
Tidak terasa beberapa waktu telah dihabiskan oleh kedua orang ini, yang di mana harusnya mereka berlatih masing-masing dengan serius malah harus berakhir di sini dengan mengobrol santai seolah sudah melupakan kewajiban latihan yang sedang diemban oleh mereka itu.
"Ngomong-ngomong waktu tidak terasa ya Danny." Patricia melihat bagaimana cuaca mulai berubah menjadi sedikit redup karena matahari sudah mulai bergeser dari atas dan kini bisa terlihat dengan jelas diantara laut yang luas itu, ia bisa melihat matahari yang hanya butuh beberapa waktu lagi sebelum matahari benar-benar terbenam di sana; gadis itu sendiri sudah benar-benar lupa mengenai latihan yang harusnya dijalankan bersama dengan kedua temannya di tepi pantai ini.
Danny juga tidak benar-benar ingat lagi akan bagaimana latihan yang sebelumnya ia hanya disuruh beristirahat tiga puluh menit itu, kini ia malah menghabiskan waktu lebih lama lagi hingga akhirnya sore pun tiba.
"Apa ada sesuatu yang lupa kulakukan ya?" Danny menggaruk kepalanya sendiri, Patricia sedikit memerhatikan apa yang di katakan temannya, namun ia sendiri juga kebingungan untuk mengingat apa yang sebenarnya mereka tengah lakukan di sana.
Saking menyenangkannya untuk menikmati keindahan laut dari posisi yang ideal seperti ini, membuat Danny dan Patricia terlena bahkan melupakan hal penting yang merupakan tujuan mereka berada di pulau ini.
Tidak berapa lama kemudian Danny mengedipkan matanya lagi karena masih saja tidak bisa melepaskan pandangannya dari pemandangan indah itu, bahkan ia yang sempat mempertanyakan keberadaannya di sini kembali lupa karena begitu damainya tempatnya berada itu, hingga apapun yang muncul dipikirannya akan lewat dengan begitu cepat.
"Ah? Siapa?" Danny seketika itu juga melihat seorang yang menghalangi dia dari jarak yang cukup dekat, ia tidak tahu siapa orang yang berada di dekatnya dengan tiba-tiba itu, padahal ia baru saja mengedipkan mata dan malahan ia sedang dihalangi seseorang saat ini.
Patricia juga melihat seorang yang sama, hanya dalam satu kedipan mata saja, ia melihat ada yang berdiri di dekat Danny, yang pasti karena seorang yang tiba-tiba muncul itu membelakangi cahaya hingga akhirnya membuat wajah orang yang tiba-tiba ada di sana sulit terlihat karena berbayang.
Danny perlahan melihat ke atas, seorang yang tidak disangkanya dan tidak diduganya sama sekali, dengan melihatnya sekejap ia tahu akan tujuannya berada di pulau ini.
"Tu- Tuan Housen?!"
"Danny, mengapa kau bisa berada di sini bersama dengan gadis ini?" Tuan Housen yang wajahnya berbayang dan tidak terlalu terlihat dengan jelas bagaimana ekpresinya itu menanyakan hal yang memang harus ditanyakannya.
Danny yang terlalu menikmati suasana sampai akhirnya lupa akan tujuannya yang sebenarnya tidak begitu terpikir olehnya alasan mengapa bisa-bisanya ia berada di sini, selain memang karena mengejar bayangan masa lalu temannya itu.
"Ah, Tuan Housen Danny tidak sengaja sampai di sini karena ia mengingat teman lamanya." Patricia membantu Danny menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi.
Tuan Housen sedikit terdiam, sudah beberapa jam lewat dari sesi latihan yang seharusnya mulai dijalankan kembali, Danny baru ingat sekarang dan ia tidak tahu harus berbuat atau berkata apa pada gurunya ini.
"Teman lama?" Tuan Housen jadi semakin penasaran mengenai alasan yang menurutnya tidak masuk akal itu, lagipula siapa teman lama pemuda ini? Padahal keberadaan orang di pulau ini hanya terbatas pada lima orang saja, yaitu dirinya dan anak didiknya yang sedang beatih di sini.
"Tempat ini tersembunyi dan rahasia, bahkan aku sendiri pun tidak tahu apakah ada orang lain yang berada di sini."
Danny akhirnya bisa memikirkan penjelasan yang tepat yang bisa diungkapkannya pada gurunya itu.
"Saya tidak terpikir hal itu Tuan, yang melihat sosok teman lama itu hanyalah saya sendiri, jadinya itu hanyalah dalam pikiran saya saja." Danny menjelaskannya dengan sederhana, karena memang ia kini sudah tahu betul peristiwa tadi di mana ia mendengar dan melihat teman lamanya itu tidaklah nyata adanya.
