
Di sisi lain Tifee pada akhirnya merasakan dampak yang besar dari serangan pria berambut sebahu itu padanya, meskipun ia melihat pria itu seolah sudah habis kekuatannya itu memang sebanding dengan apa yang telah dilakukannya padanya.
Tifee sudah kehilangan sebagian besar jari jemarinya pada kedua lengannya karena energi panas sihir pusaran api tadi yang telah mengenainya, perlahan demi perlahan panasnya itu membuat bagian jarinya itu menghilang jadi abu, dan kini setelah beberapa saat ia sudah tidak memiliki pergelangan tangan lagi.
Ia tidak menduga kekuatannya sendiri tidak mampu untuk menahan panas yang dihasilkan dari serangan musuhnya itu, dan jika terus dibiarkan seperti ini maka api yang membakarnya ini akan terus menjalar ke seluruh lengannya dan membuat seluruh tubuhnya berubah menjadi abu.
"Inikah kekuatan dari ras manusia sekarang?"
"Sungguh menarik." Tifee mengakui dengan pasti bahwa memang kekuatan ras manusia yang ditemuinya kali ini lebih dari pada apa yang bisa dibayangkannya.
Mskipun api panas itu sedang menjalar ke sekitaran kedua lengannya, setidaknya ia masih memiliki kekuatan untuk mengakhiri musuh yang saat ini tengah kelelahan itu; manusia yang telah membuatnya jadi seperti itu.
Aura membunuh kini terpancar lebih kuat lagi dari iblis itu, ia bertekad akan mengakhiri musuhnya itu dengan cara apapun juga, dan menyelamatkan dirinya sebelum benar-benar menjadi abu seluruhnya.
Yang kini bisa dilihat oleh kita adalah dua makhluk yang berlainan jenisnya, antara manusia dan iblis yang sedang bertarung satu sama lain demi tujuannya masing-masing, dengan pertemuan yang tidak sengaja ini membuat tujuan antara keduanya semakin jelas dan jelas saja.
Di sisi manusia kita lihat Vincent, dia sungguhlah hanya seorang manusia biasa yang telah bertekad untuk menghadapi kenyataan dunia yang ada di mana ia memantapkan dirinya untuk mengikuti seorang pemuda dalam misinya untuk mengalahkan para iblis, namun siapa sangka ia bertemu dengan ras ini secepat ini?
Dan pula kemunculan kemampuan pada diri Vincent mengejutkan kita, bahkan dalam dirinya, Vincent pun baru mengetahui tentang kemampuan yang dipunyainya ini, namun faktanya menegaskan bahwa ia bisa bertahan selama ini salah satunya adalah berkat pertolongan kemampuannya sendiri itu.
Di sisi lain, Tifee, seorang iblis perempuan yang tidak begitu memiliki kekuatan yang hebat, tidak juga memiliki kemampuan penyamaran namun dengan kecerdikan dan kepercayaan dirinya yang berlebih itu ia mampu untuk menemukan lokasi seseorang yang ia cari selama ini, rombongan manusia yang diantaranya ada seorang yang paling mengancamnya— tidak, yang mengancam keseluruhan rasnya karena dia memiliki kekuatan suci yang merupakan musuh alaminya.
__ADS_1
Namun siapa sangka juga rencananya akan berantakan dengan diketahuinya persembunyiannya itu dan malah dipojokkan oleh manusia yang bukan targetnya itu sampai situasinya yang lebih buruk saat ini?
Keduanya memiliki tujuan masing-masing dan harapan masing-masing yang telah kita dengar sebelumnya, kini dengan kondisi yang seperti ini tidak ada yang benar-benar unggul, keduanya berada di posisi yang sama, sama-sama terdesak.
Vincent berusaha sekuat tenaga mengangkat tubuhnya sendiri, aura dingin mulai dirasakannya bahkan sepertinya sudah merasuk ke dalam tulangnya sendiri, namun ia tahu di saat seperti ini bukanlah saat yang tepat untuk kehilangan kesadaran.
Mengingat apa yang akan terjadi selanjutnya adalah potongan kejadian yang terakhir yang dilihatnya, setidaknya ia tidak boleh kehilangan momen itu, momen di mana ia kalah oleh iblis yang memiliki kekuatan yang hebat itu, dengan cara mengerikan yang masih diingatnya dengan jelas.
Bahkan saat ini pria berambut sebahu itu tidak dapat lagi merasakan hawa keberadaan musuhnya, terutama hawa keberadaan iblis yang tengah dilawannya saat ini, padahal itulah yang sangat ia butuhkan untuk mengetahui kapan dia diserang olehnya.
Semuanya menjadi semakin hening bahkan di dalam pikirannya pun sendiri, Vincent merasa batasannya ini memang sudah memaksanya untuk berhenti bertindak, ia memang tidak asing dengan perasan seperti ini, ia sering mengalami perasaan kekalahan dan ketidakmampuan beratus-ratus kali ketika berada di penjara sebelumnya.
