kembali percaya diri sebagaimana mestinya.
__ADS_1
"Begitu ya, aku beryukur kau masih ada di sini bersama kami Danny." Patricia menyeka sesuatu dari matanya, Danny tidak tahu pasti apa itu karena memang dia begitu cepat melakukannya.
"Oh, ya aku penasaran mengapa kita bisa sampai ke suatu kota di daerah selatan dengan cepat saat kita masih berjalan di hutan itu?" Danny ingin tahu apa saja yang terjadi saat ia tidak sadar itu.
"Oh, benar juga, kamu tertidur saat digendong Tuan Brock ya ... selagi aku berjalan dengan Tuan Brock dan Tuan Vincent menyusuri area hutan itu, tidak lama kami menemukan jalan tanah besar dua arah, dan pada saat itu juga ada sebuah kereta kuda milik pedagang lewat di sana.
"Pria yang menaiki kereta kuda itu sembari membawa barang-barangnya juga, dan kami bertiga bertanya apakah ada sebuah kota di sekitaran area hutan itu, lalu sang pedagang meng-iyakan pertanyaan kami, malahan dia sendiri mau pergi ke kota terdekat yang berada di sana."
"Lalu pria pedagang itu berbaik hati mau memberi kami tumpangan karena masih ada tempat di bagian belakang di tempat barang dagangannya itu, tidak berapa lama kemudian kami sampai di kota ini, kota yang tidak terlalu besar namun ramai akan penduduknya."
"Setelah berterima kasih kami bertiga mencari tempat penginapan untuk beristirahat
"Tu-tunggu, kalau begitu siapa yang akan membayar biaya penginapan ini? Sepertinya tidak satupun dari kita punya uang sebelumnya." Danny akhirnya memikirkan akan darimana mereka membayar semua pelayanan yang mereka terima di penginapan ini? Lagipula mereka juga baru bebas dari kelompok Dark Shadow, dan baru saja akan menapaki dunia luar.
"Oh kalau itu tenang saja Danny, sebelumnya pria pedagang yang singgah ke kota ini tidak hanya mengantar kita, dia juga memberi kita bantuan beberapa keping uang untuk kita beristirahat di penginapan ini."
Akhirnya Danny tidak penasaran lagi akan biaya yang harus dikeluarkan demi membayar penginapan ini, ia juga tidak menyangka mereka akan bertemu dengan seseorang yang benar-benar baik pada mereka berempat, ternyata dunia ini lebih juga menyimpan momen tidak terduga juga yang tidak sepenuhnya menyimpan hal-hal buruk saja.
"Kamu masih lemas Danny?" Patricia bisa tahu hanya dengan melihatnya saja, maya Danny terlihat sayu dan tangannya terlihat lemas, sangat terlihat jelas bahwa Danny masih belum berada di kondisi terbaiknya dan pastinya membutuhkan istirahat yang cukup demi mengembalikannya ke kondisi yang terbaik.
Mendengar temannya bisa membaca kondisinya saat ini, Danny pada akhirnya hanya bisa tersenyum, raut wajahnya masih pucat dan tenaganya belum terlalu kembali juga, sudah terlihat jelas sebelum ia bisa menjawab pertanyaan Patricia itu.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir Danny, kita akan beberapa hari beristirahat di sini sampai kondisimu membaik, jadi gunakan waktu itu untuk memulihkan tenagamu."
"Apa? Tapi kita harus segera menemukan pengguna batu permata mulia yang- tunggu, astaga! Kemana batu permata mulia itu?!" Danny sadar aka sesuatu, seluruh pakaiannya telah berganti dan masih ada kemungkinan batu permata mulia masih berada di saku celananya yang lama.
"Dari sejak kamu tertidur sepanjang malam, bahkan saat pelayan penginapan mengurus pakaianmu, batu permata mulia memang sudah tidak ada di dalam saku celanamu Danny." Patricia menjelaskan bahwa memang ia dan kedua temannya lainnya tidak melihat akan batu permata mulia di dalam saku celana Danny.
"O-oh? Begitukah?" Danny menduga keberadaan batu permata mulia memang sudah berpindah kembali ke dalam tubuhnya tanpa ia sadari, dam hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan untuk memastikan hal yang ia pikirkan itu.
Danny berusaha untuk fokus, dalam beberapa saat ia bisa sadar akan adanya dua kekuatan batu permata mulia di dalam tubuhnya itu, mengetahui hal ini membuatnya sedikit bisa bernafas lega.
"Sudah berada di tempat aman hehe," ujar Danny sambil tertawa kecil.
"Syukurlah." Patricia sendiri senang juga akan batu permata mulia yang dimiliki temannya itu tidak hilang kemanapun, karena memang benda itu lah yang saat ini mereka cari yang tersisa, dan melindungi apa yang telah dimilikinya adalah tanggung jawab sebelum bebar-benar memiliki ke-lima batu permata mulia tersebut.
Patricia menoleh ke samping tempat tidur Danny, di dekat nya ada meja kecil tempat ia menyimpan nampan berisi makanan.
"Oh ya, aku hampir lupa, aku membawa makanan untukmu Danny." Patricia bergegas beranjak dari tempat duduknya dan mengambil nampan berisi makanan itu.
Patricia mengambil sepotong roti yang berukuran cukup besar itu dan menyodorkan makanan itu ke dekat mulut Danny, ia terlihat malu-malu ketika melakukan hal itu, namun tekadnya untuk membantu berusaha gadis itu kuatkan saat ini.
"Katakan aaaa~" Patricia hendak membantu Danny untuk makan dengan cara menyodorkan makanan itu padanya, ia pikir Danny perlu untuk beristirahat dan tidak banyak bergerak, maka dari itu ia membantunya untuk makan saat ini.
__ADS_1