Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 504: Berhasil Dipancing


__ADS_3

Di masa kini.


“TIDAK MUNGKIN!” Olivia mengerang, ekspresi wajahnya sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


BUGGHHHH!


Tinjuan Arthur dengan aura sihir biru bercampur aura kegelapan mengenai telak perut sang iblis perempuan yang tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan menghindar sedikitpun saja tidak dilakukannya.


‘Seharusnya dia mati!’ Olivia berusaha menahan tubuhnya yang sudah lemah ini. Namun serangan tinjuan sang pria pirang itu benar-benar mengenainya telak.


‘AKU BUTUH ENERGI GELAP!’ Sang iblis perempuan itu berusaha untuk mengumpulkan kembali kekuatan aura gelap, namun apa daya, usahanya itu tidak terlalu berjalan sebagaimana yang diharapkannya.


Fakta bahwa ia sudah mengumpulkan aura kekuatan gelap semaksimal yang ia bisa adalah benar. Mengumpulkan aura kekuatan butuh tenaga, dan tenaga itulah yang juga benar-benar dihabiskan oleh sang iblis perempuan ini.


‘Kenapa dia bisa menyimpan energiku!?’ Aneh sekali, tidak pernah sekalipun dijumpai sang iblis perempuan ini seorang manusia yang bisa bertahan dan bahkan bisa menyimpan energi gelap ras iblis.


Hal ini terlalu diluar apa yang bisa ia pikirkan.


‘PADAHAL SEHARUSNYA DIA!’ Olivia masih tidak bisa menerima kenyataan, namun pada akhirnya ia sudah terkena serangan solid dari lawannya.


“BAGAIMANA RASANYA KEKUATANMU SENDIRI!” Seketika itu juga aura kekuatan gelap yang ada pada tubuh Arthur mengalir cepat ke tubuh Olivia, saking cepatnya sampai-sampai membuat tubuh sang iblis itu bergetar hebat.


‘Ti- tidak mung... kin!’ Tidak terpikirkan Olivia, lawannya itu menyerap semua aura gelap serangannya dan membalikkannya kembali dengan sangat cepat.


Memang benar sang iblis perempuan ini butuh energi gelap, namun bukan dalam format seperti ini.


Energi gelap yang diterimanya sekarang terus bertambah besar dan semakin besar.


Tubuh Olivia benar-benar terpenuhi oleh energi kegelapannya sendiri, membentuk urat-urat hitam yang muncul di sekujur tubuhnya.


Kalau terus begini maka....


“SIAALL!”


BUMMMM!


Seketika itu juga asap hitam tebal tercipta dan membumbung tinggi ke atas, menyelimuti sebagian besar area padang gurun ini.

__ADS_1


*


Sementara itu di sisi lain.


“HAH!”


Danny terperanjat di tempatnya, ia merasa berada di ruang kosong nan gelap tanpa melakukan apa-apa selama beberapa saat.


“Di- dimana kita!?” Danny berusaha menenangkan dirinya.


“Ah, maaf, ada sedikit gangguan teknis.” Raven tidak menyangka akan butuh waktu beberapa saat untuknya agar bisa sampai ke dekat area gerbang Kerajaan Barat.


Padahal seharusnya kemampuan berpindah tempatnya ini bekerja cepat, namun kali ini tidak seperti itu. Apa ini karena ia kelelahan karena sudah melawan pasukan iblis sebelumnya?


Srek.


Danny sadar kini ia sedang berada di antara semak dan pepohonan, dan tak jauh di depannya ada gadis dengan gaun hijau yang masih menggempur dinding sihir pertahanan Kerajaan Barat.


“Kita hanya mengamati!?” Danny pikir ia akan muncul di depan lawannya sebagaimana yang seharusnya dilihat orang, namun ternyata tidak seperti yang ia pikirkan.


“Bukankah dia sadar akan keberadaan kita?” Danny sadar Cecilia atau Shea ini memang bukanlah sembarang lawan, dan dengan kemampuannya itu tidak aneh jika dia menyadari ada yang datang.


“Dia memang hebat, tapi kemampuan bersembunyi kita lebih hebat.” Raven bahkan sudah mengakui kehebatan lawannya sejak awal, bahkan sebelum bertarung sekalipun.


BUM!


BUMMM!


Danny bisa melihat bagaimana Shea dengan keseriusannya hendak menghancurkan aura sihir pertahanan merah yang melindungi Kerajaan Barat.


Tentunya jika dia berhasil menghancurkannya, maka keadaan bisa lebih rumit dari yang sekarang terjadi.


“Ada rencana?” tanya Raven pendek.


“Rencanaku BUKAN mengamati.” Danny menjawabnya dengan penekanan nada yang berarti.


“Kau tidak setuju?” Raven tidak menyangka juga Danny tidak sejalan dengannya.

__ADS_1


Sret.


Danny tidak menggubris perkataan sang makhluk hitam itu, dan malah berdiri dan berjalan pelan mendekati makhluk yang sedang menyerang dinding sihir pertahanan merah itu.


“Archifer, untuk apa aku mengulur waktu seperti ini?” Sang setengah elf ini tidak terlihat menikmati apa yang sedang dilakukannya.


“Hentikan.” Danny menatap tajam ke arah sang setengah elf itu.


“Duh bodoh sekali! Dia ini tidak mengerti strategi serangan dadakan!?” Raven malah menggerutu akan kelakuan pemuda ini. Di saat lawannya masih belum sadar mengapa dia malah mengajaknya ngobrol santai?


Akan lebih berguna apabila si pemuda itu melakukan sesuatu yang merugikan lawannya?


Perlahan namun pasti Shea berbalik badan, dan ia terdiam, seketika itu juga Danny bisa merasakan perubahan suasana yang cukup berarti.


Tidak heran bilamana atmosfer sekitar berubah seperti ini, mengingat yang sekarang ada dihadapannya adalah Shea, sang setengah elf yang kuat.


“Shea.” Danny memandang tajam sang setengah elf ini.


“Hmmm~” Shea terlihat seperti menyadari sesuatu.


“Jadi begitu ya....” Bibir Shea perlahan naik ke atas, pandangannya makin tajam.


Danny tidak tahu apa yang dipikirkan oleh lawannya ini, namun yang pasti dia terlihat tidak muram seperti yang sebelumnya.


“Kemana panggilan anehmu itu?” tanya sang setengah elf, biasanya ia tidak dipanggil seperti ini.


“....” Danny sadar, ia menganggapnya rekan lama, namun kenyataan berkata lain.


Gret....


Danny mengepalkan kedua tangannya, menghimpun kekuatan sihirnya.


Mematikan perasaan dan maju ke depan. Tidak peduli masa lalu, sekarang dia adalah musuhnya.


“Kematian sudah ada di depanmu.” Aura kekuatan alam mulai menyelimuti tubuh sang setengah elf. Dia mengeluarkan sinar hijau terang.


“HAAAH!” Danny maju ke depan dengan segenap kekuatan yang telah dihimpunnya itu.

__ADS_1


__ADS_2