
Patricia mengangguk tanpa mengatakan apapun lagi, yang ini membuat Danny bingung Patricia ini maunya apa sebenarnya.
Tuan Housen kemudian mempersilahkan mereka untuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, hari memang sudah mulai sore dan cepat sekali malam untuk segera datang, maka dari itu beristirahat sejak awal demi mengumpulkan energi untuk hari esok bukanlah hal yang salah untuk dilakukan.
Lalu Tuan Housen undur untuk melihat bagaimana kedua pria tadi dan mengawasi mereka barangkali jika mereka mendekati sesuatu yang mudah pecah ia dapat mencegahnya sejak awal.
Danny memegang tangan Patricia karena teman perempuannya itu terlihat masih saja melamun dan terlihat lemas, mereka kemudian menaiki tangga perlahan dan akhirnya sampai di ruangan khusus kamar, dan lagi-lagi Danny semakin yakin apa yang dilihatnya ini memang tidak asing baginya.
Ada jajaran pintu kamar yang berjumlah enam di ruangan ini, dengan masing-masing tiga pada tiap sisinya, dan seperti biasa ia ingin agar menempati kamar bagian tengah saja dari satu jajaran itu.
Danny dengan bersemangat ingin segera istirahat bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu urutan tengah dari ketiga sisi jajaran kanan itu, begitu ia memegang pintu depannya itu, ia melihat sekilas Patricia masih saja berdiri terdiam di sana seperti orang yang kebingungan.
"Patricia?" Danny pikir ada yang tidak beres dengan temannya itu, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?
Seolah terhenti kesenangan akan ingin istirahatnya itu, Danny memutuskan untuk mendekati Patricia yang hanya berdiri diam saja dengan ekpresi datar yang membuat siapapun merasa penasaran dengan keadaannya ketika melihatnya.
"Patricia?" Danny melambai-lanbaikan tangannya pada pandangan Patricia yang terlihat kosong itu, karena Danny baru pertama kali melihatnya seperti ini, ia benar-benar heran mengapa saat ini keadaan temannya seperti itu?
Danny yang masih heran karena temannya yang melamun dengan pandangan kosong itu harus dikejutkan dengan temannya yang roboh tanpa sepengetahuannya.
Bruk.
__ADS_1
Namun di saat yang tepat Danny dapat menangkap tubuh Patricia yang roboh itu, dan dengan cepat Danny bisa merasakan tubuh Patricia hangat, tidak seperti suhu tubuh yang biasanya, lebih hangat dan tentunya ini menandakan kondisinya tidak terlalu baik.
"Patricia ...." Danny memegang kening temannya itu, dan benar saja hangat, di tambah saat ini keringat padanya juga bermunculan dan itu memaksa Danny untuk segera membantu mengistirahatkan temannya itu di salah satu kamar di tengah dari sisi kiri.
Danny perlahan membantu Patricia berjalan dan dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas kasur yang sudah ada, dan Danny memerhatikan lagi bagaimana keadaan temannya itu saat ini.
Menjelang petang ini, Danny baru mengetahui ternyata teman perempuannya itu mengalami kondisi di mana ia kelelahan sampai tubuhnya menjadi hangat dan tidak salah lagi dia sedang demam saat ini.
Danny mengira keadaan akan Patricia membaik seiring dengan berjalannya waktu namun ternyata dugaannya itu tidak tepat, sejak Patricia menginjakkan kakinya di rumah ini ia malah semakin menunjukkan gejala kelelahan yang berlebih itu dan harus berakhir dengan demam.
Ini sama sekali bukan salah siapapun, yang bisa Danny tangkap yaitu alasan mengapa temannya itu demam saat ini tidak lain tidak bukan adalah karena dia terlalu banyak menggunakan kemampuannya akhir-akhir ini, mungkin tidak banyak namun tetap saja kekuatan kemampuannya terkuras melebihi batasnya yang menyebabkan dia harus seperti ini sekarang.
