
“Haaah... haah....” Terlihat Vincent dan Brock sudah kelelahan dalam pertarungan yang sedang mereka jalani ini, lokasi di mana mereka berada sudah penuh dengan kehancuran, dan kondisi mereka tidak terlalu bagus sekarang.
“Dari dulu manusia tidak berubah, mereka terkenal dengan kesombongannya.” Makhluk besar dengan zirah hitam itu juga berubah penampilannya namun tidak terlalu signifikan, baju zirahnya saja yang sedikit tergores.
“Kesombongan dan kearoganan itulah yang menjadikan hari ini datang.” Nada suara berat bergema ini mengganggu bagi Vincent dan juga Brock, namun apa daya mereka tidak punya pilihan selain mendengarkannya.
“Apa yang dia... bicarakan Brock....?” tanya Vincent sembari terengah-engah.
“... Kenapa kau tanya padaku?” Brock menjawab seadanya, pasalnya ia juga tidak tahu apa yang dimaksud oleh makhluk besar berzirah hitam itu.
‘Kami hanya bisa menggores sedikit zirahnya saja,’ batin Brock dalam hatinya. Pertarungan yang tadi terjadi begitu singkat dan kini sudah jadi seperti ini.
‘Dengan kekuatan yang sudah kami asah....’ Brock memang begitu percaya diri sebelumnya, ia yakin sudah bertambah kuat dan siap untuk menghadapi apapun.
Tapi sekarang... yang terjadi malah diluar perkiraannya.
‘Apa ras iblis itu memang sekuat ini?” Brock merasa aura kekuatan yang terpancar dari makhluk besar itu masih sama dan tidak berubah sama sekali.
Serangan fisik gabungan bersama dengan Vincent belum cukup untuk membuat musuhnya kewalahan dan kini malah keadaannya terbalik, mereka yang kewalahan mengahdapi musuhnya.
“Brock, aku punya pengalaman dalam melawan iblis, kita akan pakai strategi baru.
‘Strategi baru?’ Brock melihat raut wajah yang serius dari rekannya sekarang yang berarti memang ia tidak sedang bercanda.
Brock mengangguk kecil, ia tidak peduli dengan pikirannya yang mengatakan bahwa rekannya itu pasti merencanakan hal aneh.
Karena di saat seperti ini Brock masih belum mendapat ide untuk melakukan sesuatu di sini.
Vincent sedikit tersenyum, ia pikir temannya tidak mau percaya padanya, namun ternyata tidak seperti itu.
Brock menguatkan energi sihirnya kembali, sebelumnya memang ia sudah puas mengeluarkan kekuatan fisisknya.
“Seberapa kuat ilmu sihir kalian?” Makhluk berzirah hitam itu mengangkat kedua tangannya, membuka pertahanannya sendiri.
Vincent menggertakkan giginya, lama kelamaan ia jadi terbawa emosi juga.
Pria berambut sebahu itu juga sudah mengeluarkan tenaga fisiknya, namun kebanyakan ia dilindungi oleh Brock.
Bisa bertahan sampai sini juga adalah hal bagus, maka dari itu Vincent bertekad untuk melakukan semua yang ia bisa.
*
Vincent menatap ke depan, setelah tahu tidak banyak hal yang bisa dilakukan dengan serangan fisik, kini waktunya memakai cara yang berbeda.
“Sihir Tanah: Rantai Tanah!” Seketika itu juga Brock menghentakkan kakinya ke tanah dan dari bawah kaki mkahluk besar berzirah hitam dan mengikatnya dengan kuat.
Krrttt....
__ADS_1
Rantai berbentuk tanah itu seolah terbuat dari besi kuat yang mengeluarkan suara, padahal itu karena energi sihir saja.
“Sihir Api: Hembusan Nafas Api!” Dengan cepat Vincent menghembuskan nafasnya sendiri, dan munculah api yang berputar dari sana, berwarna kuning kebiruan menyala yang terasa begitu panas.
SSSRRRR!
Dengan pergerakannya yang terkunci membuat makhluk berzirah hitam itu tidak sempat menghindar atau juga mengeluarkan sihir, mengenai telak padanya.
“!” Brock bisa merasakan sihir rantai tanahnya itu hancur seketika itu juga saking begitu kuatnya serangan api milik rekannya ini.
Kepulan asap tebal langsung tercipta saat itu juga membuat jarak pandang jadi terbatas.
Brock memang tahu bagaimana kuatnya sihir api milik rekannya ini, dan setelah berlatih tentunya menjadi lebih kuat lagi.
Tapi apa itu cukup untuk membuat musuhnya itu tak berkutik?
HUSH!
“!” Tiba-tiba tanpa bisa disangka oleh siapapunb makhluk besar itu ada di depan mereka dan mengayunkan kaki kanannya yang begitu besar ke arah mereka.
‘Cepat!’
“Sihir Api: Pelindung Api!”
“Sihir Tanah: Dinding Tanah!”
Syut!
DRRTT!
Seketika itu juga tubuh Vincent dilapisi oleh api berwarna biru yang seolah tengah membakarnya, padahal tidak seperti itu.
‘Harus bertahan!’ Vincent tahu ia tidak bisa terus mengandalkan Brock untuk melindunginya. Tidak lama ia menguatkan tekadnya sebelumnya.
