
"HAH!" Danny menguatkan kekuatannya lagi, di saat seperti ini memang perlu sekali melakukan hal ini.
Entah sampai mana ia bisa melakukannya, namun yang pasti tidak semudah membalikkan telapak kaki.
Danny bisa merasakan tekad Arthur dalam kekuatan lingkaran sihir besar kuning itu, jelas dia tidak main-main dengan kekuatan seperti ini.
'Baiklah!' Danny mengangkat kedua tangannya ke atas, seketika itu juga aura kekuatan merah berkumpul menjadi perisai tangguh yang siap menahan serangan apapun.
Syut.
Arthur mengarahkan tangan kanannya ke depan dan seketika itu juga muncullah banyak pedang-pedang dari lingkaran sihir kuning yang besar itu.
"...." Danny bisa merasakan dengan jelas apa yang didepannya, tanpa melihatpun ia sudah tahu akan ada banyak senjata berkekuatan hebat muncul di sana.
'Sejak kapan Tuan Arthur punya gudang persenjataan seperti itu?' Danny penasaran, ia baru pertama kali ia merasakan banyak jenis kekuatan serangan yang ada pada sang ksatria suci itu.
Arthur memandang ke bawah, tahu lawannya sudah bersiap dengan mengumpulkan aura pertahanan. Kini saatnya pembuktian bagaimana pemuda ini akan menahan serangan yang akan dilancarkannya.
Arthur mengayunkan tangannya ke bawah, dan seketika itu juga senjata bergerak cepat keluar dari lingkaran sihir itu mengarah tepat ke targetnya.
TRANG!
STRANG!
Drrrtt ....
"...."
Setiap pedang yang keluar dari lingkaran sihir Arthur menggempur hebat aura pertahanan Danny, membuat nada suara keras yang membuat siapapun tidak nyaman mendengarnya.
"Ukh." Rasanya seperti digempur sesuatu, dalam hal ini tentunya oleh kekuatan sang ksatria suci. Tubuhnya bergetar hebat tidak tertahankan, situasi seperti ini tidaklah nyaman, sama seperti yang dipikirkan orang.
'Tuan Arthur memang hebat!' Danny mengaku dalam hatinya, kekuatan ksatria suci memanglah kuat sekali, jauh dari ekspektasinya sendiri.
Lagipula siapa juga yang meragukan kekuatan ksatria suci seperti ini? Mereka adalah yang terkuat dari yang kuat, Danny tidak punya pilihan lain selain menerima fakta ini.
Gempuran serangan terus berlangsung, pedang cahaya kuning terus berdatangan dari lingkaran sihir kuning itu, seolah tidak ada habisnya pedang cahaya kuning yang dilancarkan itu.
__ADS_1
Perisai aura merah Danny berhasil menghentikan sebagian besar pedang cahaya kuning itu, namun tidak berhenti di situ, semakin lama dapat terlihat jelas aura kekuatan Danny jadi tidak sekuat awal.
SRAAK!
SSSHHHH!
Gempuran serangan yang terjadi ini membuat hempasan udara yang kuat dan energi serangan Arthur meluap keluar yang membuat pedang cahayanya malah terpental keberbagai arah.
Meski sebagian besar pedang cahaya kuning itu adalah sihirnya yang bisa menghilang setelah mengenai perisai lawannya, namun pada akhirnya tidak sedikit juga yang mampu mempertahankan bentuknya yang akhirnya pedang itu terhempas kemana-mana.
'Aku harus menghentikannya.' Danny terus menguatkan aura pertahanannya, tidak ada usaha yang lebih besar selain bertahan dari gempuran serangan Arthur.
*
SRAK!
TRANG!
"Tuh jadi repot." Raven membuat aura perlindungan gelap untuk dirinya sendiri, meski ia bisa saja membuat tubuhnya transparan agar serangannya menembus tubuhnya, pada akhirnya itu butuh energi yang lebih besar daripada membuat aura perlindungan.
Tidak disangka Worther punya teknik unik juga hanya dengan mengandalkan kapaknya sendiri. "Jadi musuh kita pemuda itu."
Worther melihat siapapun yang dilawan rekannya adalah musuhnya juga, ada dorongan baginya untuk menghajar anak muda yang sok-sok -kan itu.
