
Begitu Freiss mengubah rencananya awalnya, ia tidak berharap banyak pada teman-teman Danny, mengingat mereka hanyalah manusia biasa namun setelah mendengar alasan dan pengakuan dari masing-masing ketiga orang itu, agaknya Freiss tidak begitu keberatan dengan rencana barunya itu.
Kenyataan bahwa pemuda bernama Danny, yang sudah memegang dan menguasai batu permata mulia fisik, daya tahan dan kecepatan, dan hanya menyisakan dua lagi di antaranya, yang ia pegang saat ini, batu permata mulia sihir dan batu permata mulia regenerasi sudah cukup meyakinkannya.
"Jika aku boleh menyatakan pendapatku, kalian boleh juga bisa bertahan hidup dengan Danny."
Freiss sedikit mengomentari akan kejadian yang dialami oleh mereka ini, entah apa yang dimaksudkannya ini, apakah sebuah pujian atukah ejekan?
"Sepertinya itu juga jadi bukti yang cukup agar kami bisa berlatih bersama anda Nona," jawab Danny cepat, ia kini memiliki kepercayaan diri yang lebih baik dibandingkan beberapa saat yang lalu.
Freiss sedikit tersenyum, ia kemudian mempersilahkan para tamunya itu untuk istirahat sejenak di tempat terbuka yang hijau itu.
Danny dan teman-temannya menggunakan waktu itu untuk sedikit menenangkan diri mereka dan agar mereka terbiasa jika sewaktu-waktu tempat di mana mereka berada berubah seketika.
Freiss sendiri menghilang dari tempat hijau itu, dan kini ia berada di sebuah tempat lain, yang pemandangannya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya.
"Akhirnya hari ini datang, ramalan mengenai kedatangan pewaris seluruh batu permata mulia ...."
__ADS_1
Freiss memandang area hijau di mana angin sepoi-sepoi menerpa dan tentunya membuat siapapun yang berada di sana merasa nyaman.
"Hhhh ...." Freiss menarik napas panjang kemudian menghembuskannya, raut wajahnya tidak menandakan ia menikmati suasana tempat ini.
"Akhirnya sudah dekat ...."
Perkataan yang singkat namun dalam keluar dari mulutnya, terasa berat namun pada akhirnya ia mengatakannya juga.
Freiss sedikit melihat pada cincin berwarna ungu terang yang ada pada jari tengah tangan kanannya itu.
Saatnya memang sudah tiba di mana tugasnya sebagai pemegang sekaligus penjaga batu permata mulia sihir ini akan berakhir.
Freiss menguatkan kembali tekadnya, ia yang sudah sekian lama menjaga kekuatan leluhurnya ini pada akhirnya akan menjalankan tugas terakhirnya, yaitu melatih pewaris batu permata mulia.
***
Freiss kemudian melatih Danny dan teman-temannya sekaligus, karena sihir tingkat dasar sudah dapat dikuasai oleh mereka, maka tentunya itu memudahkannya untuk melatihnya dibanding dengan berlatih dari awal sekali.
__ADS_1
"Aku terkesan, kalian tidaklah buruk juga dalam penggunaan sihir ini."
Freiss tahu ternyata ada pria bernama Brock yang menguasai sebagian kekuatan sihir dengan baik, Patricia yang memiliki pengendalian sihir yang bagus, dan juga Vincent yang hanya bisa satu jenis sihir saja, namun tingkatannya sudah jauh dibanding rekannya yang lain.
Setelah Freiss menatap mereka perlahan, pandangannya pun akhirnya tertuju pada Danny, dan agak berbeda dibanding dengan tatapan yang ditujukannya pada yang lainnya.
Danny sedikit kaget dan pada akhirnya muncul pertanyaan dalam hatinya mengapa gurunya itu menatapnya dengan serius sedangkan pada teman-temannya tatapan yang ramah?
"Gu- guru?" Danny mencoba untuk bertanya padanya.
"Ah ...." Freiss akhirnya menghentikan pandangan seriusnya pada Danny.
"Apakah ada yang salah?" Danny ingin tahu alasan mengapa gurunya menatapnya dengan berbeda.
"Ahaha, tidak, jangan hiraukan apa yang terjadi tadi, lanjutkanlah latihan kalian dalam pengendalian kekuatan sihir, semangat, semangaaat~"
Freiss dengan cepat merubah sikapnya setelah tahu Danny menyadari pandangannya itu.
__ADS_1
Dan akhirnya Danny dan teman-temannya melanjutkan latihannya, mereka berlatih pengendalian ilmu sihir agar kekuatan dan kemampuan sihir mereka bertambah pesat.