
Orang tua yang berada di tengah antara orang muda itu terkejut karena telah mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak ia katakan.
Dua orang itu memasang ekspresi seperti tengah merahasiakan sesuatu dari Danny. Danny merasakan memang seperti ada yang mereka sembunyikan darinya.
Suasana hening seketika dan spontan salah satu pemuda itu berbicara
"Hey kau! lupakan saja perkataan tadi!"
Mereka menutupi rahasianya dengan buruk namun karena sudah diperingatkan, Danny mengambil langkah yang lebih hati-hati karena ia tidak mau membuat mereka lebih marah lagi padanya.
"...."
"Jadi kau diberikan misi untuk menyelamatkan anggota dewan..."
"Kemana kau menjalankan misi itu?"
Kedua orang muda itu terus menerus memberikan pertanyaan pada Danny, Danny berusaha menjawabnya dengan sejelas-jelasnya.
"Ka..kami pergi ke lembah tengkorak.."
"?!"
Mereka terkejut mendengar pernyataan Danny, mereka tahu lembah tengkorak adalah suatu lembah misterius karena banyak orang yang hilang karena melewatinya.
"Kau?"
"Kau pergi kesana? bagaimana kau bisa selamat?"
"Karena para anggota dewan disandera di sana mau tidak mau, kami harus pergi kesana" ucap Danny
"Keadaan di sana benar-benar penuh kabut yang menghalangi pandangan, kau bisa saja salah arah ketika berjalan melewatinya" ucap Danny
"Hmmm, begitu ya.."
"Apa ada keanehan di sana?"
"Ya, di sana terdapat banyak mayat yang berjalan kian kemari" ucap Danny
"?!"
"Mayat yang berjalan..." Orang tua itu kaget mendengarnya
"Ya, karena aku dan teman-temanku tak bisa merasakan adanya aura kehidupan pada mereka"
"Kukira mereka adalah orang yang belum lama mati di dalam lembah itu dan karena suatu hal mereka bangkit kembali"
"Keadaan mereka benar-benar tidak enak dilihat"
Mendengar penjelasan Danny, mereka bertiga semakin penasaran dengan apa yang terjadi padanya
"Lalu apa kau berhasil mengalahkan iblis itu dan menyelamatkan anggota dewan?"
Danny tertunduk dan berkata
"A..aku tidak tahu..."
"Aku dikalahkan oleh iblis itu dan ketika aku sadar kembali keadaan di lembah sana benar-benar kacau seperti layaknya telah terjadi pertempuran besar"
"Apa kau tahu siapa yang saling bertarung itu?"
"A...aku tidak tahu, keberadaan iblis itupun aku tak tahu.."
Setelah mendengar penjelasan Danny, mereka bertiga berjalan meninggalkan Danny dan mengobrol di dekat pintu keluar gudang itu.
"Sepertinya kita harus mengorek informasi darinya lebih dalam" kata salah seorang orang muda itu, kedua orang yang lain setuju akan hal itu.
"Hey kau, kau harus tetap disini sampai kami berhasil tahu siapa dirimu"
Danny terkejut dalam keadaannya yang terikat dengan tali besar
__ADS_1
"?!"
"A..apa yang kau ingin tahu tentangku?"
"A..aku bisa menceritakannya pada kalian semua!"
"A..asal lepaskan aku dari sini!"
Ketiga orang itu berjalan keluar layaknya tak mendengar seruan Danny.
Danny menyadari sesuatu, tubuh ketiga orang itu perlahan membesar dengan bulu-bulu kulit yang memanjang serta rambutnya, persis seperti yang terjadi pada Forhan.
Ketika mereka menutup pintu itu, sekelebat mata bersinar terang pada mereka, layaknya penglihatan tajam pada hewan. Danny juga merasakan aura binatang buas tiba-tiba.
Blam....
"..."
Pintu gudang itu telah ditutup sepenuhnya, gelap kian terasa di gudang penyimpanan padi tersebut.
Langkah kaki para warga mulai meninggalkan Danny, sepi terasa olehnya
"*Kenapa..."
"Kenapa orang-orang ini menangkap ku*?"
Danny berpikir ulang agar dengan upaya agar ia bisa lolos dari sini, namun tidak terpikirkan cara lain selain ia harus kabur.
-------------------------------------------------------
----------------
Beberapa orang yang telah meninggalkan Danny mulai mengobrol satu sama lain ketika sedang berjalan
"Pemuda itu..."
"Kita belum bisa mempercayainya"
Teman, itulah yang diucapkan oleh salah seorang orang tua itu, mereka menganggap Forhan itu teman mereka karena Forhan memiliki 'Bau' yang sama dengan mereka.
