
Vincent terdiam ketika mendengar apa yang Danny katakan, begitu pula yang lain.
“Ah, sebenarnya gadis bertudung tadi masih ada, tapi ... bagaimana ya menjelaskannya....” Danny agak kesulitan untuk menjelaskan kondisi rekannya yang sekarang ini.
“Ah terima kasih penjelasannya, tapi aku tidak suka hal rumit.” Dengan cepat Vincent mengubah alur percakapan ini, seolah rasa penasarannya menguap di udara dengan cepat.
“Dia ada tapi tidak ada?” Brock menghayatai apa yang telah didengarnya.
“Aku tak menyangka kau suka hal yang rumit Brock.” Vincent terkesan bagaimana pris besar itu suka berpikir ternyata.
“Dia bukan lagi seorang yang kukenal.” Danny menjelaskan cepat dan nada bicaranya terdengar lemah.
“Jadi dia berubah?” Patricia menanyakan ini dengan cepat dan juga sederhana.
Danny mengangguk kecil. “Benar.”
Penjelasan ini mudah dipahami, kini ketiga rekannya sudah dapat gambaran kasar mengenai apa yang terjadi dengan kedua orang yang mereka temui tadi.
“Lalu sinar keunguan tadi apa?” Patricia menyilangkan tangan di dadanya, ia masih belum tahu alasan mengapa tiba-tiba muncul sinar aneh.
Danny mengangkat tangan kanannya dan sinar yang sama kembali muncul, namun tidak seterang tadi.
Syut.
Tak lama setelah sinar itu reda di telapak tangan Danny tiba-tiba ada batu berwarna ungu yang bersinar terang.
“Danny, itu....” Brock melihat batu yang sama yang ada pada gurunya.
“Batu ajaib.” Patricia juga mengenali batu yang tiba-tiba muncul ini.
“Keren.” Vincent melihat ini sebagai trik yang menarik, cocok untuk ia tunjukkan pada wanita cantik.
“Danny apa kau bisa mengaja-“
BUAK!
Perkataan Vincent terhenti setelah Brock memukulnya dengan keras pada area perut.
“Ugh, kau main curang Brock, jangan lupa aku sudah lebih kuat sekarang.” Vincent meringis kesakitan, namun ia memasang kuda-kudanya dan mengangkat kedua tangannya di dekat wajahnya, mirip seperti orang yang akan tinju.
Bukan tanpa alasan pria besar itu meninju temannya. Ia hanya melakukan apa yang perlu dilakukan agar Vincent tidak mengatakan hal bodoh.
“Jadi yang tadi kita lihat....” Patricia sadar apa yang terjadi sebelumnya hanyalah....
“Dunia buatanmu?” Patricia menatap Danny dengan serius.
“Itulah sebabnya kita tidak bisa merasakan hawa kehadiran yang lain.” Danny menambahkan penjelasannya.
“Kenapa tiba-tiba?” Vincent mulai bisa masuk ke dalam pembicaraan ini dan tidak lagi menganggapnya rumit.
“Aku tidak tahu.” Danny mengepalkan tangannya kembali dan dalam waktu sekejap batu bersinar keunguan itu sudah hilang kembali.
__ADS_1
Danny memang tidak tahu mengapa ia dan rekannya bisa terjebak di dunia buatan, padahal ia sama sekali tidak menggunakan kekuatan batu permata mulia sihir.
‘Apa hal itu spontan terjadi?’ Danny hanya bisa menduganya sekarang, dan dengan kejadian ini ia makin teguh untuk menuruti apa nasihat dari Guru Freiss.
‘Sekarang aku tahu maksud guru... menggunakan kekuatan besar ini bisa juga berarti, mengendalikan atau dikendalikan, seperti yang terjadi sebelumnya.
Danny sadar memang ia masih belum kuat untuk mengatasi kekuatan ini, namun ia tidak punya pilihan selain maju dan berusaha.
Danny tidak bisa membiarkan batu permata mulia yang ada dalam dirinya berbuat seenaknya, atau ia akan merngalami hal yang tidak ingin ia alami.
‘Setelah aku sadar tadi, aku tiba-tiba mendapat kontrol pada kekuatan ini,’ batin Danny, memang sedari awal ia juga sudah merasa aneh.
Apakah ini hanyalah sekedar perkenalan dari batu permata mulia sihir yang telah bersamanya sekarang? Danny tidak tahu.
Namun untunglah tidak ada kejadian buruk yang terjadi selagi ia dan rekannya berada dalam dunia buatannya.
Dan sekarang Brock melihat ke sekitaran area yang terlihat tidak jauh berbeda dari kondisi sebelumnya, namun di saat yang bersamaan terasa berbeda juga.
Pria besar itu bisa merasakan hawa kehadiran di tempat yang baru ini, tapi....
SRING!
Grep!
Tanpa bisa diduga siapapun sebuah pedang tajam mengarah ke kepala Danny, namun dengan sigap Brock menahannya meski tidak pada bagian gagangnya.
“?!” Danny terpaku melihat ujung tajam pedang terhenti tepat di depan wajahnya. Jika saja Brock tidak menahannya maka apa yang akan terjadi tidak akan baik adanya.
Darah kini mengucur dari kepalan tangan kanan pria besar itu, meski lukanya cukup mengkhawatirkan namun ekspresi seriusnya sama sekali tidak berubah.
“Serangan?!” Vincent menaikkan kewaspadaannya, ia mengumpulkan energi sihir bersiap untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.
“Terima kasih Brock.” Danny membiarkan dirinya lengah, di tengah area pusat kota yang tak ada siapapun ini bukan berarti tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Trang.
Brock melepaskan pedang yang telah ia tahan tadi, seketika itu juga ia bisa merasakan sakit yang berarti pada tangan kanannya.