Dan Danny sendiri tidak menepis fakta bahwa memang Patricia banyak membantunya dan teman-temannya dalam perjalanan ini, dan terus mengandalkannya saat ada seorang yang terluka, namun saat ini ia sadar ternyata terlalu mengandalkan seseorang tidak selalu berakhir dengan baik.
Danny tidak mempermasalahkan hal itu, malahan ia merasa senang karena bisa mengandalkan seorang yang punya kemampuan unik sepertinya, namun kembali lagi ke awal, Patricia bukanlah seorang yang memiliki kekuatan berlimpah yang bisa menggunakan kemampuan penyembuhannya secara terus menerus.
Dan Danny sadar pula, baru-baru ini teman perempuannya itu baru menggunakan kemampuannya kembali, yang berarti setelah sekian lama tidak digunakannya, dan bukan tidak mungkin jika ia perlu lagi penyesuaian pada kemampuannya sekaligus kondisi badannya pula, karena tidak lucu bilamana saja seorang yang bisa menyembuhkan harus terjatuh sakit karena berusaha menyembuhkan dan memulihkan kondisi tubuh orang lain, lantas bagaimana dengan dirinya sendiri?
Raut wajah Patricia kini terlihat meringis kesakitan dan makin banyak pula keringat yang ada pada tubuhnya itu, karena menjelang malam suasana mulai dingin Dann segera menutupi tubuhnya dengan selimut agar dia bisa sedikit lebih hangat.
"Patricia ... kau mengapa tidak mengatakan kondisimu yang sebenarnya? Kau terlalu memaksakan diri ya?" Danny merasa bersalah karena tidak tahu hal ini sebelumnya Patricia adalah seorang gadis yang periang dan kuat bahkan agak sulit untuk mengetahui kondisinya yang sebenarnya kecuali jika dia sendiri yang mengatakannya.
__ADS_1
Danny tidak bisa melakukan apapun selain berharap agar temannya itu bisa segera pulih kembali, keadaannya yang sakit membuatnya khawatir dan merasa tidak lengkap karena tidak mendengar keriangan temannya ini.
Danny pikir temannya itu butuh ketenangan dan tidak seharusnya ia juga terlalu lama di sini, ia pun mengangkat tubuhnya dari sisi kasur itu untuk keluar dari ruangan kamar temannya beristirahat itu.
Sret.
Begitu hendak beranjak dari sana Danny merasakan ada seorang yang menarik bajunya, dia pun menoleh perlahan dan melihat Patricia yang sedang melihatnya dengan tatapan kelelahan sekaligus sedih, Danny tidak mengetahui bagaimana perasaan temannya itu saat ini, namun mengingat tindakannya ini dicegahnya tentu ada alasan dibalik hal ini.
Danny berbalik kembali dan berjongkok di sana. "Ada apa Patricia? Beristirahatlah, aku tahu kau kelelahan karena terlalu berlebihan menggunakan kemampuanmu bukan?"
Raut wajah memelas terlihat dengan jelas dari gadis itu saat ini, seolah ia tidak mau sesuatu terjadi dan ia ingin mencegah hal itu terjadi dengan cara apapun.
"Hm, tetaplah di sini," ujarnya pelan, benar-benar nada yang pelan yang tidak biasa terdengar dari seorang yang bersemangat sepertinya.
Mendengar permintaan yang sederhana itu sebenarnya Danny tidak keberatan, namun mengapa temannya ini ingin ditemaninya? Bukankah lebih baik baginya jika beristirahat dengan tenang tanpa ada yang mengganggunya?
"Apakah aku tidak menganggumu?" Daripada penasaran Danny menanyakan hal ini langsung padanya.
Patricia menggeleng pelan, terlihat ia masih berharap akan sesuatu, yaitu permintaannya tadi pada temannya, ia tidak mau ditinggalkan sendirian di sini.
Danny tersenyum lembut sembari kembali duduk di sisi tempat tidur temannya itu, mau bagaimanapun menemaninya bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan, malahan Danny senang karena Patricia mau untuk ditemani dirinya.
__ADS_1
"Baiklah."