
Shhhhhh....
Vincent perlahan merebahkan tubuh Patricia yang agak panas.
Ia bisa melihat sebagian besar tubuh rekannya ini dipenuhi luka, seperti luka bakar yang terutama ada di sekitaran lengannya.
Tidak berhenti sampai situ, aura kekuatan gadis ini juga tidak biasa, seperti bergejolak tidak stabil.
Vincent tidak melihat ia bisa melakukan sesuatu di sini, pasalnya memang ia sama sekali tidak bisa menggunakan sihir pemulihan.
Seementara itu Brock memeriksa kedua orang lainnya di sini, yang tak lain tak bukan adalah dua orang yang menolongnya dan Vincent tadi.
Jack dan Gill, kedua orang dengan keahlian yang hebat dalam strategi mereka. Kini mereka berdua tengah terbaring lemah menutup matanya.
Jika dilihat sekilas dengan luka yang cukup banyak itu maka orang bisa saja berpikir yang lain pada kondisi mereka berdua, namun Brock masih bisa merasakan hawa kehidupan yang ada pada mereka.
Berbeda jauh ketika kedua orang tadi menolong mereka sebelumnya dengan kekuatan awalnya, kini seolah mereka tanpa kekuatan lagi selain bisa tetap ada sampai sekarang.
Brock sedikit menunduk, melihat orang hebat yang sudah menolongnya ini malah kini berada dalam kondisi yang tidak bagus. Ia tidak bisa membalas budi apapun pada kedua orang yang tiba-tiba muncul ini.
Sementara itu Vincent bisa melihat bagaimana payahnya kondisi rekan perempuannya itu, raut wajahnya pucat tidak berdaya dan nafasnya tersengal-sengal.
“Brock, serangan tadi... bukan Danny ‘kan?” Vincent memastikan siapa yang sebelumnya mengeluarkan serangan yang begitu kuat dan hebat itu.
“Ya,” jawab Brock pendek.
Brock tidak tahu bagaimana bisa Patricia bisa menggunakan serangan besar seperti ini, mengingat ia sejauh ini juga mengamati bagaimana perkembangan rekannya, dan sihir yang sudah digunakannya ini jauh melebihi ekspektasinya.
Menggunakan kekuatan besar tanpa tubuh yang kuat adalah hal yang mustahil. Bagaimana bisa seorang punya kekuatan namun kapasitas tubuhnya tidak memadai? Hal ini malah terjadi pada gadis yang juga terbaring ini.
Brock tahu akan hal ini, dan ia tidak bisa melakukan apapun untuk membuat situasi lebih baik.
Sihir pemulihan tidak dikuasainya, dan ia tidak mengerti akan cara bagaimana menstabilkan energi sihir seseorang. Dengan batasannya ini Brock hanya bisa diam.
__ADS_1
Terdengar mengerikan karena membiarkan temannya dalam kondisi seperti ini? Ya, Brock tidak punya banyak waktu mengurusi emosinya sendiri.
Vincent tidak melihat Danny di mana pun sekaligus juga musuh yang sedang dilawannya. Ia kini sadar akan suatu hal ini.
“Kita terlambat... sangat terlambat....” Vincent menundukkan kepalanya, ia tidak menyangka butuh waktu yang sangat lama agar ia bisa sampai ke tempat ini.
“....” Brock terdiam, tidak dapat dipungkiri apa yang dikatakan rekannya itu memang adalah sebenarnya, namun meskipun mereka bisa datang lebih awal, namun apa yang bisa mereka perbuat di sini?
Ikut terluka bersama setelah berjuang keras? Hal itu lebih baik ketimbang tidak melakukan sesuatu sama sekali.
Pada kenyataannya, menyusul ke tempat Danny dan Patricia tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mereka bukanlah orang kuat setara kedua orang dari Kerajaan Selatan ini.
Dan andai saja katakanlah mereka berhasil datang ke sini, maka apa yang akan terjadi? Bisa saja kondisi mereka lebih buruk lagi mengingat kekuatan mereka yang sekarang.
“Tidak berguna!” Nada suara pria berambut sebahu itu bergema seketika itu juga, memecah keheningan di tengah kehancuran area pusat kota ini.