“Biar kulihat.” Patricia melihat luka pada tangan kanan Brock, terlihat jelas sayatan yang besar ada padanya, namun tidak sampai membuat kepalan tangannya terpisah.
Patricia terdiam, selama perjalannya ia hanya mengobati luka kecil, melihat luka yang cukup berat ini membuatnya lebih berhati-hati.
Sebelumnya ia sudah mengandalkan kemampuan penyembuh yang ia miliki, namun kemampuan itu tidak bisa terus ia gunakan seenaknya, kini saatnya memakai kekuatan yang sudah ia asah sebelumnya.
Patricia tahu ia tidak bisa mengandalkan kemampuan alami saja, terkadang ilmu yang terus diasah bahkan bisa mengatasi tantangan yang ada di hadapannya.
Dan inilah tantangan itu. Patricia sudah belajar banyak dengan Freiss jadi tiba waktunya untuknya mengaplikasikannya di lapangan.
Patricia menelan ludahnya sendiri, ia memang sudah belajar juga soal kepercayaan diri dalam melakukan sesuatu, namun bukan berati bayangan kegagalan sepenuhnya menghilang dalam kepalanya.
Bicara soal kegalalan jika menggunakan kemampuan penyembuh alaminya saat ini meski keberhasilannya tinggi, namun risiko gagalnya jug tidak ringan.
__ADS_1
Patricia membulatkan tekadnya, mengumpulkan kepercayaan dirinya, dan memfokuskan seluruh energi sihirnya ke luka yang dialami oleh rekannya itu.
Shhh....
Lingkaran sihir hijau kini mengelilingi tangan Brock dengan pola yang rumit yang itu berarti sihir penyembuh Patricia sudah naik ke level yang berikutnya.
Brock melihat luka yang telah ia alami, memang sebanding dengan rasa sakit yang ia rasakan sekarang.
Dengan begitu cepatnya pedang itu mengarah membuat Brock tidak sempat memfokuskan kekuatan sihir pada tubuhnya yang alhasil membuatnya terluka cukup besar.
Karena tubuhnya yang besar itu berarti kemampuan fisiknya juga besar. Membuat lengan Brock masih utuh ketika menahan serangan pedang cepat hanya dengan tangan kosong.
Danny memfokuskan sihirnya, ia tidak merasakan apapun pada pedang yang tadi terarah padanya, tidak ada energi sihir di sana ataupun racun, pedang itu hanyalah pedang biasa.
Jadi meski keadaannya terluka seperti ini, ia tidak perlu khawatir hal lain yang lebih membahayakan teman besarnya ini.
“Maaf Brock, karena aku....” Danny sadar kesalahannya itu membuat rekannya jadi terluka seperti ini.
“Tidak apa Danny, rasa sakitku sudah berkurang.” Brock tidak keberatan untuk menolong rekannya sekalipun berisiko. Ini adalah tekadnya sejak awal untuk menemani perjalanan Danny.
Danny mengangguk merasakan tekad yang menyala dari Brock, ia percaya pada Patricia yang kini sedang menyembuhkan luka Brock.
Sementara itu kini setelah ia fokus Danny tidak lagi melihat sebagian orang berjalan seperti tadi, dan hawa kehadiran yang ia rasakan begitu berbeda.
“Tidak ada orang di sini, tapi kenapa ada banyak hawa kehadiran yang kuat?” Danny tahu hawa kehadiran manusia biasa tidak akan sebesar ini, itu berarti....
DUAARRRRRRRRRR!
Danny menatap ke belakang, dan ledakan dari arah istana terdengar jelas dan juga cahaya yang dipancarkan terang, lebih terang dari kembang api.
“Bom?!” Vincent melihat bangunan besar tak jauh dari pusat kota itu hancur berantakan, bangunan semegah itu bisa hancur dengan satu ledakan besar yang jika dipikir masuk akal juga.
Vincent akan merasa aneh kalau ledakan yang kecil sampaibisa menghancurkan istana yang megah itu.
Tapi siapa peduli dengan pemikiran pria berambut sebahu itu sekarang? Di saat kejadian seperti inilah saatnya di mana pahlawan beraksi.
“Aku tidak mau jadi pahlawan terlambat, baiklah teman-teman ikuti jalanku!” Vincent sekilas melihat ke belakang diiringi dengan ledakan yang kembali terjadi dan juga suara yang keras. Melihat pria berambut sebahu itu mengatakan hal ini terasa seperti seorang aktor keren dalam film.
Di sisi lain Patricia terlihat serius, bahkan sampai berkeringat demi memulihkan Brock. Luka pada kepalan tangan Brock sudah tertutup dan jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Akhirnya!” Tak berselang lama kemudian Patricia selesai menggunakan sihir penyembuhnya dan kini luka yang dialami Brock sudah pulih.
“Hebat.” Danny melihat kekuatan sihir pemyembuh temannya itu berkembang drastis, kekuatan seperti ini memang dibutuhkan juga, tidak hanya sihir untuk penyerangan dan pertahanan saja.
Brock lega dan berterima kasih pada Patricia, jujur proses tadi memang terasa agak aneh baginya karena hanya merasakan sakit sebentar saja, tapi itu lebih baik daripada terus merasakan rasa sakit.
Danny dan yang lainnya segera menyusul Vincent menuju ke arah istana yang kini sudah hancur tidak karuan.
Melihat pemandangan ini sepertinya sulit dipercaya, atau jika Danny bisa memilih ia berharap juga sekarang bukanlah dunianya yang asli, yang sayangnya ia tahu juga bahwa semuanya ini nyata adanya.
‘Apa yang sebenarnya terjadi di sini?’ batin Danny sembari bergerak cepat.
__ADS_1