Namun bedanya ia tidak bisa lagi untuk kembali seperti semula, jika memang kenyataan yang telah ia lihat sebelumnya benar-benar terjadi padanya.
Sial! Sial! Padahal sedikit lagi saja! Jika saja aku masih bisa melihat dan merasakan keberadaan iblis itu mungkin saja aku bisa tahu bagaimana akhirku yang sebenarnya, sial!
Vincent putus asa karena memang dilihat dari pandangannya pun ia sudah kalah telak di pertarungan ini, bahkan sebelumnya pun perkataan iblis itu benar, ras iblis benar-benar kuat bahkan serangan yang telah dilancarkannya pun tidak benar-benar berpengaruh padanya, itulah yang berada dalam pikirannya saat ini.
Tifee perlahan mendekati pria berambut sebahu yang telah memojokkannya sampai seperti ini, ia benar-benar kesal karena manusia ini sungguhlah menghalangi rencananya yang sudah sempurna itu, mengakhiri hidup manusia itu adalah caranya untuk tetap maju menjalankan tujuannya yang tertunda itu.
"Manusia itu sudah tidak berdaya lagi, setidaknya dia tidak akan mengetahui bagaimana dia berakhir, seperti yang telah kukatakan sebelumnya." Langkah demi langkah dibuat oleh iblis itu, perlahan namun pasti ia memang mendekati pria berambut sebahu itu untuk alasan bagus baginya, mengakhirinya.
__ADS_1
Di saat-saat perenungannya itu Vincent sadar saat itu juga, ternyata kekuatannya sudah dalam batasnya, namun ini bukanlah akhirnya, setidaknya jika ia tahu akan berakhir seperti yang telah dilihatnya sebelumnya, mengapa ia tidak mendekati cairan lava itu saja?
Tidak, dia tidak berniat untuk bunuh diri, hanya saja dalam kedinginannya itu indera perasa suasananya masih berfungsi sedikit, jadinya ia tahu di mana letak panas cairan lava itu berada, ia akan merencanakan sesuatu dengan mendekati cairan lava di tepi pantai itu.
Perlahan Vincent mengangkat badannya setelah merenung sebentar tadi, tidak disangkanya ia bisa melakukannya dengan cukup cepat, ternyata kekuatannya masih bisa diandalkannya di saat mendesak seperti ini.
Aku memang tidak bisa melihat dan mendengar dengan jelas, ditambah lagi dengan ketidakbisaan merasakan aura jahat yang terpancar dari iblis itu, namun setidaknya indera perasaku terhadap suasana masih berfungsi, aku akan mendekati cairan lava itu!
Perlahan namun pasti dengan pandangannya yang kabur Vincent masih bisa melihat begitu merahnya cahaya lava di tepi pantai itu, dengan hati-hati ia mendekat dan terus mendekat pada cairan lava yang terombang-ambing itu, layaknya seperti air yang berada di tepi pantai.
"Ada apa dengannya? Mengapa dia mendekati cairan panas itu? Apakah dia tahu sudah tidak memiliki kesempatan lagi?" Tifee bertanya-tanya ketika mendekati pria berambut sebahu itu malah dia berpindah tempat dan mendekati tempat berbahaya itu.
Tifee akhirnya menghentikan langkah kakinya itu, ia ingin tahu apa yang direncanakan oleh pria berambut sebahu yang keadaannya sudah lemas dan tidak berdaya itu, bahkan dari air matanya (bukan air mata sungguhan) terlihat bahwa dia tidak bisa lagi menyadari dirinya yang mendekat kearahnya itu.
Apakah di sini tepat?
Vincent merasa lebih panas dibanding sebelumnya, dalam arti ia merasa suhu panas di sekitarnya mengalahkan rasa dingin yang saat ini dirasanya juga, dengan begitu memberikannya arti bahwa memang ia sudah berada dalam jarak yang cukup dekat dengan cairan lava itu.
Sepertinya sudah cukup panas dalam jarak ini.
Vincent berhenti tidak jauh dari cairan lava yang berada di tepi pantai itu, jarak yang cukup aman sebelum ia benar-benar bisa terbakar karena panasnya cairan lava yang ada itu.
__ADS_1
Apa yang sebenarnya dipikirkan olehnya? Mengapa dia mendekati cairan panas yang berbahaya itu? Begitulah pertanyaan yang terpikirkan oleh Tifee tentang apa yang dilakukan oleh pria berambut sebahu itu, bukannya ia menjauh dari bahaya sebaliknya dia malah mendekati bahaya yang ada itu.
"Aku hanya bisa mengganti tempat ini satu kali dalam pemakaian kemampuanku ini, tidak kusangka ia mampu untuk bertahan di situasi panas seperti ini, bahkan saat ini ia mendekatinya? Sepertinya dia sudah tahu akan apa yang terjadi padanya." Tifee menduga manusia itu sudah pasrah dengan situasi yang ada, dia sudah tahu masa depannya seperti apa dan tentunya bukanlah seperti apa yang diharapkannya.