Emosi dalam nadanya terasa jelas, menyalahkan diri sendiri terkadang jadi pelarian tersendiri ketika masalah yang dihadapi terasa berat.
Namun itu bukanlah jalan keluar. Pria berambut sebahu ini hanya merasa belum melakukan yang terbaik. Yang pada kenyataannya ia malah sudah melakukan apa yang ia bisa sejauh ini.
Namun terlalu memperdulikan perasaan juga tidak bagus, ia tetap harus melihat keadaan di luar demi meminimalisir terjadinya hal yang tidak diinginkan.
“... Ada yang datang....” Dan benar saja, sejenak setelah memerhatikan sekitar, Brock bisa merasakan akan adanya kedatangan seseorang di sini.
SYUT!
“....” Vincent perlahan berdiri dengan segenap kekuatannya, ia juga bisa merasakan hawa kehadiran yang samar-samar.
Keheningan area pusat kota ini tidak berlangsung lama, kini dengan Brock dan Vincent harus bersiap melakukan apapun untuk menghadapi apapun yang akan terjadi.
SHHHH....
Vincent mengangkat satu tangannya ke depan dan seketika itu juga terciptalah llingkaran sihir merah besar, siap untuk mengeluarkan sihir api terbaiknya kapanpun saja, yang di mana tidak bisa dipandang sebelah mata meskipun dengan kondisinya yang seperti ini.
__ADS_1
Tidak peduli seberapa banyak energi yang telah terkuras, tekad yang kuat mengalahkan semua kelemahan yang ada.
SHH....
Brock mengangkat kedua tangannya, dan seketika itu juga lingkaran sihir merah juga tercipta, menggunakan elemen yang sama, hanya saja tidak sebesar rekannya.
Keheningan yang tercipta ini bukan tanpa alasan bisa menjadi pintu masuk musuh untuk mengacau, maka dari itu Vincent dan Brock bersiap-siap untuk segala yang bisa terjadi.
SSSRRRR....
“!” Tiba-tiba tanpa bisa diduga siapapun, muncullah portal putih yang di mana ada satu orang lanjut usia yang datang, dan seketika itu juga Brock dan Vincent bisa tahu siapa yang datang ini.
“A- Anda....” Vincent masih ragu dengan ini, pasalnya ia melihat seorang dengan rambut putih panjang dengan ekspresi serius dan dia punya.... mahkota.
“Raja Kerajaan Timur?” terka Brock sekaligus bertanya, dan orang tua dengan mahkota itu hanya menjawabnya dengan raut wajah yang masih sama seperti sebelumnya.
SH!
Seketika itu juga Vincent dan Brock membatalkan sihir mereka. Siapa sangka yang muncul bukanlah musuh dan malahan sang raja sendiri?
“Mari ikutlah denganku,” ujar sang raja, kemudian memberi tanda pada Brock dan Vincent agar ikut masuk ke portal.
Brock tidak melihat adanya keanehan. Meski kemunculan sang raja dengan tiba-tiba saja sudah aneh, maka bisa saja berbagai kemungkinan bisa terjadi.
Apa yang bisa menjelaskan sang raja malah tiba-tiba muncul di sini? Dari mana saja selama ini? Selama penyerangan besar ke pusat kota ini?
Tidak salah bilamana kecurigaan muncul berdasar fakta itu. Apakah yang datang sebelumnya adalah benar-benar sang raja? Ataukah orang lain?
Tidak sulit bagi musuh dengan kekuatan anehnya muncul serupa dengan orang lain, bahkan hawa keberadaannya pun bisa saja tidak mencurigakan sama sekali.
Meski terpikir akan semua itu, Brock masih percaya akan keberadaan pria tua dengan mahkota itu adalah sang raja sendiri. Segala kemungkinan yang ada dalam pikiran bisa saja salah, tidak ada gunanya curiga berlebihan.
GREB.
__ADS_1
Brock memapah kedua orang yang lemas itu, sedang Vincent menggendong Patricia yang keadaannya malah makin mengkhawatirkan, masuk ke dalam portal putih, mengikuti pria tua dengan makhkota sebelumnya.
SYUT!