
Memiliki sahabat memanglah menyenangkan, namun kau selamanya tidak bisa menilai dari luar, bisa saja orang tersebut hanya 'berakting' dan kau percaya dan menjadi korban yang akan memupuskan harapanmu. Memiliki seorang sahabat adalah hal yang penting karena ia lebih daripada seorang teman.
Sahabat, itulah yang dipikirkan oleh Hendrik selama ini, ia tahu bahwa dirinya seorang yang nyentrik dan penuh semangat, namun dibalik ia melakukan semua itu adalah agar supaya ia tidak kesepian, ia bosan menjadi seseorang yang hanya berdiam diri dan menunggu seseorang menyapa atau mengajaknya ngobrol. Agar ia diperlakukan demikian tidak ada cara lain selain ia yang harus berbuat demikian.
Tidak buruk, dibalik ia menjadi seorang yang aktif, ia juga disenangi semua orang akan sifat baiknya itu. Sebuah kepuasan yang lebih dibanding ia hanya sekedar dihargai ia juga bisa merasakan indahnya menghargai.
***
Ahhhh, begitu banyak yang ada dipikirannya saat ini, seharusnya ia sudah tidak menantang sahabatnya yang lebih kuat dari dirinya itu. Ini sama seperti bunuh diri baginya.
Dibalik kepulan debu yang tersebar diseluruh arena menyembunyikan kondisinya saat ini, ia kesakitan, marah, putus asa dan sepertinya tidak ada bagian dirinya yang dulu saat ini.
Rasa sakit yang amat menyakitkan sudah cukup ia tampung, rasa-rasanya ia keberadaan dirinya sudah tidak bisa ia rasakan lagi dan lagi pula dirinya yang 'baik' sama sekali tidak dapat menyelamatkannya saat ini.
Hendrik ingat ia punya satu teknik yang selama ini ia latih dengan sungguh-sungguh, dengan catatan ia sama sekali tidak boleh menggunakannya kecuali dalam keadaan hidup dan mati, teknik tersebut ia pelajari dari seorang pendekar di kota kelahirannya, bahkan sampai saat ini ia sebenarnya masih belum dapat mengendalikan teknik kemampuan yang ia pelajari itu.
Namun mengingat dirinya tidak mempunyai pilihan lain, ia harus menggunakannya dan bahkan telah menggunakannya sebelum tepat ia terhempas ke sisi bagian lain dari dinding arena itu.
Emosinya mulai tak beraturan, pikirannya kosong dan ia dikuasai oleh tekniknya sendiri, sebuah teknik yang selama ini bahkan belum ia kuasai. Teknik terhebat dan bahkan membahayakan dirinya sendiri.
Sebuah teknik yang bernama "Mirror Perfect" Dimana penggunanya dapat melipatgandakan kekuatannya, teknik ini tidak akan membuat penggunanya lebih kuat dari lawannya melainkan hanya menyamaratakan kekuatan dengan lawan sedang dihadapi penggunanya.
"Hendrik... kau baik-baik saja..?" teriak Brock dengan suara berat dan bergema, tidak- ia bukannya khawatir dengan Hendrik. Ia hanya ingin mengetahui apakah Hendrik masih memiliki kekuatan untuk dapat lebih memuaskan dirinya itu.
"?!"
Dibalik kepulan debu tersebut, Brock merasakan aura kekuatan Hendrik semakin meningkat dengan cepat, samar-samar terlihat seorang pria dengan wajah babak belur dan berdarah-darah pada sekujur tubuhnya tersenyum mengerikan layaknya orang yang benar-benar berbeda dari sebelumnya.
__ADS_1
HUSHH!
Kepalan tangan Hendrik yang terlihat masih lemah itu datang mengincar kepala lawannya itu namun berhasil ditangkisnya dengan tangan besar nan berotot. Mata mengerikan Hendrik membuat Brok kaget dan membuatnya terhempas kebelakang.
"Ha..."
"Hahaha!!!"
Brock seakan merasa kekuatan Hendrik menyamainya.
"Ini yang kutunggu Hendrik.. INILAH YANG KUTUNGGU!!!'
Kini kedua pria itu kembali menggila di arena itu, hempasan demi hempasan, pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan, tangkisan demi tangkisan semua hal yang membuatnya dapat menang, mereka melakukannya.
Namun waktu terus berjalan, teknik yang digunakan Hendrik tidak bisa digunakan lebih lama, terlebih lagi Hendrik telah merasakan efek dari penggunaan tekniknya itu. Perlahan kesadarannya mulai kembali.
Hendrik mengambil langkah untuk mundur, ia menutup mulutnya karena merasa ada sesuatu yang keluar dari mulutnya, mungkin hanya dahak, ia juga merasa dadanya sesak dan sulit untuk bernafas.
"Hah? kenapa kau mundur Hendrik? ini bahkan belum satu jam kita bertarung.."
"Kita baru pemanasan, mengapa kau mundur?"
"?!"
Hendrik membuka mulutnya dan melihat tangannya, tangannya penuh darah.
"!"
__ADS_1
"Uhuk! Uhuk!"
Hendrik terus batuk darah, darah mulai berceceran di arena tersebut.
"*Sepertinya memang waktuku telah habis."
"Brock memang tak dapat kukalahkan, aku tidak bisa menghentikannya."
"Aku terus berharap, namun perbedaan kekuatan kami terlalu jauh*"
Pandangannya mulai kabur, ia tidak mampu lagi bertahan lebih lama. ia tersungkur dengan kedua kakinya, meskipun tangan dan kakinya berusaha untuk menopang tubuhnya untuk kembali berdiri namun semua usahanya tidak membuahkan hasil. Kini tubuhnya hanya menerima agar dirinya rebah di arena itu.
"Hendrik...."
BLUGH!
Hendrik terjatuh, tanda berakhirnya pertarungan dengan sahabatnya itu.
"HENDRIK!"
".... HENDRIK!!"
Pandangan Hendrik kabur, namun ia masih sedikit tersadar karena ada yang memanggilnya.
"Si...siapa?"
Terlihat seorang pria yang baru saja bertemu dengannya itu berlari kearahnya dengan wajah yang nampak khawatir dengan keadaannya.
__ADS_1
"Da....nny?"