
Danny sekarang tahu kenyataan yang sesungguhnya, berusaha untuk menerima kenyataan ia sudah salah mengambil pilihan sebelumnya.
‘Jika saja aku tidak perlu melawannya....’ Danny sebelumnya begitu yakin ini adalah sepenuhnya kesalahan iblis, namun sekarang ia tahu ternyata tidak seperti itu.
Ia sudah mendengar dari gurunya sendiri, Freiss, yang adalah kenyataan yang sesungguhnya.
Freiss melihat Danny seperti terluka, raut wajahnya muram dan terlihat menyesali apa yang telah terjadi.
“Danny, kau sebenarnya tidak punya pilihan lain selain menghadapinya.” Freiss tidak berhenti bicara soal kenyataan yang sudah ia tahu.
Freiss tahu kenyataan di dunia ini terkadang lebih kejam, namun bukan berarti Danny terus bisa menyalahkan dirinya sendiri juga atas apa yang telah terjadi.
“Jikalau kau menghindarinya juga, dia akan terus mengejarmu dan tetap akan merebut batu permata mulia darimu.” Freiss bisa merasakan sihir iblis yang begitu kuat dari Forhan, kemungkinan mantan muridnya bisa lepas dari jerat iblis itu sungguh kecil.
“Jadi kau hanya punya dua pilihan, menghadapi rekanmu sendiri atau kehilangan batu permata mulia. Kau sudah memilih pilihanmu sendiri.” Freiss menyampaikan apa yang ada dalam pikirannya.
Ia tidak bermasuk menyalahkan Danny atas kematian Forhan, namun ia ingin agar Danny bisa lebih mengendalikan dirinya sendiri ketika menggunakan kekuatan leluhur demi human ini.
Mata Danny yang agak merah menatap Freiss dengan lemah.
Keadaannya memang sama persis dengan apa yang dikatakan oleh gurunya itu.
Danny tahu Forhan adalah seorang petarung yang kuat dan memiliki tekad yang kuat untuk melakukan apapun yanh dia percaya.
‘Forhan tidak memberikan celah untukku bisa lari.’ Danny sadar akan hal itu.
Jikalau ia menggunakan kekuatan batu permata mulia untuk lari darinya, mungkin semuanya bisa berakhir berbeda, namun tidak menjamin temannya itu akan berhenti mengejarnya, seperti yang telah dikatakan oleh gurunya sendiri.
Danny sudah mengambil pilihan yang berat yang tidak mungkin ia bisa pilih tanpa kekuatan batu permata mulia.
‘Aku tidak akan bisa bertahan jika mengandalkan kekuatanku sendiri....’ Danny sadar betul akan hal ini.
Adil atau tidak pertarungan sebelumnya tidaklah penting. Danny hanya melihat apa yang menjadi tujuannya saja selama ini, bahkan sampai mengabaikan apa yang ada di depannya.
‘Apa itu berarti aku telah dibutakan oleh kekuatan ini....?’
__ADS_1
Danny tidak bisa mengelak akan kesalahannya sendiri, mau bagaimana pun caranya, pasti ada cara yang lebih baik yang bisa ia lakukan.
‘Guru benar, karena kelemahanku sendiri aku tidak bisa menghadapi situasi sulit itu.’
Di antara rekannya sendiri dan tugas yang tengah ia emban, Danny bukanlah orang tak berperasaan yang abai terhadap temannya sendiri, dan juga bukan seorang yang membiarkan apa yang harus diperjuangkannya.
“Kau sudah memilih pilihan yang benar Danny, untuk saat ini.” Freiss masih terdengar serius, namun nada suaranya tidak terdengar menekan seperti sebelumnya.
Perkataannya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan apa yang telah dikatakan sebelumnya.
Padahal tadi dia menyadarkan Danny akan kesalahannya itu, namun sekarang mengapa malah dia membenarkan perbuatannya?
Pernyataan yang berkontradiksi ini membuat Danny bingung.
“Aku membunuh temanku sendiri.... tidak ada yang benar dari itu.” Danny rasanya ingin berteriak dan meluapkan perasannya, namun mulutnya berat untuk berkata dan dadanya juga terasa sesak untuk melakukan hal itu.
Danny tidak mengerti mengapa gurunya ini malah membenarkan apa yang dilakukan, padahal dari awal tadi ia mendengar bagaimana kenyataan pahit dari gurunya itu.
