
Ah itu dia! Mengapa tidak terpikirkan selama ini olehku?
Urat tubuh Danny mulai mencuat keluar, nampaknya semakin mengeras dan semakin kuat juga, leher Danny yang tadinya tak ada harapan untuk lepas juga dikuatkannya seketika itu juga.
Ia mulai melangkahkan kakinya, seketika itu juga dengan sikut kanannya Danny memukul dengan sekuat tenaga rusuk kanan Yizi.
BUG!
Krek ...
"Aaah!!" Yizi seketika itu juga berteriak kesakitan dan melepaskan tangannya dari leher Danny.
Akhirnya Danny bisa benar-benar lepas dari kuncian itu, ia segera melesat ke depan, mengarahkan tinju kanannya pada Yizi.
TENG!
Tinju itu belum sempat mendarat di wajah Yizi yang saat itu memang tengah meringis kesakitan karena tulang rusuknya itu.
__ADS_1
Untunglah Danny bisa menghentikan dengan tepat waktu sebelum bel itu berbunyi, jika bel itu sudah berbunyi dan tinju sudah mendarat maka dapat dipastikan akan adanya pengurangan poin bagi yang melakukannya.
Kedua petarung kembali ke sisi masing-masing dan disambut oleh pendukung dan pembimbing / pembantu mereka.
***
"Sial! Gara-gara sikutan pria muda itu rusuk. kiriku jadi cidera!" Y.T.Z mulai mengomel karena hal itu, memanglah sepantasnya begitu karena ia merasa sakit sekarang ini.
Salah satu dari pendukungnya itu berbicara padanya sembari mengelap keringatnya serta pula mengoleskan obat pereda nyeri pada bagian yang sekarang terlihat merah itu, "Tenang Yizi kau masih punya banyak waktu untuk mengalahkan pria muda itu, kini jangan biarkan pria itu terus-terusan menyerang bagian badanmu yang cidera ini atau akan terjadi suatu hal yang lebih buruk nantinya."
Kemudian pendukungnya itu berkata lagi padanya, "Saat ini menang saja! Jangan pikirkan martabatmu atau apapun yang menghalangimu untuk menang, menanglah dengan cara apapun, tentu juga menurut peraturan pertandingan agar kau tidak didiskualifikasi juga."
Yizi tahu ia sudah melakukan yang terbaik pada babak pertama ini, tinggal ia harus mengurus sisanya dengan baik pula agar bisa memenangkan pertarungan ini.
***
"Danny bagaimana keadaanmu tadi?" ujar Vincent kembali mengurus akan tubuh Danny, ia memeriksa seluruh tubuh Danny, mulai dari wajah sampai kaki.
__ADS_1
Vincent melihat bahwa yang sekarang dikhawatirkannya adalah wajah Danny yang mulai lebam, membiru pada daerah pipi kiri, bagian bibir bawah serta keningnya itu- keadaan ini lebih mengkhawatirkan dibanding dengan darah yang mengucur, karena kondisi ini terjadi di bawah kulit penderita maka Vincent tidak dapat melakukan apapun.
Ia segera mengelap seluruh keringatnya pada wajah Danny dengan hati-hati, meskipun begitu tetap saja Danny mengerang kecil karena masih terasa sakit.
Memar serta lebam yang terukir pada wajah Danny membuat penampilannya saat ini benar-benar kurang baik, ia terlihat lelah dan semangatnya pun terlihat pudar di dalam Danny.
"Kau baik-baik saja Danny?" Vincent kembali bertanya untuk kedua kalinya setelah tidak mendengar jawaban darinya.
"Haaah ..."
"Haaah ...."
Embusan nafas berat muncul dari Danny, ia menutup matanya, untuk bernafas saja rasanya sudah berat baginya, harus menggunakan usaha ekstra untuk melakukannya, dan ia sedang berusaha untuk melakukan hal ini sekarang.
Danny tahu energi yang ia keluarkan untuk lepas dari kuncian itu begitu besar, bahkan hampir menguras sebagian besar tenaganya, sepanjang pertandingan ia harus bersikukuh agar tetap menjaga dirinya tidak di K.O dengan kuncian, sebelumnya memang benar ia terus melakukan hal ini sebelum serangan balik yang dilancarkannya itu, sebuah pertukaran yang tidak bisa dinilai.
Bahkan setelah ia melepaskan kuncian dari Yizi, ia terlihat seakan menyerang balik dengan tinju kanannya yang sebenarnya itu hanyalah gerakan tipuan yang jika benat-benar terkena maka tidak ada apapun lagi yang terjadi, tinjuannya tidak akan berefek apa-apa pada lawannya karena pada saat itu Danny sudah merasa lemas dan untuk mengayunkan tinju saja sudah berat baginya.
__ADS_1