
Pihak kerajaan timur sama sekali tidak mengetahui kondisi Danny dan teman-temannya itu. Sekitar satu bulan lalu mereka telah mengerahkan pasukan untuk mengecek ke lembah tengkorak karena Danny dan yang lain tidak kunjung kembali, namun sayangnya kondisi lembah kembali berkabut dan sangat beresiko untuk masuk melaluinya, akhirnya pasukan itu pulang dengan membawa kabar nihil tentang keenam orang yang berada dilembah tersebut.
-----------------------
Sesaat setelah Danny memegang permata merah yang telah diberikan pak tua Sam itu, tiba-tiba permata itu bersinar dalam genggamannya dan tiba-tiba Danny merasa seluruh tubuhnya merasakan kesakitan seperti ditekan oleh sesuatu yang berat dari segala arah. Urat-urat dalam tubuhnya itu seakan menyala berwarna merah.
Sam yang melihat hal itu bingung karena tiba-tiba Danny meringkuk kesakitan.
Permata itu terus bersinar merah redup selagi Danny masih menggenggamnya, sesaat kemudian permata itu mulai memancarkan sinar merah terang, perlahan rasa sakit yang dirasakan Danny berangsur-angsur menghilang.
Sam memegang pundak Danny yang sedang meringkuk itu seraya bertanya tentang keadaanya.
"Hei Nak, kau baik baik saja?"
Danny mulai mencoba mengangkat badannya, terasa berat olehnya.
"Oh, ya Tuan..."
"A...aku hanya merasakan sakit ketika memegang permata merah yang kau berikan ini..."
Pak tua itu berbicara kembali kepadanya
"Ini adalah maksud dari semua latihan yang telah kau jalani ini...."
"?"
Danny kurang paham atas perkataan Sam itu.
"Maksud Tuan?"
"Aku pernah bicara soal resiko mendapatkan batu permata ini kan?"
"Kalau kau saat itu langsung menerima batu permata merah ini, tubuhmu tidak akan kuat dan kau akan mati kesakitan..." Sam mulai menjelaskan panjang lebar
"Tujuan dari latihanmu selama ini adalah untuk menguatkan tubuhmu agar bisa memperkecil resiko yang akan kau derita saat menerima permata ini..."
"Syukurlah tubuhmu yang sekarang dapat menerima kekuatan batu permata merah ini..."
"..."
Danny mengingat tadi ia merasakan sakit yang teramat sangat, ia kira akan mati karena rasa sakitnya itu. Rasa khawatir kini menyelimutinya. Sam melihat Danny khawatir, ia kemudian mengatakan suatu hal untuk meyakinkan Danny.
"Jangan khawatir, rasa sakit yang kau alami itu hanya akan terasa saat pertama kali kau memegangnya saja, untuk seterusnya dampak yang akan kau derita ketika memegang dan menggunakan kekuatan batu ini akan semakin sedikit."
"Hal ini juga bertujuan agar batu ini dapat terlindung dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, yang bisa saja akan digunakan untuk hal yang tidak benar."
"Anak muda, batu permata merah ini bukanlah batu permata sembarangan, setiap batu permata memiliki karakteristiknya sendiri, kini kau telah mendapatkan batu permata kekuatan."
"Batu permata merah... Kekuatan?"
"Kau akan segera mengetahui jika kau sudah bisa menggunakan kekuatan dari batu itu.."
__ADS_1
"Selain itu, kau harus segera mendapatkan empat batu permata yang lain..."
"..."
Danny setuju dengan pendapat Sam, ia harus segera mengumpulkan kelima batu permata tersebut agar ia bisa mendapatkan senjata untuk mengalahkan para iblis.
Sam membantu Danny berdiri, kini tugasnya sudah selesai, ia melepas Danny beserta harimaunya itu untuk terus melanjutkan perjalanan mencari keempat batu yang tersisa.
"Terima kasih Tuan Sam atas bimbingan anda selama ini.." ucap Danny sambil membungkuk tanda hormat.
"Kau melakukannya dengan hebat nak.."
"Perjalananmu masih panjang, teruslah belajar dan jadilah kuat nak.."
Mendengar motivasi dan semangat yang diberikan Pak tua Sam itu membuat Danny bersemangat.
"Saya akan berjuang sekuat tenaga Tuan!"
Lambaian tangan yang lembut mengantar kepergian Danny yang akan meneruskan perjalanannya.
