
"Kukira ia bersamamu dengan para pria lain ...."
"Entahlah, aku belum pernah melihatnya sampai saat ini, kuharap dia baik-baik saja ...."
Patricia mengangguk setuju, "Pekerjaanku sudah selesai, aku akan kembali ke gedung sebelah ya ...."
Patricia berjalan keluar dari ruangan dapur itu, "Hei! Jaga dirimu baik-baik ...."
Ia menoleh sebentar dan tersenyum sembari mengacungkan jempol padanya.
Pertemuannya kali ini benar-benar tidak di sengaja, namun Danny bersyukur Patricia dalam keadaan baik-baik saja, dan berharap keadaan Arthur sama seperti layaknya mereka berdua.
***
"Apa kalian tidak bosan setiap hari begini?"
"Mungkin aku dan Brock sudah kebal terhadap situasi ini hahaha ...."
Danny mulai memikirkan dengan matang rencananya untuk kedepannya, "Kuputuskan untuk menjadi nomor satu dan keluar dari sini!"
"?!"
"Yah, aku akan selalu optimis padamu Danny!"
Seperti biasanya Vincent menanggapi dengan baik tujuan dari Danny, sedangkan Brock masih terdiam, ia sedang sibuk menggunting kukunya sendiri.
Sebenarnya banyak hal yang ingin dibicarakan oleh Brock, namun hal itu berlawanan dengan keoptimisan Danny dan Vincent.
__ADS_1
Kini Brock menyimpan dalam-dalam keinganannya untuk berbicara dengan jujur pada Danny, hal itu dilakukannya karena memang ia sedang berusaha atau bisa di bilang sedang berperang melawan pemikirannya sendiri.
"Apakah kalian menguasai sihir?"
"Aku menguasai sihir api," ujar Vincent.
Dan ia lanjut menambahkan dalam jawabannya itu sembari berbisik pada Danny, "Dan kau tahu Brock menguasai sihir angin, tanah, api, dan air lho."
"Wow, sihir yang dikuasainya banyak sekali ...."
"Pssst, jangan terlalu keras bicaranya nanti dia mendengar kita ...."
"Aku dengar semuanya kok ...."
"Oh? Hoho ternyata pendengaranmu cukup tajam juga Brock ... astaga mengapa harus ketahuan sih?!" ujar Vincent dengan salah tingkah.
Brock tertunduk, meskipun hari ini adalah hari yang cerah, bahkan bisa terdengar suara cuitan burung, tapi susah untuk melihat burungnya sih. Ia mulai merebahkan badannya, sepertinya memang dia ingin bersantai sejenak.
"Hmmm, meskipun kita berbicara tentang sihir, itu tidak ada gunanya karena kita tidak bisa menggunakannya di sini," ujar Brock, posisinya tidur ke sebelah kiri menghadap dinding dengan tangan kanan yang menopang kepalanya.
Benar juga apa yang dikatakan oleh Brock, meskipun sehebat apapun sihir yang dimiliki tidak akan berguna apa-apa bila tidak di gunakan.
"Mengapa sihir tidak boleh digunakan di sini?"
"Entahlah Danny, mungkin untuk menjaga agar tidak disalahgunakan ya? Bagaimana menurutmu Brock?"
"Aku sependapat denganmu Vincent, kali ini kau tidak mendapat sanggahan dariku."
__ADS_1
"Ya begitulah Danny, itu juga hanya pendapat kami, alasan sebenarnya kami juga tidak tahu ...."
Danny mengerti, memang benar alasan itu adalah alasan yang paling masuk akal saat ini, kalau misalnya dirinya bisa menggunakan sihir pastilah akan lebih mudah, misalnya memakai sedikit kekuatan saja namun ternyata kenyataannya tidak bisa begitu.
"Entahlah Danny, sebagai orang yang tidak suka berdiam diri seperti ini memang tidak nyaman seperti ini."
"Hei Vincent, sudah lima tahun kita bersama mengapa kamu baru mengatakan hal itu sekarang?" Tukas Brock.
Vincent menolak pinggangnya sendiri, "Yah, karena baru kali ini aku bertemu orang yang mirip denganku haha ...."
"Hahaha ...."
Danny ikut tertawa, kehadirannya di sini di sambut hangat oleh mereka berdua, tingkah mereka benar-benar tidak ada duanya, maksudnya adalah Danny belum pernah melihat orang yang sedekat ini sebelumnya, melihat mereka berdua saja membawa perasaan tenang dan hangat pada dirinya sendiri.
"Danny, aku punya sedikit informasi untukmu soal lawan yang akan berhadapan denganmu nanti," ujar Vincent duduk berhadapan dengan Danny.
"Apa itu?"
"Lawanmu selanjutnya adalah Y.T.Z."
"Apa? Y.T.Z makhluk apa itu?" Brock ikut menimpali omongan Vincent.
"Ya manusialah, memangnya apa? Alien?"
"Vincent, apa itu alien?"
"Ah! sudahlah Danny jangan terpengaruh omongan pria besar ini!"
__ADS_1
"Kalau begitu siapa sebenarnya pria yang bernama Y.T.Z ini?"