"Jangan bercanda, lalu iblis besar itu apa?" Jessica tidak sejalan dengan Worther. Ia tahu akan bagaimana Arthur ingin mengurus semuanya sendiri, namun bukan berarti dia bisa mengabaikan apa yang terjadi di sini.
"Musuh kita dua," jawab Worther singkat, tidak perlu pikir panjang menjawab ini.
Raven mendengar percakapan para ksatria suci ini, ia tidak keberatan juga sih tidak dianggap ada di sini.
Lagipula dia hanyalah makhluk hitam yang tidak perlu diperhatikan orang banyak.
"Ah maksudku tiga, dengan dia." Worther ternyata belum selesai bicara, dia jelas-jelas menatap tajam pada makhluk hitam dengan aura gelap yang tak jauh darinya.
"Yah, begitulah." Raven tidak tahu harus senang atau tidak ia dianggap ada. Pada akhirnya jikalau Danny tidak membelanya mungkin saja ia akan meragukan pemuda ini. Namun pada kenyataannya dia membelanya juga sih.
Danny tetap tidak berhenti menyakinkan Arthur, meski pada akhirnya belum berhasil juga.
__ADS_1
Jika saja iblis tidak muncul di sini maka sepertinya sudah jelas apa yang akan terjadi.
Apa lagi kalau bukan dirinya yang akan ditangkap Arthur? Bertarung sendirian dengannya dan bahkan dengan anggota ksatria suci lain tentu akan merepotkan.
Danny bisa saja tidak peduli dengan masalah ini, pada akhirnya tujuan utamanya bukanlah membelanya juga, melainkan mengeliminasi makhluk jahat yang ada di dunia ini.
Jadi untuk apa repot-repot berurusan dengan apa yang bukan tanggung jawabnya? Raven tidak berharap banyak dengan bekerja sama dengan Danny. Ia hanya berniat untuk berada dipihaknya saja.
Dunia yang dikendalikan oleh makhluk superior tidak akan seru, maka dari itu Raven menyusun rencana baru, yakni berpihak pada pemuda yang juga melakukan urusan yang sama.
Meyakinkan Arthur, melawan iblis dan kemudian mengalahkannya dan begitu seterusnya sampai iblis tidak lagi menginjakkan kaki di dunia ini.
Namun mengapa malah yang terjadi seperti ini? Danny dan Arthur malah berseteru satu sama lain dan mengabaikan musuh utamanya, sedang dirinya dan juga para ksatria suci diam, netral tidak melakukan apapun.
Bagi ksatria suci, mereka memang menjunjung tinggi idealisme, tekad, dan kepercayaan mereka, jadi bukan hal yang sulit mempercayakan situasi ini pada rekannya sendiri.
Sedangkan dirinya? Raven tidak tahu banyak soal Danny, namun tetap menghargai pilihannya untuk tetap berusaha meyakinkan Arthur, menunjukkan usahanya dengan harapan sang ksatria suci itu mau mengerti. Karena itulah ia masih berdiam diri juga sampai sekarang.
Cara paling umum untuk membuat ini berakhir adalah adanya salah satu pihak yang kalah, yang pada akhirnya tidak ada yang mau kalah memperjuangkan apa yang dipercayai.
Hanya jika saja Danny dan Arthur, salah satunya saja bisa mengalah dan mengesampingkan perbedaan, maka bukan hal yang sulit juga rencananya itu terjadi.
"Hah." Berada di pihak netral memang tidak selalu nyaman, tidak ada pilihan untuk mendukung kedua belah pihak.
Danny punya alasan dengan usaha pembuktiannya itu, dan begitupula Arthur dengan keinginan 'balas dendamnya'.
Tapi jika dibiarkan terus, maka tidak ada akhirnya. Mau sebagaimanapun mengabaikannya, tetap saja ini harus segera dihentikan.
*
"DANNYY!" Arthur mengeluarkan semua yang ia bisa, kekuatan pedang cahaya kuning mengikis habis perisai kekuatan aura merahnya.
TAP!
Danny melompat ke atas, dengan pertahanannya yang sudah hancur, menatap ke arah begitu banyaknya pedang cahaya kuning yang mengarah padanya.
"ARTHURRR!"
__ADS_1