"Kuharap kau akan baik-baik saja anak muda..." gumam Sam
-----------------------------
Danny kembali berada di punggung harimau yang sangat semangat itu, mereka pergi melewati lapangan rumput yang luas itu untuk pergi ke tempat dimana salah satu dari pemegang batu mulia itu.
Sekitar dua jam kemudian setelah ia menyeberangi hutan yang melingkari dataran rumput itu, ia tiba sebuah kota, dengan gerbang yang cukup mewah, namun Danny melihat gerbang kota itu tertutup dan hanya ada dua penjaga yang sedang berjaga di dalam gerbang sana.
Dua penjaga kota itu cukup terkejut karena melihat seorang pemuda beserta harimau yang terlihat berbahaya.
"Hei! Kau berhenti disana!" seru penjaga itu dengan menunjukkan tangannya.
"Tu..tuan kami mau masuk ke kota ini…"
"Masuk? apa kau punya izin untuk itu?" tanya salah seorang penjaga yang lain
"Izin?"
"Siapapun yang memasuki kota ini harus memiliki izin, dan terlebih lagi kau membawa binatang buas, sebenarnya apa tujuanmu?"
"Bu..bukan begitu tuan, kami ada perlu sehingga perlu masuk ke kota ini…"
"Perkataanmu berbelit-belit, bisakah kau katakan saja tujuanmu yang sebenarnya?"
"…"
Danny berpikir, tujuannya saat ini harusnya ia rahasiakan apalagi saat ini ia baru mendapatkan satu dari lima buah batu yang dilindungi itu. Danny khawatir jika ada seseorang yang lain, yang juga mengincar batu permata itu.
"Maaf tuan, saya tidak bisa menjelaskannya…"
Tiba-tiba beberapa penjaga dari kota berlarian hendak menyusul penjaga gerbang itu.
__ADS_1
"Hei..!"
"Heeei!"
Kedua penjaga itu kemudian bertanya kepada para penjaga yang menghampirinya itu.
"Di kota!" katanya sambil menujuk ke arah kota dimana terdengar ada keributan disana.
"Di kota?"
"Apa maksudmu?"
"Si petarung Brock kembali mengamuk!"
"Apa?!"
"Gawat! Kita harus segera kesana mengamankan para warga!"
"Hei, bocah sebaiknya kau pulang, sedang ada keributan yang terjadi di kota."
Setelah mengatakan itu dua penjaga gerbang itu bergabung dengan yang lain meninggalkan Danny yang masih belum bisa masuk kedalam.
Danny mencari cara agar ia dapat masuk, namun mengingat gerbangnya cukup tinggi serta ada pengaman yang tajam disana, terlalu berisiko untuk meloncatinya.
Sementara Danny sedang berpikir, Harimau itu pergi ke sisi dekat tembok itu kemudian mulai menggali tanah yang ada dibawahnya.
Beberapa saat kemudian Harimau itu sudah menggali cukup dalam, namun Danny masih sibuk dengan pikirannya itu.
"Hmmm….."
Ia menoleh untuk melihat harimau itu, namun ia tidak mendapatinya.
"Lho…?"
"Harimau?"
"Kamu dimana..?"
Kemudian Danny melihat sebuah lubang tanah yang cukup besar, ia kemudian memanggil untuk mengetahui keberadaan harimau itu.
Suara aumanlah yang Danny dengar seakan harimau itu mengajaknya untuk masuk ke dalam lubang yang telah digalinya itu. Danny pun masuk kedalam, tidak sulit baginya untuk bergerak mengikuti pola galian yang telah dibuat harimau itu.
Danny semakin berada dikedalaman tanah yang tidak ia ketahui, ia harus merangkak hati-hati agar tidak membuat tanah yang berada diatasnya amblas. Namun meskipun begitu, Danny masih bisa melihat dibawah tanah karena Harimau itu memancarkan sinar.
Beberapa saat kemudian, nafas Danny mulai sesak karena terlalu lama berada dibawah tanah, oksigen yang berada disana menipis dengan cepat sedangkan ia tidak tahu kapan harimau itu akan menggali kepermukaan kembali.
"Ugh…"
Sambil menutup mulutnya, Danny mulai pusing, sudah 30 menit ia merangkak di bawah tanah. Pikirannya mulai memikirkan hal aneh, tidak terkira bila ia harus mati dikarenakan kehabisan oksigen.
"Ga-gawat…"
__ADS_1