Demi Human atau setengah manusia setengah hewan memiliki ciri khas tersendiri, mereka bisa berubah pada saat bulan purnama atau dalam kondisi khusus lain, kekuatan fisik mereka dapat bertambah dengan pesat seiring waktu, begitu pula dengan energi sihirnya.
------------------
Danny melihat kondisi sekitar, ia tidak menyangka penglihatannya sebaik ini, layaknya ia memiliki 'mode malam' pada matanya, ia dapat beradaptasi dengan baik dalam kegelapan meskipun kegelapan pekat sekalipun.
Ia hanya diikat tangannya saja, tidak dengan kakinya, ikatannya di depan tangan, tidak melilit kebelakang.
Danny bangun dan mencari-cari bilamana ada barang yang dapat memotong tali besar itu, namun waktu terus berjalan seiring ia menjelajah ruangan penyimpanan yang tidak terlalu luas itu.
Akhirnya ia menemukan sebuah silet kecil dibawah, di sudut ruangan penyimpanan itu. Danny berusaha mengambilnya dengan membungkuk dan kemudian mengambil dengan mulutnya.
Setelah silet kecil itu berada di mulutnya, ia mengarahkan tali yang tebal itu kemudian menggesek-gesekkannya.
Silet yang berukuran kecil itu sama sekali tidak dapat memotong tali tambang yang besar itu, hanya menggores bagian luarnya saja.
Meskipun begitu, Danny tidak berhenti berjuang, selagi ia masih mampu ia terus melakukannya, setelah beberapa lama akhirnya ikatan pertama putus dari ketiga ikatan tali besar itu.
Butuh waktu 30 menit baginya untuk memotong semua jumlah ikatan yang diikatkan padanya.
Setelah selesai dengan urusannya itu Danny melangkahkan kakinya mendekati pintu keluar yang agak besar, terbuat dari kayu namun pintu itu cukup kokoh.
Pintu itu dikunci dari luar, melihat lubang kuncinya itu dapat dipastikan salah seorang warga mempunyai kuncinya itu.
Danny mulai berpikir apa yang dapat ia lakukan agar bisa kabur dari tempat gelap ini, ia kemudian mencari-cari lagi siapa tahu ia menemukan kembali barang yang dapat membantunya keluar.
Namun setelah lama mencari tidak ia temukan kembali barang yang menarik perhatiannya.
"Hmmm, bagaimana aku bisa keluar dari sini ya..."
__ADS_1
"....."
"......"
"........."
"!"
Jendela!
Danny melihat keatas, ia melihat jendela yang pecah dan rusak sekitar empat meter tingginya, namun masih ada kemungkinan ia bisa keluar lewat situ.
Danny mengambil ancang-ancang, lompatan yang ia butuhkan bukanlah lompatan yang tinggi melainkan lompatan yang tepat.
Hup!
Drap!
Danny berhasil melewati jendela yang pecah dan agak besar itu, namun pecahan kaca yang ada pada jendela pecah itu sedikit menggores tangan kirinya.
"*Ya!"
"Akhirnya aku berhasil keluar*!"
Danny kembali melihat situasi desa itu, sungguh terang, ia kira situasinya telah kembali normal karena ia telah tertangkap dan masyarakat tidak perlu lagi khawatir akan adanya pendatang asing.
"Aku harus keluar dari desa ini!"
Danny kemudian berlari menuju pintu keluar desa, ia tidak menemui kembali warga yang menghadangnya atau memergokinya.
Ia melihat seorang penjaga yang tengah berjaga sambil tertidur di posnya di samping gerbang yang terbuat dari alumunium dan sedikit rapuh.
"Zzzzzzzz...."
"Zzzzzzzzz......"
"..."
Danny mengendap-endap meminimalisir setiap suara yang dibuat kakinya dan perlahan membuka gerbang itu.
Kreeet...
Terdengar sedikit suara pada gerbang itu.
"Hey..."
"!"
Danny seketika melihat pos penjaga itu, ia amat terkejut, keringat basah menyelimuti tubuhnya namun ia berusaha untuk tidak bersuara.
"Hmmm..."
"Zzzzzzz...."
Danny bernafas lega karena petugas itu hanya mengigau dalam tidurnya.
Ia tidak akan menyangka kalau dirinya harus tertangkap ketika menyeberangi gerbang desa, ia mungkin tidak dapat menemukan kesempatan lain untuk kabur.
Setelah melewati gerbang itu, Danny berlari dengan cepat kearah hutan gelap, karena gerbang itulah yang merupakan pemisah antara desa dengan hutan ini.
Srek..
Srekk...
Ia menembus kegelapan yang ada dalan hutan itu
"*Maafkan aku Forhan!"
"Kuharap suatu hari aku dapat bertemu kembali denganmu*..."
__ADS_1
Seiring ia berlari dengan cepat, terlihat sesosok seperti manusia menunggunya di dalam hutan itu.