Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 70: Dark Shadow


__ADS_3

Arthur!


Seorang ksatria berbakat dari kerajaan barat, mengapa dia berada di sini? Apakah ia tengah menjalankan misi? Ataukah...


"Kalian tidak perlu takut terhadapku," ujar pria itu, mereka akhirnya berhadapan.


"Kau ... Arthur?" terka Danny, pria itu tersenyum.


"Ah! Aku tidak usah memperkenalkan diriku, aku di sini sedang menjalankan misi, oh ya siapa nama kalian?" ucapnya.


"Saya Danny dan ini Patricia," jawab Danny sedikit gugup.


"Senang bertemu dengan kalian, kalian sedang menjalankan misi?"


"Oh, iya kami sedang dalam misi, lebih tepatnya kami sedang menuju tempat berlatih," balas Danny.


Tidak disangka Danny dapat bertemu dengan idolanya secara langsung.


"Kalian mau kemana?" tanya Arthur.


Mendengar pertanyaan itu, "Kami akan pergi ke arah selatan, tuan Arthur ...." Karena Danny memiliki insting yang bagus maka ia bisa berkata begitu.


"Oh, kebetulan aku juga mau ke sana, bagaimana kalau kita pergi bersama?" Tawar Arthur, mata Patricia malah berbinar.


"Baiklah, dengan senang hati Tuan!" kata Patricia dengan sepenuh hati, ia merasa senang bisa 'mencuci' matanya dengan melihat pria tampan itu.


Haaah ....


Mereka bertiga pun berjalan bersama melewati daerah bebatuan itu, "Apakah kalian tahu daerah apa ini?"


Danny dan Patricia menggelengkan kepalanya, Arthur akhirnya bercerita mengenai tempat ini. "Dulu sekali pernah ada banjir besar, saking besarnya sampai membawa berbagai macam material, termasuk batu-batu besar ini ...."


"Jadi batu ini tepat terhampar di sini karena banjirnya surut?"


"Benar Danny ... tapi kalau boleh dibilang, daerah ini adalah daerah yang unik, dan jarang terjamah oleh orang-orang."


Nampaknya Arthur tahu banyak tentang daerah ini, memang pengetahuan seorang ksatria kerajaan kerajaan benar-benar hebat.


"Anu ... Tuan Arthur anda menjalankan misi ini sendirian?" tanya Danny, ia penasaran mengapa seorang ksatria hebat tidak di temani siapapun.


"Iya aku penasaran," ujar Patricia yang memang memiliki pertanyaan sama dengan Danny.


Selagi mereka berjalan Arthur mulai bercerita, "Ini misi khusus untukku saja," ujarnya sambil tersenyum.


"Kau ini ksatria tersohor lho! Kau bisa melakukan apapun." Komentar Danny, Arthur hanya membalasnya dengan senyuman.


Perasaan hangat ini berbeda sekali ketika tadi pertama kali bertemu, "Tadi sewaktu kita pertama kali bertemu, mengapa kamu pasang wajah seram?" tanya Patricia.


Danny terkaget akan pertanyaan Patricia, sopankah bertanya begitu?


"Ahaha ... tadi aku hanya berakting layaknya bertemu musuh, kalian terganggu ya?"


Ternyata hanya kesalahpahaman yang tidak di sengaja. "Ah maafkan kami Tuan Arthur, kami bicara yang tidak-tidak," ujar Danny, ia takut menyinggung perasaan sang ksatria itu.


"Santai saja, lagipula jangan panggil aku tuan, sekarang ini aku sama saja seperti kalian, seorang petulangan," ujar Arthur, ia memiliki rasa rendah hati yang luar biasa.


"Saya selalu mendengar tentang anda, seorang ksatria terhebat," ujar Danny.

__ADS_1


"Jangan terlalu berlebihan, kadang komentar orang bisa berbeda dengan kenyataan lho!"


"Ahaha ...." Danny hanya tersenyum mendengarnya, meskipun seorang ksatria terkenal disiplin dan tegas, ternyata mereka punya sisi ramah juga.


Setelah berjalan hampir satu jam, akhirnya area bebatuan luas itu dapat dilewatinya, mereka sampai di sebuah daerah kumuh, mirip sekali dengan sebuah desa namun nampaknya telah ditinggalkan oleh warganya.


Keadaan di desa itu sudah tidak terurus, beberapa bangunan bahkan hanya tinggal bongkahan yang sudah tidak berbentuk.


Suasana di sekitar nampak sangat sepi, bisa di lihat tidak ada orang di sekitar sini, untuk sekarang.


"Me ... mengapa ada desa terbengkalai di sini?" Patricia heran ketika melihat tempat itu.


Danny dan Arthur hanya terdiam mereka nampaknya sedang mengamati kesunyian yang lumayan menarik bagi mereka, setidaknya menurut insting mereka masing-masing.


"Tu- ah Arthur ...." Danny masih menyelipkan panggilan itu, ia masih gugup berbicara dengan orang yang dikaguminya itu.


" Ya? Kau mengatakan sesuatu?" Arthur masih sibuk melihat sekitarnya.


"Tempat ini, nampaknya-"


SRUG!


"?!"


