
Di masa kini.
"KINI AKU MENGERTI!" Archifer geram melihat perubahan yang terjadi pada Danny. Ini yang dimaksud ras malaikat! Akhirnya mereka menunjukkan bagaimana caranya ikut campur!
Seorang reinkarnasi dari dunia langit, itulah jawabannya! Satu perjanjian dirusak, perjanjian yang lain terlaksana. Archifer tidak lupa akan hal ini.
Sekarang sudah berbeda! Ras iblis sudah sukses menunjukkan eksistensinya di dunia ini, jadi tidak salah bilamana mereka mendapat promosi meski harus dengan cara paksa.
Archifer tidak takut dengan ancaman ras malaikat sekarang. Ia sudah belajar dari pengalaman dan itulah yang membuatnya percaya diri.
Tes... tes....
Sementara itu aura cahaya Danny perlahan menghilang seiring dengan berjalan waktu. Dimensi ruang hampa akhirnya kembali stabil kembali.
"Ukh!" Sophia berusaha mati-matian agar bisa mempertahankan dimensi ruang ini. Ia tidak mau menyia-nyiakan cara paling efektif yang sudah Danny perjuangkan.
Perlahan namun pasti aura kekuatan Danny menghilang. Sudah jelas-jelas karena serangan Archifer yang menembus langsung dadanya.
Hal ini membuat pertanyaan besar, kenapa Danny malah ikut-ikutan menghimpun aura kekuatan di dimensi ini yang melengahkannya dan menguntungkan iblis?
Perlahan namun pasti darah mengucur dari mulut Danny, sementara pandangannya terasa jadi bersinar.
SRING!
***
'Ah, begini lagi.' Danny tidak terkejut dengan apa yang terjadi. Hal ini biasa terjadi, dan setelah sekian lama akhirnya terjadi lagi.
Memang sejak keberadaan batu permata mulia ada padanya ia tidak banyak 'mati' seperti dulu, melainkan sangat tertolong dengan batu ini.
Namun kini yang ia hadapi adalah musuh puncak, sulit untuk membayangkan tidak 'mati' di sini.
Jadi rasanya nostalgia melihat kembali pancaran sinar terang setelah sekian lama tidak melihatnya.
"Danny." Suara pria lansia terdengar, seketika itu juga Danny kenal suara itu.
"Kakek?" Suara kakeknya. Tidak mungkin salah, suara berat dan berwibawa itu tidak mungkin dilupakannya!
Shh....
Cahaya putih berhenti bersinar, kini Danny bisa melihat sekitarnya.
Sebuah tempat seperti kota, namun dikelilingi asap putih yang membumbung, terlihat indah sekali.
__ADS_1
Kakeknya tersenyum berdiri di depannya.
"KAKEK!" Danny segera menghampiri dan memeluknya, rasanya sudah begitu lama, dan tidak mungkin bisa bertemu lagi.
Namun ia salah, kini satu-satunya orang tuanya hadir kembali menghadiahkan pelukan hangat baginya.
"Kakek baik?" Danny belum sadar akan sedang di mana mereka ini.
Kakeknya tersenyum. "Tenang saja."
'AH!' Danny ingat dunia ini bukanlah Hello. Ini berbeda.
"Kakek ingin memberitahu sesuatu Danny."
"Apa itu Kek?" Danny penasaran.
"Kakek tahu, selama ini kamu banyak menderita." Kakek terlihat mengubah air mukanya. Ia menatapnya dengan penuh arti.
"Kamu dipaksa untuk tetap hidup."
"...." Danny terdiam, obrolan ini jadi berat, padahal Danny ingin mengobrol santai dengan kakeknya, tapi itu mustahil.
Faktanya memang benar, kematian tidak menerimanya, kalau diingat-ingat itu mengerikan.
Tapi apa pilihannya? Keluar dari kehidupan normal dan menjalani perjalanan mustahil tidaklah terpikirkan.
"Jika ada yang bisa kulakukan, maka akan kulakukan Kek." Danny mengungkapkan pendapatnya. Semua ini memang tidak masuk akal, namun yang tidak masuk akal itu seringkali terjadi di dunia nyata.
Danny tahu ia seharusnya mati di awal, namun entah bagaimana caranya takdir terus mempertahankannya sampai sekarang.
Semua itu pasti ada sebabnya.
"Dulu Kakek menemukanmu di sebuah kuil yang sudah hancur di dekat desa, konon di sanalah makhluk suci bersemayam."
"!"
"Aku dari kuil?" Danny terdiam.
"Benar nak, sejak saat itulah kakek merawatmu di desa. Kakek sering mimpi kamu akan menghadapi bahaya, namun kakek tidak kuasa memberi tahumu."
Benar, selama ini Danny hanya hidup sebagai pemuda biasa yang tinggal di desa kecil, tidak ada tanda-tanda apapun soal masa depan yang harus dihadapinya.
Tidak pernah ia sangka hidupnya berubah drastis setelah kejadian itu. Padahal harusnya takdirnya berakhir juga.
__ADS_1
"Kakek senang bertemu lagi denganmu Danny." Kakek tersenyum.
"Tapi kek, Danny tidak mengerti." Tidak mungkin langsung mengerti hanya dengan tahu dirinya dipungut dari kuil, lalu selanjutnya apa?
Danny tidak pernah memikirkan masa lalunya. Kini setelah tahu ia masih belum mengerti juga.
"Danny." Seorang dengan jubah putih bersih tiba-tiba datang disebelah kakeknya. Jadi agak kaget.
Dia bersinar, layaknya cahaya yang sering dilihatnya ketika 'kematian' menolaknya.
"Wah!" Danny akhirnya melihat sosok pria jubah putih, dia menatapnya seksama.
"Danny." Suaranya begitu lembut dan tenang, ia tidak pernah mendengar suara semenenangkan ini sebelumnya!
"Kamu sudah berjuang.' lanjutnya sembari tersenyum.
Danny merasakan ketenangan yang hebat, pria besar ini siapa dan kenapa tiba-tiba muncul di sini?
"Ah, aku belum memperkenalkan diri ya, aku Gaberl, perwakilan ras malaikat."
"Ras malaikat!?" Danny terkejut, ia tidak menyangka bakal ketemu malaikat di sini!
Setelah iblis, sekarang malaikat!? Wah tidak disangka sekali!
Danny sering mendengar soal energi suci, namun ia sendiri tidak pernah melihat siapapun yang menggunakannya.
Padahal ras iblis sudah terkenal dengan kekuatan gelapnya, lalu kenapa kekuatan suci jarang sekali terekspos ke dunia luar?
"Karena kamulah satu-satunya yang menguasainya Danny."
"... apa?" Danny tersadar dari lamunannya. Apa pria bercahaya ini baru saja menjawab apa yang ia pikirkan?
"Kenapa bisa....?" Danny heran, baru pertama kali pikirannya dibaca begini.
"Di alam perbatasan ini, tidak ada yang perlu disembunyikan." Gaberl tersenyum kembali.
Pria bercahaya ini murah senyum. Danny baru tahu ia ada di dunia perbatasan sekarang.
Kenapa tiba-tiba bisa ada di sini? Danny ingat betul ia harusnya sedang bertarung dengan raja iblis.
"Tidak ada yang bisa mengubah takdirmu dari awal Danny." Gaberl terdengar serius.
Danny terdiam, ia mengerti apa yang dibicarakannya, apalagi kalau bukan takdir untuk mengalahkan kejahatan di dunia ini?
__ADS_1