
Kini satu cara alternatif sudah ditemukannya, dan menggunakan cara ini adalah hal yang paling tepat untuk dilakukan.
Danny berencana akan membawa ketiga temannya ini dengan gerobak, langsung menuju ke daerah kerajaan timur, dengan begitu teman-temannya ini tidak perlu lagi menggunakan kekuatan kecepatan lagi.
"Apakah kamu tidak lelah Danny? Bahkan berencana untuk membawa kami bertiga?" Patricia peduli pada temannya ini, ia tahu benar Danny memang yang mengusulkan rencana ini dan terlihat sangat yakin sekali, namun apakah cara ini lebih baik?
Danny mengangguk, alasan dibalik ia melakukan hal ini sudah diungkapkannya sebelumnya, prioritasnya adalah untuk menjaga teman-temannya agar tidak terlalu berlebihan menggunakan kekuatan yang baru dipelajari mereka itu.
Danny dan Patricia melanjutkan obrolan mereka dengan hal-hal yang lain selagi menunggu kedua temannya yang masih tidur itu, dan tidak butuh waktu lama setelah sekitar setengah jam berlalu, akhirnya kedua pria itu bangun dari tidurnya.
Setelah Brock dan Vincent merapikan barang bebawaan dari tasnya, Danny akhirnya menjelaskan rencananya itu.
"Apa? Kau akan menarik kami dengan gerobak besar ini Danny?" Vincent seketika bertanya-tanya mengapa temannya ini memutuskan hal semacam ini.
"Sudah kubilang aku membiarkan kalian beristirahat dahulu setelah menggunakan kekuatan kecepatan itu, jadi dari sini serahkan semua bagian perjalanan kita padaku." Danny mencoba meyakinkan Vincent yang memang nampak tidak begitu menyetujui rencananya itu.
"Danny benar Vincent, akui saja kita memang masih perlu beradaptasi untuk menggunakan kekuatan hasil latihan kita sebelumnya, jika memaksakan diri maka yang ada kau hanya akan menyusahkannya." Brock ternyata mengerti akan apa yang telah Danny jelaskan padanya, lagipula dia sendiri merasakan bagaimana lelahnya ketika menggunakan kekuatan kecepatan nonstop seperti itu, meskipun ia tidak terlalu menunjukkan kelelahannya itu namun kenyataannya ia mengakui bagaimana beratnya apa yang telah ia alami sebelumnya itu.
Vincent memasang wajah seolah ia telah mengerti dan akhirnya paham mengapa oa harus mempercayakan urusan perjalanannya ini pada pemimpinnya itu.
"Baiklah Danny, kau tidak terlalu buruk, kini aku bisa mengistirahatkan mataku sebentar lagi."
__ADS_1
"Apa? Bukankah kau sudah tidur nyenyak semalaman' kan Vincent?"
"Diam Brock." Vincent dengan cepat menghentikan pembicaraan dengan teman besarnya itu, ia sedikit menguap dam mengucek matanya, ternyata memang tidur semalaman belumlah cukup baginya.
Damny akhirnya mendapatkan persetujuan dari ketiga temannya ini, setelah mereka bertiga masuk ke gerobak besar yang ternyata masih ada cukup ruang meskipun sudah ada tiga orang di dalamnya.
"Baiklah aku akan melanjutkan mimpi indahku sekarang." Vincent mengambil ruang kosong yang masih tersedia di dalam gerobak besar itu dan merebahkan tubuhnya, tidak peduli dalam keadaan apapun akhirnya ia bisa melakukan apa yang ia inginkan itu.
Brock hanya melihat temannya yang dengan diam, dan sebenarnya ia juga tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan temannya itu.
Danny mempersiapkan semuanya, mengangkat pegangan gerobak yang ukurannya besar itu dan membuat ketiga orang teman yang berada di dalamnya sedikit terangkat ke atas.
Tanpa berlama-lama lagi Danny menggunakan kekuatan batu permata mulia kecepatan, dan melesat dengan cepat di tengah hutan hijau itu, tanpa ada suatu makhluk lain yang bisa melihat pergerakannya dengan mata telanjang.
Zlit!
Dalam waktu yang sangat singkat Danny sudah melalui seluruh bagian pinggir daerah timur, yaitu hutan lebat yang melingkupi area setelah hutan terlarang Dawn Forest.
Kini ia sedang berada tepat di samping lubang yang berukuran sangat besar, sebuah tempat yang sangat tidak asing baginya, di mana tempat ini dulunya adalah kampung halamannya yang tercinta.
Setelah sekian lama berlalu Danny akhirnya kembali ke tempat awal di mana akhir yang menjadi awal baginya, entah bagaimana menjelaskannya namun yang pasti tempat ini membawa kenangan tersendiri baginya.
__ADS_1
Ada perasaan rindu pada kampung halamannya ini, Desa HeinFilix yang merupakan desa terluar di antara banyak desa lain yang tidak terjangkau pihak kerajaan timur.
Sejauh mata memandang tidak ada satu hal yang bisa dilihat oleh pemuda ini selain lubang besar yang menganga di sebagian besar dataran di antara pepohonan lain di sini.
"Kakek ...." Danny kembali memikirkan sosok paling penting baginya, yang memang selama hidupnya selalu bersamanya, namun kini beliau sudah tidak ada lagi.
Perasaan pemuda ini bercampur aduk, sedih, rindu, marah semuanya bercampur di hatinya sekarang ini, di samping semua pengalaman baik di kampung halaman bersama kakeknua namun itu sama sekali tidak bisa membuatnya lupa akan memgapa semuanya harus berakhir dengan tragis.
"Tujuanku masih di depan ...." Danny berusaha menguatkan hatinya, kini perasaannya tidak boleh goyah atau ia akan sulit kembali mengendalikan kekuatan batu permata mulia yang sedang digunakannya ini.
"I-ini ... tempat di mana kamu berasal Danny?"
Danny mendengar suara perempuan temannya itu, ternyata teman-temannya yang lain juga melihat dan mendengar apa yang ia katakan tadi.
"Benar, tempat ini satu di antara desa lain yang berada di luar jangkauan kerajaan timur, namun semuanya makmur sebelum kejadian itu ...." Danny menjelaskan dengan nada rendah, bahkan ia masih ingat persis bagaimana sosok mengerikan penyihir yang telah membuat desanya luluh lantah— tidak, bahkan sampai tidak bersisa sedikit pun.
"Kejadian itu?" Kini Brock ikut penasaran akan apa yang dikatakan oleh pemuda ini.
Danny mengerti, ia memang tidak pernah menjelaskan pada teman-temannya akan masa lalunya ini, dan sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan hal tersebut pada teman-temannya itu.
Patricia dan Brock menyimak dengan seksama penjelasan singkat yang tengah dikatakan oleh Danny dan akhirnya mereka mengerti dan mengetahui sekilas mengenai masa lalu temannya ini.
__ADS_1
"Begitu ya ...." Patricia melihat lubang besar menganga di tengah pepohonan lebat ini, tidak menyangka sebelumnya tempat ini adalah kampung halaman Danny.