Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 205: Sebuah Keputusan (3)


__ADS_3

Kibo masih termenung dalam penyesalan dalamnya itu, ia benar-benar sudah kehilangan semuanya, kali ini ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi ....


Pria besar di sana melihat pemimpinnya itu berada di dalam kondisi yang paling buruk dibanding sejak mereka kehilangan Yizi.


Salah satu dari pria besar yang sedari tadi menjadi juru bicara itu berjongkok dan berkata pada tuannya itu.


"Kami ... tidak akan menyalahkan tuan atas kejadian ini ... jika kelompok kita memang telah salah dari awal ... kami menerimanya dengan menghadapi hukum yang ada ... kami tidak akan lari darinya ...."


"Tuan benar tentang kenyataan bahwa kami memang mampu untuk melarikan diri ... namun bila berhasil apakah yang akan terjadi nantinya? Yang ada kami akan terus diburu dan nama baik organisasi Alliance Fight's akan semakin buruk dibanding dengan sekarang ...."


"Kami tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi ... terlebih lagi ... jika memang Tuan Kibo sebagai pemimpin sudah tidak ada lantas apakah Alliance Fight's akan tetap ada?"


"Kami telah mengambil janji dari awal ... Tuan ingat bukan? Janji bahwa kita akan selalu bersama-sama ... kami telah menepati janji itu dengan menemui Tuan di sini ...."


Kibo terdiam mendengar perkataan salah satu anggotanya itu.

__ADS_1


"Harusnya janji kelompok kita kalian langgar saja ... itu tidak sebanding dengan meresikokan hidup kalian bersama denganku di sini," ucap Kibo lesu dan parau.


"Tidak Tuan ... kami tidak akan berbuat seperti itu ... meskipun taruhannya adalah hidup kami ... kami akan selalu bersama dengan Tuan Kibo ...."


Sebuah pernyataan yang benar-benar sulit dipercayai pria keriting itu.


"Dengan kalian di sini ... apakah itu mengubah takdir kita?" Kibo masih tertunduk menghadap dinding tembok penjara itu dengan perasaan sedih dan putus asa, kehadiran para teman-temannya itu tidak begitu mempengaruhi suasana hatinya saat ini.


Pria besar itu kemudian menjawab pertanyaan Kibo.


"Meskipun kehadiran kami tidak mengubah takdir ... setidaknya ... kita bisa menghadapi takdir bersama-sama ...."


Matanya masih mengisyaratkan bahwa dia lemah dan merasa bahwa semuanya telah berakhir ... namun ketika ia telah mendengar jawaban seperti itu dari temannya, seberkas kecil kekuatan perlahan muncil dari dalam hatinya.


"Menghadapi takdir ... bersama?"

__ADS_1


"Benar Tuan Kibo ... kita yang telah memulai perjalanan bersama-sama ... akan memgakhirinya dengan bersama-sama pula ...."


Air mata sang pria keriting itu sudah berada di pelupuk matanya, ia sudah tidak kuasa lagi untuk menahannya, tidak lagi kuat untuk menutup hatinya karena kepedulian mereka yang teramat besar bagi dirinya.


Kibo tersungkur pada kaki pria besar itu dan berteriak sekaligus menangis sekencang-kencangnya, ia meluapkan emosinya dengan bebas, semua yang ditahannya sampai saat ini, dilepaskan dalam tangis penderitaannya kali ini.


***


•Di ruangan Pak Wakil Kota Kota Boston


"Kita akan menghukum organisasi bernama Alliance Fight's ...."


Nampaknya Pak Wakil sedang mengajak dua ksatria suci, Arthur dan Thor untuk berdiskusi tentang penghukuman bagi organisasi Alliance Fight's.


Pak Wakil seperti biasa sedang duduk di meja kerjanya, Arthur dan Thor duduk juga bersebelahan menghadap sang Pak Wakil.

__ADS_1


"Tengah malam tadi, kita telah berhasil menangkap semua orang yang menjadi bagian dari organisasi itu," ujar Pak Wakil itu.


"Benarkah? Itu adalah berita bagus! Kita tangkap pemimpinnya ... dan bum ... seluruh bawahannya pun akan tertangkap dengan mudah ... berita ini cukup menggembirakan, kita tidak usah susah-susah untuk memburu masing-masing dari mereka," komentar Arthur pada pernyataan Pak Wakil itu.


__ADS_2