
Sihir angin yang dilancarkan Kakek Leith benar-benar kuat, alih-alih menahannya Danny memilih untuk memindahkan lajur serangan sihir itu ke angkasa.
Berat!
Danny menggunakan tangan kanannya sebagai pemfokusan dari sihir angin miliknya, agar kekuatannya bisa lebih terkontrol sesuai dengan keinginannya.
Perlahan-lahan, lajur dari ujung tombak itu mulai bergeser, dipaksa bergeser ke atas tepatnya.
HUUUSH!
Tombak itu berhasil dipindahkan lajurnya oleh Danny, begitu kuatnya tombak angin itu seperti menembus langit saja.
"Haaah..."
"Haaaah...."
Danny terengah-engah, ia tidak menyangka Kakek Leith akan memgeluarkan jurus yang sedemikian kuatnya, "Bagus sekali Danny."
Kakek Leith memandangnya penuh arti, "Sebenarnya yang ku keluarkan tadi adalah sihir angin tingkat menengah...."
Tingkat menengah? Danny dibuat kaget oleh hal itu, tidak ia sangkat sihir tingkat menengah bisa sampai sekuat itu.
Tingkat kekuatannya berbeda jauh dengan tingkatan dasar, ditambah lagi dengan segala kesusahan yang dialaminya saat menghentikan tombak itu, Danny terjatuh dengan posisi duduk.
"Mengapa sihir tingkat menengah bisa begitu kuat Kek?"
Mendengar pertanyaan Danny, Kakek Leith kemudian memberi penjelasan, "Memang, sihir tingkat menengah adalah sihir yang paling umum dikuasai oleh sebagian besar ahli sihir, sebenarnya aku bukan ahli sihir lho."
Meskipun bukan ahli sihir, tetap saja kekuatan yang dikeluarkan Kakek Leith benar-benar besar, membuat Danny sampai terpojok dan tidak bisa menahan kekuatan itu.
"Tapi Kek, Saya tidak berhasil menghentikan sihir yang Kakek lakukan," ucap Danny sambil diiringi hembusan nafas terengah-engah
"Tidak apa, sebenarnya tadi aku sedikit ragu untuk mengeluarkan sihir semacam ini, tapi aku berubah pikiran setelah melihat kepercayaan dirimu dan kemaampuanmu menahan sihir dasar."
"Sebaliknya meskipun kau tidak berhasil menahan sihir itu, kau tetap bisa mencari cara lain agar sihir itu tidak melukaimu, itulah tujuan utamanya,"
"Meskipun kau tidak berhasil menahan sihir tingkat menengah, aku yakin kau pasti akan segera bertambah kuat Danny," ujar Kakek Leith.
Danny senang mendengar penjelasan Kakek Leith, ia rasa kemajuannya saat ini merupakan sesuatu yang patut disyukuri dan diapresiasi.
__ADS_1
"Jangan murung begitu Danny!" Patricia mengulurkan tangannya untuk membantu Danny berdiri.
Begitu menerima uluran tangannya itu, Danny sadar tangan Patricia kini mulai terasa kasar olehnya, kini ia tahu Patricia pasti berlatih dengan keras sehingga tangannya jadi seperti itu.
"Jadi, pada akhirnya kau bisa menguasai sihir lho!" ujar Danny
Patricia tersenyum, "Haha, kau lebih hebat lagi Danny! Tapi aku tidak perlu menyebutmu guru kan saat ini?"
Mendengar candaan konyolnya itu membuat Danny tertawa kecil, "Ayolah!"
Kakek Leith melihat kedua muridnya itu dengan bangga, meskipun dirinya sudah beranjak tua namun ia akhirnya memiliki kesempatan untuk membuat hidupnya sedikit lebih berarti dengan kehadiran mereka berdua.
***
Untuk merayakan keberhasilan mereka, akhirnya Kakek Leith mengadakan acara pesta kecil di luar halaman rumahnya, ia memasang meja panjang untuk berbagai hidangan yang akan disediakan, tempat bakaran daging, api unggun.
Semua hal itu dilakukannya sebagai acara perpisahan juga, mengingat latihan mereka berakhir disini, dalam dua hari kedepan mereka berdua akan kembali berpetualang.