“Tidak ada gunanya menyalahkan diri atas apa yang tidak bisa kau ubah Danny.”
Freiss tidak bermaksud membiarkan Danny tetap terpuruk setelah mendengarkan kenyataan yang terjadi, namun ia ingin agar Danny memiliki mental yang kuat dan perspektif baru dalam melihat sesuatu.
“Kau sudah membuktikan dirimu sebagai pemegang utama dari batu permata mulia Danny.”
Danny terdiam mendengar perkataan gurunya itu, ia tidak terhibur akan hal ini, masih banyak pertanyaan yang ada dalam dirinya.
“Kau hanya perlu percaya pada kekuatanmu... demi mengendalikan kekuatan besar ini.” Freiss melanjutkan perkataannya.
‘Menggunakan kekuatanku... untuk mengendalikan kekuatan batu permata mulia?’ Danny terhening, ia tidak langsung paham dengan apa yang dimaksud oleh gurunya ini.
“Aku yakin Forhan sudah tenang di alam sana.” Freiss kembali mengatakan hal yang sama dua kali, berusaha untuk meyakinkan Danny.
Freiss sengaja menggunakan kata ‘membunuh’ karena ingin Danny sadar bahwa memang ia bisa punya kendali atas kekuatan batu permata mulia ini.
Tidak peduli seberapa berat usaha yang harus dilakukannya. Mengandalkan kekuatan luar saja tidak cukup untuk membuat situasi jadi lebih baik.
__ADS_1
Danny terdiam, tahu fakta bahwa ia turut andil dalam kematian teman dekatnya itu, namun di saat yang bersamaan ia jadi menyadari sesuatu.
Kenyataan bahwa ia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kekuatan dari luar dirinya.
‘Apa itu berarti aku bisa mengendalikannya?’
Danny akhirnya sadar akan apa yang dimaksud oleh gurunya ini. Selama ini ia memang hanya dikendalikan sepenuhnya oleh kekuatan batu permata mulia.
Begitulah seterusnya sampai sekarang, dan akhirnya Danny sadar ternyata ia masih punya harapan untuk tidak menyerahkan kesadaran penuhnya pada kekuatan leluhur demi human ini.
‘Tapi selama ini aku bisa bertahan karena kekuatan ini....’ Danny sadar banyak hal telah dilaluinya dan dengan kekuatan batu permata mulia ia bisa melewati semua itu.
Seolah ia sudah percaya dengan kekuatan ini, dan pada kenyataannya memang seperti itu.
‘Kupikir dengan menyerahkan kesadaranku maka semuanya akan lebih baik.’ Danny tahu sekarang, tidak selalu ia bisa mempercayai kekuatan ini sepenuhnya.
Selain dari harapan yang kini muncul kembali ke permukaan. Danny sadar juga tidak mudah mempertahankan kesadarannya ketika ia menggunakan kekuatan ini.
Jadi bak pedang bermata dua, di satu sisi kekuatan Danny bertambah, di sisi lain ia harus menanggung konsekuensi akan apapun yang terjadi akibat kekuatannya sendiri, tanpa sepengetahuannya sendiri.
‘Jadi Guru Freiss....’ Kini Danny mulai paham mengapa gurunya mengatakan hal ini.
Tidak lain tidak bukan adalah untuk menyadarkan Danny mengenai kekuatan batu permata mulia ini.
Mau seberat apapun, pasti ada suatu cara untuk mengendalikan kekuatan batu permata mulia ini!
Dengan begitu ia bisa mencegah hal buruk yang terjadi jikalau ia menggunakan kekuatan ini.
‘Aku harus bisa mengendalikan kekuatan ini, bagaimana pun caranya.’
Danny menguatkan tekadnya, walaupun kini kekuatan batu permata mulia hampir dimilikinya sepenuhnya, namun tidak ada artinya jika ia tidak bisa mengendalikannya.
Fakta bahwa mengendalikan satu kekuatan batu permata mulia sudah susah tidak lagi mengganggunya, Danny tidak bisa kompromi dengan hal ini.
Pilihannya hanya dua, menguasai kekuatan batu permata mulia, atau tidak menggunakannya sama sekali. Sesederhana itu, meskipun kedua pilihan itu terasa mustahil adanya.
__ADS_1
‘Kekuatan hatiku tidak akan kalah dengan kekuatan batu permata mulia!’