Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 471: Saat Yang Tepat


__ADS_3

"?" Tepat sebelum Danny hendak menyadarkan Arthur, ledakan aneh dari kejauhan malah terjadi.


"...."


"...." Arthur dan para Ksatria Suci yang lain terdiam, mereka sadar yang tadi itu bukanlah ledakan tanpa sebab biasa.


Lagipula mengapa tiba-tiba terjadi ledakan di padang pasir? Pasti ada sebabnya bukan?


"Makhluk hitam, urusan kita belum selesai." Arthur tidak lagi menandang Raven tajam, ia mengalihkan perhatiannya pada ledakan yang baru saja terjadi.


Hal yang sama juga dilakukan oleh para Ksatria Suci yang lain, mereka sadar ada hal yang lebih penting untuk diperhatikan ketimbang mengurusi hal ini.


Tidak biasanya para Ksatria Suci ini mengalihkan fokusnya dari apa yang akan dilakukan. Mengingat mereka adalah orang-orang hebat terlatih, tidak akan terganggu oleh hal lain selain apa yang akan dilakukan.


Namun kali ini berbeda, karena insting mereka lebih tajam dari manusia biasa, mereka dengan mudah bisa menilai situasi. Yang pentinglah yang mereka utamakan.


'Hawa kehadiran!' batin Danny, ia menoleh ke belakang, merasakan hawa kekuatan berkumpul begitu cepat, padahal sebelumnya ia sudah mengeliminasi seluruh pasukan iblis yang ada di tempat ini, namun mengapa malah tiba-tiba muncul hawa lain?


"Datang juga." Raven melihat ledakan yang membuat debu asap membumbung tinggi ke atas dengan serius. Seolah dia tahu akan kedatangan seseorang ke tempat ini.


"?" Danny menatap Raven dengan heran, bertanya-tanya mengapa dia tidak memberi tahu hal ini padanya?


"Bagian serunya baru dimulai." Sorot mata merah Raven tertuju pada pemuda ini, membuat Danny akhirnya sadar ini belum selesai.


HSSUSUHHHH!


Terciptalah lingkaran sihir merah jauh di tempat ledakan tadi, saking besarnya bisa terlihat jelas dari jarak pemuda ini.


Lingkaran sihir merah pekat dan menyala terang, diiringi dengan gemuruh dan juga hempasan angin kuat yang membuat badai pasir tiba-tiba terjadi begitu saja.


Tidak ada lagi padang gurun yang tenang, melainkan padang gurun dengan badai yang membuat siapapun tidak nyaman.


Alhasil Danny tidak bisa memerhatikan dari jauh lagi, mengingat jarak pandangnya jadi pendek akibat hempasan tanah pasir yang kuat ini.


Tidak ada pilihan lain selain memicingkan mata, atau lebih baik tidak melihat sama sekali, mengingat betapa banyaknya debu pasir yang berterbangan. Dan bernafas juga jadi sulit di sini.


Danny berdiri dengan kuda-kudanya jika saja bukan karena kekuatan aura kuning batu permata mulianya, sudah pasti ia akan terhempas oleh hempasan angin yang sedang terjadi sekarang.

__ADS_1


"Panah Angin: Pemecah Badai." Jessica menutup sebelah matanya, bersiao memanah ke atas di mana badai pasir ini semakin besar, kekuatan sihir terkumpul di panahnya itu membuat panahnya itu berwarna biru terang


Syut.


Panah itu terbang lurus ke atas, tidak peduli akan seberapa kencang angin, tidak menggoyangkan atau mengubah laju dari panah biru terang itu.


'Indah.' batin Danny, panah kecil itu punya kekuatan yang hebat, bercahaya di tengah pandangan buram akibat badai pasir ini.


Seolah memberikan secercah harapan bagi siapapun yang sedang berada di dalam badai


BUM!


Seketika itu juga suara keras terdengar dari langit, yang tak lain tak bukan adalah panah biru itu sendiri.


Shhh...


Pusaran angin kencang tercipta dan menyedot setiap butiran pasir yang tersebar di seluruh padang gurun ini.


