Menuju Tak Terkalahkan

Menuju Tak Terkalahkan
Act 436: Sadar


__ADS_3

“Kau benar Brock.” Danny setuju akan perkataan temannya itu, memang agak aneh melihat keadaan pusat kota yang sepi seperti ini, padahal biasanya tidak seperti ini.


“Kau terlalu berlebihan Brock, mungkin saja para pendudukkota sedang tidur bukan? Siapa juga yang ingin terjaga sepanjang malam di luar rumah?” Vincent terdengar realistis, dan pendapatnya masuk akal juga.


Patricia mengangguk kecil tanda setuju akan ap yang dikatakan pria berambut sebahu itu.


‘Ya, memang bisa seperti itu adanya.’ batin Danny, bisa jadi apa yang dikatakan Vincent memang benar.


“Kalau begitu mari kita berkeliling sejenak.” Danny ingin melihat keadaan sekitar kota pada malam yang gelap ini, barangkali ia bisa menemukan alasan mengapa pusat kota tidak seramai biasanya.


“Hm!” Patricia mengangguk setuju akan usulan Danny.


Tidak bisa dipungkiri Danny memang bersama dengan yang lain sudah menghabiskan waktu cukup lama untuk berlatih.


Jadi selama waktu itu ia tidak tahu apapun soal yang terjadi di sini.


Danny memfokuskan kekuatan sihirnya, dan ia setelah beberapa saat ia memang merasa ada yang berbeda di sini.


Ia melihat sedikit orang-orang lewat di tempat ini, namun mengapa hawa kehadiran mereka tidak terasa?


Danny tahu seorang yang tidak mempelajari ilmu sihir pun setidaknya akan memancarkan hawa kehadiran yang bisa dirasakan.


Namun hal itu tidak bisa Danny rasakan di sini.


“Apa kalian merasakan hawa kehadiran di sini?” Danny memastikan dengan bertanya pada teman-temannya.


“Tidak,” jawab Brock singkat, padat dan jelas.


Memang pria besar ini juga merasa ada sesuatu yang berbeda tepat setelah mereka ada di sini.


Patricia dan Vincent terlihat baru menyadarinya, mereka berdua tidak mengatakan apapun tanda setuju dengan apa yang dikatakan Brock.


‘Kenapa bisa begini?’ Danny berjalan sembari memikirkan hal ini.


Sementara ia menunggu mungkin saja ini adalah efek latihannya yang mengakibatkan ia tidak bisa merasakan hawa kehadiran, namun setelah beberapa saat ia tetap tidak merasakannya juga.


Tap.


‘Tidak hanya aku saja, tapi yang lain juga....’ Danny merasa kini ia berada di ruang kosong selain kehadiran tiga temannya ini.


Tap.


Langkah kaki Danny terhenti tiba-tiba, membuat rekannya yang lain berhenti juga dan menatapnya heran.


“Ada apa?” Patricia tahu Danny tidak mungkin berhenti tanpa alasan, dari raut wajahnya saat ini menunjukkan itu.


Raut wajah Danny seolah tidak percaya akan apa yang dilihatnya, sontak hal itu membuat teman-temannya heran.

__ADS_1


“Cecilia... Forhan....” Bola mata Danny membesar, mulutnya bergetar, perasaannya campur aduk tidak karuan.


Ada dua orang yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka, dengan melihat penampilan mereka saja Danny bisa langsung tahu siapa mereka.


“Kau kenal mereka Danny?” Vincent baru melihat kedua orang ini; yang satu gadis cantik yang bertudung hijau dan yang satunya pria besar mirip Brock dengan pedang besar yang ada di punggungnya.


“A... aku kenal....” Danny menahan perasaanya, ia tidak mengerti mengapa bisa bertemu dengan kedua teman lamanya.


“Sudah lama ya Danny? Haha!” Pria besar dengan pakaian petualang serba coklat dan juga senjatanya yang mencolok menolak pinggang dan tertawa lepas.


“....” Danny terdiam, nada suara dan juga perilakunya memang benar-benar seperti teman lamanya.


“Kebetulan sekali kita bertemu di sini!” Pria yang bernama Forhan itu memandang Danny dengan tatapan yang semangat.


“Siapa mereka?!” Forhan kemudian melihat seksama kepada ketiga rekan Danny.


‘He- hei, jangan dekat-dekat.” Vincent malah risih karena dilihat dengan tajam oleh pria besar seperti Brock, ia lebih suka ditatap tajam oleh gadis cantik ketimbang oleh pria besar ini.


Setelah selesai puas memerhatikan Vincent, Brock, dan juga Patricia. Forhan terlihat seperti menyadari sesuatu.


“Mereka ini teman barumu ya?!” Nada Forhan terdengar lebih keras dan berenergi ketimbang sebelumnya.


“....” Danny masih terdiam, ia merasa setiap suara dan aksi yang ia lihat begitu nyata, sampai ia berpikir memang seperti itu adanya.