"Setelah beberapa saat kami berbincang, kami akhirnya terpana karena pemandangan laut yang indah ini dan akhirnya kami berdua lupa akan latihan kami." Patricia melengkapi penjelasan agar semuanya menjadi jelas dan itu baik adanya.
Tuan Housen yang kemudian melihat ekpresi anak muridnya yang merasa bersalah itu akhirnya mengerti mengapa tiba-tiba ia tidak bisa menemukannya di area hijau di tengah pulau, namun ada hal lain yang membuat dirinya penasaran pada pemuda ini.
__ADS_1
"Danny, tempat latihan kita dan temanmu ini apakah kau tahu jaraknya berapa jauh?"
Mendengar pertanyaan Tuan Housen membuat Danny bingung, bukankah jarak antara tempat latihannya dan di sini tidak terlalu jauh? Bahkan dirinya bisa sampai dengan cepat ke tempat ini.
Danny menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, lagipula ia tadinya hanya berlarian dengan sekuat tenaga dan tiba-tiba ia merasa aneh, begitu saja.
Tuan Housen menghela nafas ternyata apa yang menjadi dugaannya ini benar-benar terjadi, ia berniat menjelaskan hal ini pada anak muridnya itu.
"Danny, tepi pantai ini adalah bagian ujung dari pulau ini, sedangkan kita berlatih di tengah pulau, tentu saja perbedaan jarak anatara tempat ini dan tempat latihan kita berbeda jauh."
Danny terkejut, ia tahu meskipun pulau ini tergolong pulau tak berpenghuni dan kecil namun bukan berarti jarak antara bagian tengah pulau dan sisi pulau ini sedekat yang ia kira, ia baru menyadari akan hal ini.
"Be- benar juga! Bahkan aku, Tuan Vincent dan Tuan Brock berjalan dengan cukup memakan waktu, bahkan harus berangkat dari pagi-pagi benar!" Patricia mendukung apa yang menjadi informasi yang diberikan Tuan Housen yang memang seperti itu adanya.
Tuan Housen memandang Danny dengan seksama sembari berjongkok agar wajahnya yang serius dan tidak main-main itu bisa terlihat jelas di mata anak muridnya itu.
"Sepertinya masih ada sisa kekuatan batu permata mulia kecepatan yang ada padamu Danny."
Danny terkejut mengetahui apa yang dikatakan oleh gurunya itu, memang benar ia sebelumnya merasakan perasaan aneh seperti tiba-tiba berpindah tempat dari area pepohonan yang berdekatan tiba-tiba dan dalam sekejap sudah sampai di area bagian akhir pepohonan yang saling berdekatan itu dan tidak sengaja bertemu dengan Patricia.
"Ah ... mengapa saya tidak menyadarinya dari awal?" Danny yang baru mengetahui apa yang terjadi di mana ia bisa sampai ke tempat ini dengan cepat tanpa sepengetahuannya karena sisa kekuatan pinjaman batu permata mulia kecepatan dari gurunya itu.
Ia merasa bersalah karena memang tidak mementingkan apa yang seharusnya dilakukan dan malah lebih mementingkan perasaan yang kini menghambatnya dalam tujuannya yang sebenarnya itu.
"Angkatlah kepalamu Danny." Tuan Housen memegang pundak anak muridnya itu, ia memang tidak begitu tahu akan bagaimana teman lama, apa hubungannya, atau sepenting apa orang yang dipikirkan oleh Danny, namun setidaknya ia tahu anak muridnya itu berada dalam keadaan aman saat ini.
Danny belum juga mengangkat kepalanya, ia masih merasa bersalah karena memang telah kehilangan fokusnya karena masa lalu yang membebaninya itu, namun setelah diberikan nasihat oleh Patricia bebannya itu banyak berkurang dan sekarang pilihan hanya tinggal padanya untuk tetap berada di masa lalu ataukah melangkah dari masa lalu itu.
Tuan Housen tidak menyangka kekuatan pinjaman batu permata mulia bisa tersisa seperti itu, padahal sebelumnya ia sudah yakin benar sudah memasang target lima menit agar pinjaman kekuatan yang diberikan pada anak murinya itu berhenti bekerja secara total.
Namun apa yang terjadi saat ini masih diluar apa yang bisa ia duga saat ini, pak tua itu mengira ternyata ada semacam pemicu yang berada di dalam diri anak muda ini hingga akhirnya ia bisa mengeluarkan kembali kekuatan pinjaman yang seharusnya sudah hilang dari dalam tubuhnya itu.
Namun apa yang diketahuinya ini tentang kekuatan peminjaman yang tiba-tiba muncul lagi pada Danny tidak bisa dijelaskan olehnya, yang seharusnya tidak terjadi itu malah terjadi dan diketahui nya saat ini dan bahkan pak tua ini bertanya-tanya dalam dirinya sendiri mengapa hal ini bisa terjadi.