Kini Danny bisa melihat dengan jelas apa yang ada di depannya, makhluk merah besar yang gagah dengan zirah merah menyala ada jauh di sana.


'Aura kekuatannya beda dari yang lain!' Danny tahu makhluk yang baru saja muncul ini berbeda dengan makhluk merah raksasa dengan zirah hitam yang pertama dilawan kedua rekannya!


Jika dibandingkan, hawa kekuatannya sangat jauh berbeda, Danny menelan ludahnya sendiri, pada akhirnya apa yang ia sangka datang juga.


Sosok iblis itu memakai zirah merah membara dan dikelilingi oleh lingkaran sihir merah juga di sekeliling tubuhnya. Baru pertama kali Danny melihat yang seperti ini.


Syut!


"Ah." Datanglah Makhluk merah besar dengan cepat, berdiri di antara makhluk merah lain yang telah tumbang. Suaranya berat dan mengerikan, entah bagaimana menjelaskannya tapi suaranya itu sesuai dengan penampilannya.


"?!" Danny yang sudah menggunakan kekuatan batu pertama kecepatan juga tidak bisa mengikuti persis bagaimana gerakan dari makhluk itu.


Padahal seharusnya ia bisa melihat setiap hal yang bergerak cepat atau lambat dengan jelas, namun mengapa kini ia tidak menyadarinya?


Apa karena makhluk merah besar ini terlalu cepat?


"Kalian.... selain pemuda itu boleh pergi."

__ADS_1


"...."


Jikalau diperhatikan makhluk merah besar ini punya ekspresi yang tenang, padahal Danny pikir penampilannya akan lebih mengerikan lagi mengingat suaranya begitu berat dan serak.


Dan lho...?


Mengapa iblis ini malah memberi penawaran seperti ini?


"Tidak salah para ksatria suci ada di sini." Raven melihat sekilas keempat orang dibelakangnya, lagi-lagi perkataannya itu seolah ia sudah merencanakan hal ini.


Seberapa banyak dia menyembunyikan hal ini sih? Danny tidak tahu apa yang direncanakan Raven, sang Makhluk hitam ini, namun selama rencananya masih sejalan dengannya kenapa tidak?


Bukan kebetulan juga Danny bisa bertemu dengan para ksatria suci ini, terlepas dari tujuan sebenarnya mereka ke tempat ini.


'Pemuda? Bukan aku 'kan?' Danny tahu ia bukanlah satu-satunya pemuda di sini, masih ada Arthur dan mungkin juga Worther. Jadi siapa sebenarnya yang iblis itu maksud?


Mendengar perkataan makhluk besar dengan zirah merah membara dan juga sihir aktif di sekitar tubuhnya, Arthur dan kawan-kawan masih belum bereaksi apapun.


"Ksatria Suci, kalian tidak malu?" Makhluk merah itu mulai bicara, dan sejujurnya Danny tidak mengira makhluk sepertinya mau mengobrol seperti ini.


Ia pikir makhluk besar merah berpenampilan tenang namun bersuara mengerikan ini akan beraksi membabi buta, demi alasan apapun kedatangannya kemari.


Dan mengapa makhluk merah itu tahu tentang para ksatria suci?


Apa ketenaran para ksatria suci sampai di telinga ras iblis juga? Kalau memang begitu, itu memang mengesankan.


"...." Arthur terdiam dan melihat serius ke arah makhluk merah yang berbicara ini.


"Dua orang ini yang membereskan semuanya, apa benar pahlawan itu selalu datang terlambat?" Makhluk besar itu bicara sedikit panjang, namun tidak mengurangi kesan ngeri yang ada.


"...." Danny masih belum paham apa yang makhluk itu maksudkan. Ada urusan apakah gerangan dia dengan para ksatria suci.


"Tidak perlu membalaskan dendam temanmu?" Makhluk merah itu tidak berhenti mengajukan pertanyaan, tekanan terasa dari setiap kata yang diucapkannya.


Arthur masih terdiam, ia tidak menyangkal fakta yang diucapkan makhluk itu. Ia tertunduk sebentar dan melayangkan pandangan matanya yang tajam.


"Akan kubalas sekarang. Domer."

__ADS_1


__ADS_2