Patricia melihat bagaimana Danny terdiam, dia memang seperti mengatakan sesuatu seperti nama di awal tadi.


Namun mengapa Danny tetap diam bahkan setelah melihat dua orang yang dikenalnya di depannya?


“Danny....” Kini seorang gadis bertudung hijau dengan warna mata yang biru cerah menatap Danny dengan tenang.


Suaranya lembut bak hilir angin yang terasa ke telinga, dan juga meski wajahnya sedikit tertutup oleh tudung, namun tetap tidak bisa menyembuyikan bagaimana pesona yang dipancarkan olehnya.


“Cantik.” Vincent malah tidak ragu mengatakan apa yang ia pikirkan tentang gadis yang ada di depannya itu.


“....” Patricia tidak bisa menyangkal memang begitulah kenyataannya, gadis bertudung hijau ini memang terlihat ramah dan enak dipandang, didukung dengan gerak geriknya yang lembut.


“....” Danny terdiam, entah mengapa ia tetap belum mengatakan apapun setelah ia mengenali siapa dua orang yang tiba-tiba dijumpainya ini.


Brock sedari tadi hanya memerhatikan situasi saja, ia tidak ambil pusing dengan kedua orang yang muncul saat ini. ia malah merasa aneh dengan tingkah laku Danny saat ini.


Shhhh....


Hilir angin menerpa mereka, namun Danny sama sekali tidak bisa merasakannya, pandangannya masih terpaku pada apa yang dilihatnya.


Pluk.


Pria besar bernama Forhan itu sadar memang sedari tadi Danny hanya terdiam saja. “Danny, kau tak apa?”

__ADS_1


Tubuh Danny kini bergetar, entah mengapa ia juga tidak merasakan tangan Forhan yang sedang berada di bahunya sekarang. Perasaannya makin bercampur aduk.


“... Katakan sesuatu Danny....” Patricia jadi terbawa suasana, jika memang Danny mengenal mereka berdua maka akan lebih baik jika dia mengatakan sesuatu sekarang.


“Danny....” Suara lembut gadis bertudung itu kembali terdengar.


Pluk.


Tanpa bisa diduga siapapun gadis bertudung hijau itu maju ke depan dan memeluk Danny dengan lembut.


“Ah!” Patricia kaget dengan kejadian yang tiba-tiba ini, ia tidak bisa apa-apa selain memerhatikan apa yang terjadi ini.


“Pesonaku.” Vincent menutup wajah dengan tangan kanannya, ia sadar pesonanya tidak cukup untuk menarik gadis cantik bertudung yang kini malahan memeluk rekannya sendiri.


Brock berpendapat gadis bertudung hijau ini punya hubungan dekat dengan Danny, jadi tak heran juga dia sampai memeluknya.


“Kamu pasti akan baik-baik saja....” Gadis itu mengatakannya dengan lembut, Danny terdiam, dan ia melihat ke sampingnya dan sedikit tersenyum, kini raut wajahnya sudah lebih tegar dari sebelumnya.


“Terima kasih.”


“Kau akan melanjutkan perjalanmu ya?! Jangan lupakan kami!” Forhan tersenyum lebar, melihatnya membuat Danny seperti kembali ke masa lalu.


Sedang gadis bertudung hijau bernama Cecilia juga tersenyum.


“Terima kasih....” Danny mengatakan hal yang sama dua kali, sementara itu dari dalam tubuhnya tiba-tiba terpancar sinar berwarna ungu yang menyilaukan.


“ASTAGA APA INI?!” Vincent melihat ke sekeliling dengan panik, perubahan situasi yang aneh ini membuatnya harus mengungkapkan sisi ke-tidakkerenan yang ia miliki.


SRRIINGGG!


Sementara itu dibalik sinar yang menyilaukan itu Danny terlihat tersenyum tulus, dan semuanya pun tertutup oleh sinar yang menyilaukan ini.


Syut....


“HAH!” Vincent merasa nafasnya agak tersengal, rsanya seperti tenggelam namun tidak oleh air, melainkan oleh sinar cahaya yang begitu terang yang barusan terjadi.


Shhh....


“Lho?” Patricia melihat ke sekelilingnya dan merasa heran, mereka kembali ke tempat semula ketika pertama kali sampai kembali, di pusat kota.


Apa waktu tiba-tiba terulang kembali? Bagaimana mungkin bisa seperti itu?


“Danny apa yang terjadi?” Vincent tidak bisa menahan rasa penasarannya, dan untuk apa juga ia menahannya. Ia ingin tahu akan apa yang sebenarnya terjadi di sini.


“Kemana perginya dua kenalanmu itu?” tanya Vincent lagi sebelum


Danny menjawab pertanyaan pertamanya itu.

__ADS_1


“Keduanya sudah tidak ada," jawab Danny sembari sedikit tertunduk.


__ADS_2