Acara tersebut disiapkan oleh seluruh pelayan Kakek Leith, mereka sangat cekatan dan terampil dalam mempersiapkan acara seperti ini.
Semuanya terlihat menikmati pesta kecil-kecilan itu, Danny dan Patricia berbaur dengan para pelayan tersebut, mereka saling mengobrol satu sama lain, kehangatan tercipta diantara mereka.
Dua bulan lebih mereka ada bersamanya, namun semuanya terasa berlalu begitu cepat, kalau saja ia tidak perlu mengasingkan diri seperti ini...
"Kek." Danny menyapa Kakek Leith yang tengah berada dekat api unggun, momen ini persis ketika mereka pertama kali bertemu.
"Ah, Danny ada apa?" Danmy melihat wajah Kakek Leith, nampak begitu damai dan terlihat dari raut wajahnya yang tua itu ia merasa puas.
"Ucapan terima kasih saja tidak cukup Kek, untuk semua yang kakek berikan pada kami berdua."
Kakek Leith tersenyum, "Sudah tugasku untuk melatih kalian, untuk itulah aku masih hidup sampai sekarang."
"Kau harus bisa terus menjadi lebih kuat dari dirimu sekarang, untuk itulah aku sebagai pemegang batu permata daya tahan sekaligus salah satu dari lima pemimpin binatang buas ini melatihmu."
Danny mengerti, tanggung jawabnya semula, ia harus mengalahkan para iblis, lagi-lagi ia merasa belum cukup kuat.
"Akan kulakukan sebaik mungkin Kek," ujar Danny
Kemudian Kakek Leith mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya, dan menyodorkannya pada Danny.
__ADS_1
"Apa ini Kek?" Danny masih belum mengetahui apa yang akan kakek itu berikan padanya.
"Ini adalah alasanmu berlatih selama ini ...." Danny kemudian paham akan maksudnya.
Ia menyodorkan tangannya, sebuah benda mirip batu berwarna coklat telah diserahkan padanya.
Apakah aku akan merasa sakit lagi?
Danny merasa takut jika setelah beberapa saat kemudian ia akan merasakan sakit yang teramat menyakitkan.
"Huh?"
Meskipun batu permata daya tahan itu ada di tangannya, Danny sama sekali tidak merasa sakit.
"Simpanlah batu itu baik-baik, kelak kau pasti akan membutuhkan kekuatannya," ujar sang kakek.
Danny kemudian mengantongi batu permata coklat itu, ia meletakkannya bersamaan dengan batu permata fisiknya.
Pesta itu terus berlanjut sampai dini hari, kegembiraan para pelayan, Danny dan Patricia, serta sang Kakek tidak bisa dibendung, rasanya mereka bahkan tidak mau berhenti merayakannya.
Setelah semua usai, Danny dan Patricia masih punya satu hari terakhir untuk tinggal di rumah Kakek Leith, mereka manfaatkan untuk mengumpulkan kembali tenaga untuk kembali berpetualang.
***
Pagi harinya, Danny masih berada di dalam kamarnya, tidak ada yang aneh, ia tengah memperhatikan kedua batu permata itu yang berada di telapak tangannya, begitu spesialnya kekuatan batu ini hingga penggunanya pun harus layak untuk menggunakannya.
Danny sadar, masih ada tiga batu yang tersisa, maka dari itu perjalanan masih akan terus berlanjut hingga akhirnya ia berhasil mengumpulkan ke-lima batu permata itu.
Danny memiliki berbagai pengalaman dan kenangan menarik selama ia disini yang tidak mungkin ia lupakan, maka dari itu ia menganggap semuanya itu adalah proses untuk membuatnya lebih baik dari sebelumnya.
Danny dan Patricia menghabiskan waktunya pada hari terakhir itu untuk mengucapkan terima kasih pada setiap pelayan dirumah itu atas kebaikan mereka selama ini.
Mereka menyambut dan menghargai ucapan terima kasih itu, akhirnya Danny dan Patricia saling bercanda ria dengan mereka.
Sampai tiba saatnya malam hari, malam terakhir mereka di sini.
Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan, kini saatnya matikan lampumu, tarik selimutmu, dan tutup matamu.
DEG!
__ADS_1