
Sementara tubuhnya berasap tanda terpanggangnya di sini, entah makhluk apa yang bisa menginjakkan kakinya di tempat ini dan tetap hidup.
‘Tempat yang indah.’ Danny senang melihat gelora lava sejauh mata memandang, suara-suara gemuruh yang terdengar juga bak musik di telinganya.
Danny bisa merasakan kekuatan batu permata mulia berkurang, entah kenapa sejak ada di tempat ini ia lebih mengandalkan kekuatan suci. Apa ada hubungannya dengan tempat dimana ia sedang berada sekarang?
“Kekuatan Dimensi….”
DEG!
“!”
“UGH!” Danny memegang dadanya sendiri, ya benar, ini pasti bukan sembarang tempat, pasti ada sangkut pautnya dengan sang raja iblis sendiri.
Ia tidak bisa memakai teknik teleportasi dan juga mengubah dimensi, ini seperti ia sudah ‘terjebak’ dengan tempat sang raja iblis sendiri.
Satu-satunya hal yang tidak terpengaruh adalah kekuatan sucinya, yang masih membuatnya bisa berdiri sekarang.
Berduaan dengan raja iblis sendiri tidaklah buruk, ia tidak perlu merisaukan hal lain selain dirinya sendiri.
Tak ada yang akan menghentikan mereka berdua kecuali salah satu yang berhenti, yang kalah.
“BAGUS JUGA ARCHIFER!” Suara Danny bergema keras sekali bahkan sampai terdengar dari ujung ke ujung area lava mengerikan ini.
SYUT!
Raja iblis muncul di dekatnya lebih cepat dari kedipan mata.
Archifer terdiam, sementara ia tidak menyangka pertarungan akan berlangsung lama begini.
Ketika ia pikir sudah berakhir, pemuda ini selalu saja muncul dan mengejutkannya….
Sama sekali tidak bagus….
‘Ras malaikat….’ Archifer geram dalam batinnya sendiri, ia merasakan sendiri betapa merepotkannya menghadapi makhluk seperti pemuda ini. Tidak pernah terpikirkan ras malaikat yang baik bisa melakukan ini pada utusannya sendiri.
SRING!
Seketika itu juga mata Archifer terbuka lebar dan menatap tajam Danny. Sorot mata merahnya membuat siapapun yang melihatnya ketakutan dan mimpi buruk, sementara itu Danny terdiam.
__ADS_1
Lagi-lagi kekuatan sucinya kembali menurun drastis, tatapan raja iblis sangat berbeda dibanding tatapan biasa!
“Kekuatan Gelap: Kendali Total.”
SRRRRIINGGGG!
Seketika itu juga cahaya merah menakutkan menyinari seluruh area ini.
***
SRING!
Archifer membuka matanya, ia akhirnya bisa masuk ke dalam benak musuhnya.
Energi suci lemah itu tidak mampu menghentikan aksinya, kini ia punya kendali penuh atas pikiran lawannya.
Ia tidak melihat apapun selain tanah gersang seolah berada di padang gurun.
‘Dia kekeringan.’ Archifer langsung tahu apa yang dialami pemuda ini, yang pasti kehidupannya tidak mencerminkan kepuasan sejati, dia hidup dengan keraguan dan kecemasan yang besar.
Meski dia terlihat percaya diri saat bertarung dengannya, namun perasaan tersembunyi dalam hati tidak bisa dibohongi.
Bagaimanapun masih ada sisi manusia dalam pemuda ini, tidak peduli kekuatannya sehebat ras langit sekalipun tapi tetap saja….
“Danny.” Archifer bisa melihat Danny kecil yang sedang main tanah sendirian di tanah gersang ini, ia menghampirinya dan melihatnya dengan seksama.
Danny kecil sedang memainkan tanah dengan tangannya sendiri, penampilannya lusuh dan terlihat lemas.
“Hei.” Dengan lembut Archifer duduk di sebelah anak kecil yang sedang bermain itu.
Danny kecil berhenti memainkan pasir, dan melihat ke sampingnya, ada seorang, ah bukan, sesosok makhluk dengan penampilan mengerikan, namun ia tidak terlihat takut.
“Sedang apa nak?” Archifer tidak keberatan mengobrol sebentar dengannya.
“Main pasir.” ujar Danny kecil dengan polosnya, dan Archifer sendiri bisa melihatnya di awal tadi.
Archifer merasakan atmosfer perasaan yang berbeda. Ia melihat ke sekitarnya tidak ada yang berbeda.
Archifer merasa harus waspada. ‘Hm.’ Di saat yang bersamaan juga ia merasa berlebihan.
__ADS_1
Ia sedang berada di lubuk hati terdalam musuhnya. Untuk apa bersiaga lagi?
Sebuah teknik kegelapan yang melampaui akal, inilah yang sedang dilakukannya.
“Ikut denganku, maka kau tidak akan kesepian lagi.” Archifer mengarahkan tangannya pada anak kecil itu.
Danny kecil masih sibuk memainkan pasir, dia larut dengan apa yang dilakukannya.
Maklumlah masih anak-anak juga.
Archifer terdiam, sementara ia tidak menyangka bakal melihat masa lalu yang ‘kering’ dari musuhnya ini.
Apakah artinya?
‘Emosinya.’ Archifer tidak merasakan perasaan apapun dari anak kecil ini.
Padahal ia sedang berada di dalam batin terdalam yang tidak mungkin ada yang disembunyikan.
Tapi kenapa malah anak kecil ini tidak berperasaan sama sekali?
Archifer menyentuh pundak anak itu, sementara diam-diam menyalurkan kekuatan gelapnya.
Inilah kekuatan pengendali pikiran sang raja iblis. Sebuah teknik rahasia yang tidak ia gunakan di waktu lama, namun terpaksa digunakan juga akhirnya.
Tidak ada cara licik dan curang dalam memenangkan pertarungan, selama bisa mengalahkan musuhnya, itulah yang terpenting.
Masa bodoh dengan kehormatan atau apapun. Archifer tahu memakai teknik ini tentulah memalukan.
Kenapa bisa-bisanya sang raja iblis sendiri malah menggunakan trik kotor mencuci otak lawannya sendiri? Bukankah itu berarti dia tidak bisa melawannya dengan kekuatan aslinya?
Archifer sudah tahu jawabannya, tentunya karena pemuda yang dilawannya ini tidak bisa mati.
Mau seberapa banyak serangan yang ia lancarkan, pemuda itu tetap bisa berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
Kalau sudah begitu Archifer tidak punya pilihan lain selain menyerang bagian paling rapuh dari si pemuda ini.
Apalagi kalau bukan jiwanya?
***
__ADS_1