Mereka bertiga terkaget dengan suara benda jatuh secara tiba-tiba, Apakah itu?


Arthur mengikuti arah suara itu, ia mengintip ....


Terlihat seorang pria dewasa memakai topeng, ia terlihat seperti tengah mencari sesuatu di antara bongkahan bangunan yang telah roboh itu.


Arthur memberi tanda supaya mereka jangan membuat suatu suara yang tidak diperlukan.


Krek!


"!"


Tanpa sengaja Patricia menginjak ranting di bawah, suaranya lumayan keras hingga pria dewasa bertopeng itu menyadarinya, ia langsung berupaya kabur dari sana.


HUSH!


Tanpa jeda sedikitpun, Arthur melesat, lebih tepatnya seperti menghilang dan kemudian muncul di atas pria bertopeng itu, menekan punggungnya dan memaksanya untuk jatuh.


BUG!


Danny dan Patricia tidak bisa melihat kecepatan Arthur, mereka langsung berlari mengerjar Arthur yang berada lumayan jauh di depan mereka.


"Uuugh ...." Pria bertopeng itu menggeram karena Arthur mengunci dirinya, hingga akhirnya tidak bisa kabur kemana-mana.


"Siapa kau?" Arthur ingin mengorek informasi tentang pria asing itu.


"... A ... aku ...." ucap pria itu dengan terbata-bata, kelihatannya ia merasa sesak karena ditindih oleh Arthur, membuatnya kesulitan berbicara.


Arthur sedikit melonggarkan kunciannya itu, "Siapa kau?" tanyanya untuk kedua kali.


"Aku masyarakat dari desa ini ...." ujar pria itu.


"Masyarakat? Kau tinggal di desa mati ini?" Arthur tidak bisa langsung percaya pada pria itu, kemungkinannya kecil sekali bila memang benar ia tinggal di desa terbengkalai itu.

__ADS_1


"Masyarakat ... desa kami di tawan," ujar pria bertopeng itu.


"?!"


"Apa yang kau katakan itu benar?"


Arthur tidak bisa menilai ia berkata benar atau tidak, di sisi lain memang ada kemungkinan untuk kejadian seperti ini terjadi.


Danny melihat hal ini, "A- Arthur, kurasa pria bertopeng ini berkata benar."


"Lebih baik, kita biarkan dulu ia jelaskan semua," tambah Danny


Arthur menyetujui usulan Danny, ia melepaskan kunciannya itu, membiarkan pria bertopeng itu berdiri, lalu ia pun melepas topengnya.


Terlihat seorang pemuda, ia cukup tampan namun raut mukanya dipenuhi kesedihan.


"Kau ...." Arthur memerhatikan dengan seksama pria itu.


"Kini kami minta kau jelaskan, apa yang sedang kau lakukan di sini?"


"A ... aku berhasil kabur dari kelompok yang menyandera seluruh warga desa ini," ujarnya.


"Mengapa warga desa ini diculik?" Danny penasaran akan alasan dibalik penculikan para warga.


"Kelompok yang menyandera dan menculik kami itu bergerak di bagian pemanfaatan manusia secara illegal."


"!"


"Astaga ...." Patricia nampak terkejut dengan apa yang di dengarnya saat ini, tidak ada yang lebih buruk lagi sepertinya selain hal keji yang telah didengarnya itu.


"Kami, dipaksa bekerja untuk mereka, memenuhi kebutuhan mereka, aku menduga mereka berlaku kasar terhadap tawanan yang diculiknya itu."


"Mengapa kau tidak melaporkan ini ke pihak berwajib?" tanya Arthur.


"Tidak semudah itu, kelompok mereka memiliki kemampuan khusus mereka mampu bergerak secepat bayangan dan para warga bahkan tidak menyadari bahwa mereka tengah diculik, mereka menghilangkan kesadaran pada korban dan pada akhirnya korban sudah berada di markas para orang jahat itu."


"Aku memakai topeng agar bilamana ada orang asing yang jahat, ia tidak bisa mengenaliku secara langsung sekaligus untuk menyembunyikan identitasku."


Arthur menyadari, tindakan ini adalah tindakan kejahatan yang tergolong berat, rasanya tidak ada keadilan bila hal ini tidak dibereskannya.


"Lantas bagaimana kau kabur dari mereka?"


"Aku tidak berada di dalam desa saat kejadian itu terjadi, aku hanya melihat dari jauh akan kehadiran kelompok jahat mereka, dan untungnya mereka tidak melihatku setelah menculik para warga kelompok itu mulai menghancurkan desa untuk meninggalkan kesan bahwa desa ini telah ditinggalkan."


"Ya ampun." Patricia hanya bisa ikut bersedih, nampaknya ini masalah yang berat bagi pria ini.


"Aku bertahan hidup di sini sendiri selama tiga hari, di antara puing-puing bangunan, mencari sesuatu yang bisa kumakan untuk bertahan hidup."


"Baiklah, apa kau tahu lokasi persembunyian mereka?" tanya Arthur.


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya, "... Aku tidak tahu ...."


Pria itu menyesal akan apa yang terjadi di desanya itu, namun semuanya telah terjadi, tidak ada yang bisa diubah.


DEG!


A ... apa ini?

__ADS_1


__ADS_2