
Perempuan bernama Quin itu menjadi marah-marah karena alasan yang telah kalian dengar tadi.
Dia berbohong mengenai identitasnya itu, sebenarnya siapakah dia ini? Mengapa dia berada di sini?
Dia mengaku-aku sebagai muridnya Victoria, dan seharusnya kalian sudah tahu Victoria itu siapa, jika lupa maka kalian seharusnya baca dengan teliti cerita ini.
Wanita itu melompat ke ranting pohon yang cukup tinggi, namun ia melakukannya dengan mudah.
Ia kembali mengenakan tudung jubah hitam yang telah ia singkapkan sebentar pada rombongan petualang itu, ia terlihat hanya duduk-duduk saja di dahan pohon yang agak besar itu.
"Sudah lama aku berada di daerah ini, dan seketika ada para pendatang ini datang—aku sama sekali tidak tertarik pada mereka." Quin mulai berbicara sendiri.
"Kurasa memang para manusia itu sudah tahu bahwa jalan yang mereka lalui itu berbahaya ...."
"Berbahaya karenaku tentunya ... banyak petualang dan pedagang yang telah kuakhiri hidupnya di sini, dan kurasa memang jalanan ini telah ditutup karena hal yang telah kulakukan."
"Tak kusangka akan bertemu kembali dengan manusia setelah sekian lama. Aku kira mereka mengabaikan rumor yang tersebar tentang jalanan ini."
Quin sedikit memainkan kakinya yang menjulur ke bawah, ia nampak bosan dan sepertinya ingin mengeluarkan unek-uneknya.
"Mengapa aku harus berada di sini? Tugasku benar-benar membosankan ...."
Ia pikir para manusia itu sangat lemah dan sama sekali tidak memberi perlawanan meskipun kehidupannya dipertaruhkan.
"Ras Iblis adalah yang terkuat! Para manusia lemah itu tidak akan mengerti betapa besarnya kekuatan kami!"
"Tapi ...."
Quin mulai berpikir tentang para manusia yang telah bertemu dengannya beberapa saat yang lalu, ia merasa ada sedikit hal menarik baginya.
"Pria berambut keriting itu mengetahui ada yang aneh dengan diriku ini ...."
__ADS_1
"Cukup mencurigakan ...."
Quin sama sekali tidak menduga aura jahatnya bisa dirasakan oleh pria berambut keriting itu, padahal ia sudah menekan aura jahatnya sampai batas maksimal kemampuannya dengan tujuan agar tidak seorang pun curiga akan keberadaannya di sini saat ini.
"Mungkinkah para manusia itu telah bertambah kuat? Setelah sekian lama mereka hidup dengan damai?" duga Quin, ia memikirkan hal yang mengganggunya itu.
"Tapi siapa yang peduli?! Mereka hanyalah makhluk yang paling lemah di dunia ini, makhluk yang bahkan membutuhkan satu sama lain!"
Mengapa aku harus khawatir dengan hal ini?
Tidakkah aku memihak pada rasku sendiri yang telah mencapai puncak kekuatan pada saat ini?
Sampai saat ini aku heran, mengapa bisa-bisa ras iblis tidak segera menguasai dunia ini? Mengapa harus menunggu begitu lama?
Tidakkah akan lebih baik bila memang segera dilakukan? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Raja Archifer?
Saat ini memang Guru Victoria berada di daerah selatan, mungkin dalam beberapa tahun ke depan aku akan pergi juga ke dekat daerah itu.
Aku hanya perlu menunggu— 3 tahun lagi! Dalam jangka waktu itu para manusia lemah itu tahu tempat apa yang pantas bagi mereka!
Aku tertarik pada bagaimana reaksi para manusia itu, mungkinkah mereka pikir bahwa kedamaian akan mereka rasakan selamanya?
Hihihi, sungguh lucu memikirkan hal itu ... dan aku pikir memang jangka waktu para manusia itu sudah habis, sudah tidak ada lagi kesempatan bagi mereka.
Aku merasa kasihan pada mereka yang tidak mengetahui kebenaran dunia ini, sungguh kebohongan adalah alat yang menyakitkan untuk menyembunyikan sesuatu.