Pertahanan fisiknya memang lemah, namun pria berambut sebahu itu tidak membiarkanya begitu saja.
Bagaimana dengan membuat pelindung sihir untuk membantu pertahanan sihirnya? Itulah yang dilakukan Vincent sekarang.
BUAKGH!
DUM!
Ledakan keras tercipta saat itu juga, Vincent bisa merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat, tanda benturan keras yang tidak terbayang apabila ia tidak menggunakan kekuatan sihirnya sekarang,
Shhh....
‘Kuat! Bagaimana dengan Brock?’ Vincent berusaha melihat kondisi temannya saat pandangannya masih terhalang debu, dan ia bisa melihat pria besar itu bsia bertahan dari serangan yang baru saja diluncurkan.
__ADS_1
“Apa lagi yang bisa kalian tunjukkan?!” Makhluk berzirah hitam itu mengangkat tangan kanannya dari jarak dekat dan seketika itu juga muncullah lingkaran sihir hitam dengan aura kekuatan yang tidak main-main.
“Ugh!” Vincent berusaha menjauh dari makhluk besar itu, begitupula dengan Brock. Namun sayangnya usaha mereka itu tidak terlalu efektif karena jangkauan serangan makhluk besar itu luas sekali.
‘Tidak akan sempat!’ Vincent tahu serangan kombinasi tadi mengenai musuhnya dengan telak, namun tidak cukup untuk membuat seluruh pertahan zirah hitamnya lepas.
Zirah hitam makhluk besar itu begitu kokoh dan punya ketahanan yang bukan main, bahkan dengan sihir serangan terkuat miliknya dan dibantu oleh rekannya sekalipun tidak bisa banyak menggores zirah hitam makhluk itu.
‘Tapi ya setidaknya zirahnya itu lebih rusak daripada sebelumnya, itu cukup baik, TAPI BELUM CUKUP!’ Vincent berusaha melihat hal yang baik sekaligus menggerutu dalam hatinya, yang pasti mengapa ia bertemu dengan lawan yang semerepotkan ini?
‘Tunggu dulu... sebentar....’ Vincent terpikir sesuatu sekarang, yakni hal yang sempat dilupakannya.
‘Nasihat Guru Freiss waktu itu....’ Vincent akhirnya ingat akan perkataan yang sebelumnya dikatakan olrh gurunya,
‘Kami akan menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dan tidak ada jalan lain selain menghadapinya.’
‘Untuk itulah Guru Freiss melatih kami...’.’ Vincent sadar ia malah menggerutu karena ia pikir kekuatannya yang sudah berkembang akan bisa mengatasi masalah ini di awal, namun ternyata lagi-lagi tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Masalah kepercayaan diri memang sudah teratasi ketika ia berdiri untuk menghentikan makhluk besar berzirah hitam ini, namun tidak sampai di situ saja.
Masih ada aspek lain yang harus dimiliki untuk bisa terus menghadapi apa yang di depan.
Yaitu... pantang menyerah.
Dua kalimat sederhana yang berarti besar, jika dimaknai lebih lagi maka siapapun bisa menemukan arti yang sebenarnya.
Vincent tahu mengeluh tidak akan membuat semuanya jadi lebih mudah, melainkan sebaliknya. Maka dari itu lebih baik baginya untuk tetap berdiri sebagaimana telah ia tekadkan tadi.
‘Brock sudah melakukan apa yang dia bisa, dan kini giliranku.” Vincent menguatkan tekad dan batinnya sendiri. Sontak ini jadi pertanyaan, bukankah pria berambut sebahu ini sudah mengeluarkan apa yang dia bisa dengan menggunakan sihir api yang hebat sebelumnya? Lantas apa yang akan dilakukannya?
‘Rasanya sudah lama sejak terakhir kali aku melakukannya.’ Vincent bersiap untuk melakukan hal ini.
Vincent menatap ke depan tepat di mana makhluk besar itu sedang mengeluarkan sihir gelap dengan jumlah besar, entah kehancuran seperti apa yang bisa terjadi ketika membiarkan serangan seperti ini meledak.
Hancurnya sebagian area sudah pasti tidak bisa dihindari, dan bertahanpun tidak akan berdampak banyak.
Mengingat serangan yang dikumpulkan itu terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu dan tidak bisa dihentikan.
“Vincent!” Brock berseru melihat situasi yang makin tidak terkendali, ia ingin temannya sadar dan bisa melarikan diri, karena memang ituakh yang ia rencanakan.
Bagi Brock pilihan yang paling masuk akal adalah untuk mundur dan menjauh dari serangan yang akan dilancarkan itu. Tidak peduli seberapa besar jangkauan serangannya akan lebih baik bilamana mereka tidak terkena serangan dari jarak sedekat ini.
Namun sampai sekarang Brock masih belum melihat tanda-tanda Vincent akan melarikan diri, malahan ia melihat raut wajah percaya diri dan komitmen yang tinggi dari rekan berambut sebahunya itu.
“Makan ini....” Pada akhirnya muncullah bola sihir berwarna hitam yang besar yang siap menghancurkan apapun di depannya.
SSSRRRRGG!
__ADS_1
Vincent mengangkat tangan kanannya ke depan, sementara itu aura sihir berwarna biru terlihat darinya. “Prediction Master!”