"Ma- maafkan saya juga Tuan, saya terlalu terlena dengan pemandangan di tempat ini hingga akhirnya sampai lupa waktu dan mengabaikan latihan!" Patricia menunduk juga tanda penyesalan karena memang ia sendiri sama mengabaikan hal yang penting juga.
"Kalian berdua, angkatlah kepala kalian." Tuan Housen melihat permintaan maaf dari kedua anak muda ini, ia memang tidak marah pada mereka berdua dan setelah mendengar alasan masing-masing akhirnya ia mulai bisa memahaminya juga dan tidak begitu mempermasalahkannya.
"Marilah kita pergi ke rumah, hari sudah mulai sore dan istirahatlah sampai besok pagi kalian memulai latihan kembali." Tuan Housen berbalik dan meninggalkan mereka dan begitu Danny dan Patricia mengangkat kepalanya guru yang tadinya ada dihadapan mereka menghilang entah kemana.
__ADS_1
"Cepat." Danny hanya bisa terdiam ketika melihat Tuan Housen tiba-tiba tidak ada seperti itu.
Patricia mengangguk pelan tanda setuju. "Kau benar."
Akhirnya Danny dan Patricia berjalan bersama menyusuri area tepi pantai itu dan menemukan jalan di mana mereka menuju ke tengah pulau agar bisa kembali ke rumah, mereka harus kembali berdua karena memang Vincent dan Brock sudah pulang terlebih dahulu.
•
Keesokan harinya Danny kembali berlatih pagi-pagi benar di tempat yang sama, yaitu di tengah pulau tidak jauh dari rumah gurunya, lapang rumput yang dikelilingi oleh pepohonan yang berdekatan dan juga semak rumput yang tinggi.
Teman-temannya, Patricia, Brock, dan Vincent sudah diurus oleh gurunya dan berlatih pula di tempat yang sama seperti kemarin.
Kini Danny sedang melihat bagaimana Tuan Housen, gurunya itu menatapnya dengan serius seakan sedang menatap seorang yang tidak bisa diperkirakan, dan seperti tengah mengamatinya dengan seksama.
Melihat ini membuat Danny agak gugup, apa lagi yang dipikirkan gurunya ini? Apakah ia akan menjalani latihan yang tidak terkirakan seperti sebelumnya?
Mata kuning pak tua berpenampilan muda itu menatapnya dengan tajam dan seksama, tidak bisa terpikirkan akan langkah apa yang akan diambil olehnya saat ini.
"A- ada apa Tuan?" Danny merasa tidak enak karena terus ditatap seperti itu, jika ia harus kembali latihan seperti yang kemarin setidaknya ia bisa lebih siap dibanding dengan latihan sebelumnya.
"Aku punya pertanyaan untukmu Danny." Tuan Housen menyilangkan tangannya di dada, sepertinya apa yang akan ditanyakan olehnya adalah hal yang begitu penting dan tidak main-main.
"Boleh, apa yang ingin Tuan ketahui?"
"Apa kau begitu dekat dengan teman lamamu itu?"
"Apa?" Danny sedikit tidak mengerti mengapa tiba-tiba gurunya itu menanyakan hal seperti itu?
Namun Danny tidak memiliki pilihan lain selain memang menjawabnya, Tuan Housen terkesan bertanya sesederhana mungkin yang adalah inti dari pertanyaannya itu.
"Ya, dia yang menyelamatkan saya ketika tidak sadarkan diri, dia merawat saya dan peduli terhadap saya, jika ditanya bagaimana kedekatan kami, rasanya cukup dekat."
Tuan Housen terdiam, akhirnya ia tahu alasan mengapa pemicu kekuatan pinjaman bisa terjadi di dalam tubuh anak muda ini, yang kemungkinan besar adalah keinginannya yang begitu besar untuk bertemu dengan teman lamanya hingga akhirnya bisa memicu kekuatan yang seharusnya sudah tidak ada dalam tubuhnya itu.
"Ah, saya ingin tahu mengapa saya masih bisa menggunakan kekuatan pinjaman batu permata mulia kecepatan kemarin Tuan?"
Baru saja pak tua itu memikirkan dugaan terbesarnya akan kejadian yang dialami oleh anak muda itu kemarin, dan akhirnya ia memutuskan untuk menceritakannya dugannya itu saat ini.
Danny akhirnya mendengarkan dengan seksama bagaimana gurunya itu menjelaskan kejadian yang cukup aneh kemarin lalu.
__ADS_1
"Ah begitu ya." Setelah mendengarkan semua penjelasan gurunya itu akhirnya Danny bisa memahami mengenai dugaan terbesar yang dijelaskan tadi, bahwa memang dirinya itu punya keinginan yang kuat untuk mencapai dan mengejar teman lamanya itu hingga tanpa sadar kekuatan pinjaman yang bisa jadi sedikit tersisa terpacu dan membuatnya bisa bergerak instan dari tengah pulau ke bagian tepi pulau.