Kini, pada akhirnya meskipun para manusia itu bertambah kuat setelah berganti-ganti generasi, aku tetap saja masih meragukan mereka, seberapa kuat mereka telah berkembang?
Aku sama sekali tidak mengetahui tentang hal itu, namun aku tahu tidak semua manusia memiliki kekuatan yang besar, kenyataan itu telah terbukti dengan bagaimana aku dapat dengan mudah menebar teror di jalan pintas menuju kerajaan barat ini.
Misi ini merupakan serangkaian persiapan agar kami para ras iblis bisa mempersiapkan serangan kejutan bagi para manusia.
__ADS_1
Menebar teror sedikit demi sedikit di suatu wilayah menunggu sampai waktu penaklukan tiba.
Dan sampai saat ini rencana ini berjalan dengan lancar, para manusia masih belum menyadari keberadaan kami, mungkinkah itu berarti rencana ini berjalan dengan sempurna?
Seluruh umat manusia akan tahu apa itu kebenaran yang sesungguhnya, aku sama sekali tidak tahu siapa yang akan bertahan karena kebenaran itu? Apakah mereka masih mempercayai keajaiban? Tidakkah itu terlalu berlebihan?
Memberi harapan dan bergantung pada keajaiban? Cara penyelesaian masalah seperti apa itu? Semakin aku berpikir semakin hilang pula rasa empatiku pada para manusia.
Ups ... dari awal kami ras iblis memang tidak memiliki rasa empati pada mereka— mereka hanyalah sebuah batu sandungan kecil untuk kami lompati, mereka bukanlah pemeran utama di dunia ini.
Dan sebentar lagi, hanya sebentar lagi mereka akan mengetahuinya, aku tidak bisa membayangkan bagaimana perlawanan mereka nanti.
Aku sudah bosan tinggal di sebagian daerah kecil di dunia ini ... rencana Raja Archifer untuk menguasai dunia memang adalah langkah yang tepat, dimana tidak ada ras lain yang melakukannya sebelumnya.
Kamilah yang pertama kali akan melakukan rencana ini! Rencana besar ini hanya bisa dilakukan oleh ras iblis! Dan tidak ada yang akan bisa menghentikan rencana ini!
Inilah sebuah rencana yang tersusun sejak seribu tahun lalu, bagaimana mungkin rencana yang dibuat selama itu akan gagal dengan mudah?! Pasti akan berakhir dengan bagus!
Kini dengan ketiadaan ras lain, ras iblis dapat dengan mudahnya menginjakkan kaki pada makhluk lemah bernama manusia ini ... tidak ada yang dapat membantu mereka sama sekali!
Kesempatan mereka untuk bertahan?! Aku sama sekali tidak bisa menghitungnya! Saking kecilnya kemungkinan itu hahaha!
Quin masih senang dengan pemikirannya itu, sembari melihat bulan yang bersinar setengah, atau biasa disebut orang-orang sebagai bulan sabit.
Pantulan cahaya bulan itu terukir jelas di mata merahnya itu, sebuah tatapan yang sempurna untuk seseorang yang akan menyongsong sesuatu yang telah lama ia harapkan itu.
Tatapan penuh dengan rasa ingin memiliki yang besar dan keinginan yang menggebu-gebu namun tertahan dengan menyisakan sedikit saja ekspresi pada wajahnya itu.
Perlahan namun pasti, ia tersenyum seperti orang yang licik kemudian tertawa sepuas-puasnya, tawa yang paling mengerikan yang bisa kalian bayangkan, seperti itulah tawanya.
Perlahan juga aura jahatnya sedikit muncul dari perempuan bernama Quin ini, dan hal itu membuat lolongan serigala makin menjadi-jadi, serta burung-burung di sekitar pepohonan pun ikut berteberangan dan seakan tidak nyaman dengan suasana di sekitarnya.
__ADS_1
Malam itu seakan menjadi pernyataan yang tersembunyi yang memberitahu manusia bahwa mereka tidak mengetahui akibat dari keputusan yang telah mereka buat dahulu.